Chapter Ten
Hari-Hari yang Terlalu Indah
POV: Kenzo
Aku mulai memahami bahwa kebahagiaan sering datang dalam bentuk yang sangat tidak spektakuler.
Tamara duduk di meja makan rumahku sambil berdebat dengan Ibu soal sambal.
“Pedasnya biasa aja, Tante.”
Ibu menatapnya. “Kenzo tadi bilang kamu nggak kuat pedas.”
Tamara menoleh kepadaku.
Aku pura-pura fokus pada nasi.
“Kenzo.”
“Hm?”
“Kamu ngapain ngomong?”
“Informasi keselamatan.”
Ibu tertawa.
Tamara menendang kakiku pelan di bawah meja.
Ini pertama kalinya dia datang ke rumah. Aku sempat khawatir dia akan merasa tidak nyaman. Rumah kami tidak besar. Ruang makan menyatu dengan dapur. Ayah sedang memperbaiki engsel lemari sejak tadi pagi meski Ibu sudah bilang panggil tukang saja.
Tamara justru terlihat terlalu nyaman.
Dia membantu Ibu membawa piring tanpa diminta, mengobrol dengan Ayah tentang mobil, lalu tertawa ketika Ibu menunjukkan fotoku waktu SMP.
“Bu.”
“Apa?”
“Kenapa dikeluarin?”
“Tamara mau lihat.”
“Aku mau banget,” kata Tamara.
Pengkhianatan terjadi di rumah sendiri.
Setelah makan kami pindah ke ruang keluarga. Ayah dan Ibu pergi membeli sesuatu, meninggalkan kami berdua.
Tamara duduk di sofa sambil masih melihat foto di ponselnya.
“Kamu dulu lucu.”
“Dulu?”
“Sekarang lumayan.”
Aku mengambil ponselnya.
“Eh.”
“Cukup.”
Tamara mencoba merebut. Aku mengangkat tangan lebih tinggi.
“Kenzo.”
“Apa?”
“Balikin.”
“Nggak.”
Dia maju, hampir menindihku untuk meraih ponsel.
Aku menahan pinggangnya agar dia tidak jatuh.
Kami berhenti.
Jarak wajah kami dekat.
Tamara melihat tanganku di pinggangnya, lalu kembali menatapku.
Senyumnya muncul.
“Kenapa?”
“Gue mencegah lo jatuh.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Itu masalahnya.”
Tamara mendekat dan menciumku.
Aku membalas.
Ciuman yang awalnya cuma satu berubah menjadi lebih lama. Tamara memegang kerah kausku. Tanganku tetap di pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat.
Dia menjauh beberapa senti.
“Udah?”
Aku menatapnya.
Kalimat yang sama seperti ciuman pertama kami.
Kali ini aku tidak kehilangan jawaban.
Aku menarik pinggangnya kembali.
“Jangan nantang.”
Senyum Tamara sempat hilang.
Sekarang giliranku yang menikmati ekspresinya.
“Apa?” tanyaku.
“Nggak.”
“Katanya udah?”
“Kenzo.”
Aku tertawa pelan lalu mencium dia lagi.
Beberapa saat kemudian kami akhirnya berhenti. Tamara menyandarkan kepala di bahuku sambil memainkan jariku.
“Bahaya juga ternyata.”
“Siapa?”
“Kamu.”
“Gue dari dulu begini.”
“Bohong.”
Aku mencium keningnya.
Tamara diam sebentar.
“Ken.”
“Hm?”
“Aku suka rumah kamu.”
Aku menoleh. “Kenapa?”
“Hangat.”
Jawaban itu membuatku diam.
Tamara melanjutkan, “Tante Ratih lucu. Om Farid juga.”
“Ayah gue ngomong sepuluh kalimat aja belum dari tadi.”
“Justru. Tapi pas Tante nyari gunting, dia langsung tahu tempatnya.”
Aku tersenyum.
“Udah hafal.”
“Kayak kamu.”
“Apa?”
“Kamu juga suka tahu sebelum aku bilang.”
Aku mengangkat bahu.
Tamara mencubit jariku. “Nah. Gitu. Dianggap biasa.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Sore menjelang malam ketika aku mengantarnya ke mobil.
Tamara memelukku sebelum masuk.
Kali ini tubuhku tidak kaku.
Tanganku otomatis mengelilinginya.
“Besok ketemu?” tanyanya.
“Besok Senin.”
“Ya makanya.”
“Di kampus.”
“Aku tahu.”
Aku tertawa. “Iya.”
Tamara mundur, lalu menciumku sekali.
“Bye, pacar.”
“Bye.”
Aku berdiri sampai mobilnya keluar dari halaman.
Ketika masuk rumah, Ibu sudah kembali.
“Tamara pulang?”
“Udah.”
Ibu mengangguk sambil memasukkan belanjaan ke lemari.
“Anaknya baik.”
“Hm.”
Ibu menoleh. “Kamu seneng?”
Pertanyaan sederhana.
Aku tidak perlu berpikir.
“Iya.”
Malamnya aku berbaring sambil membaca pesan Tamara.
Tamara: Makasih hari ini.
Tamara: Aku seneng banget.
Kenzo: Gue juga.
Tamara: Sayang kamu.
Aku tersenyum.
Kenzo: Sayang lo juga.
Beberapa bulan lalu, kalau seseorang bilang aku akan membaca kalimat seperti itu dari Tamara Seindika, mungkin aku akan menganggapnya bercanda.
Sekarang aku tidak lagi merasa sedang memegang sesuatu yang seharusnya bukan milikku.
Tamara memilih berada di sini.
Aku juga.
Dan untuk pertama kalinya sejak menyukainya, pikiran yang muncul bukan lagi bahwa aku terlalu biasa untuk berdiri di sisinya.
Mungkin gue memang boleh sebahagia ini.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah reading
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku