Chapter Thirty Four
Orang yang Lebih Baik
POV: Tamara
Nadira yang meminta bicara.
Aku sempat takut.
Bukan karena mengira dia akan menyerang.
Justru karena aku sudah tahu dia bukan orang seperti itu.
Kami bertemu di sisi belakang gedung perpustakaan setelah kelas.
Nadira datang membawa minuman.
“Gue suka Kenzo,” katanya tanpa pembukaan.
Aku menelan.
“Udah lama.”
Aku mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
Dia mengangkat alis.
“Kelihatan?” tanyanya.
“Kalau pernah ngerasain sendiri, mungkin.”
Nadira tertawa kecil.
“Tenang. Waktu kalian pacaran gue nggak pernah ngapa-ngapain.”
“Aku tahu.”
Jawabanku membuatnya diam.
Aku melanjutkan, “Aku nggak pernah mikir kamu ngerebut.”
Nadira menatapku cukup lama.
“Bagus.”
Ada jeda.
Aku menggenggam botol minum.
“Dia tahu?”
“Sekarang tahu.”
Dadaku sakit.
Aku membiarkannya.
“Terus?”
“Ditolak.”
Aku langsung menatapnya.
Nadira tertawa kecil. “Jangan pasang muka kasihan. Gue masih punya harga diri.”
“Sorry.”
“Nah. Itu juga jangan.”
Aku hampir tersenyum.
Kami berdiri dalam sunyi yang aneh.
Dua perempuan yang mencintai laki-laki yang sama.
Tapi tidak ada yang terasa seperti kompetisi.
Mungkin karena Kenzo bukan hadiah.
Nadira akhirnya berkata, “Tahu apa yang paling bikin gue iri sama lo?”
Aku menggeleng.
“Bukan karena dia pernah jadi pacar lo.”
Aku menunggu.
“Tapi karena lo pernah punya seseorang kayak dia...”
Matanya menatapku lurus.
“...dan sempat mengira lo bisa dapat yang lebih baik.”
Kalimat itu masuk tanpa bisa kutahan.
Aku tidak membela diri.
Tidak ada yang bisa kubela.
“Aku tahu.”
Nadira terlihat sedikit terkejut.
Aku tertawa pahit.
“Sekarang aku justru nggak tahu apa aku masih cukup baik buat dia.”
Nadira menggeleng.
“Bukan urusan gue nentuin itu.”
Aku menatapnya.
“Kenzo yang mutusin.”
Benar.
Bukan teman-temanku.
Bukan Nadira.
Bukan aku sendiri.
Kenzo.
Dan untuk pertama kalinya aku sadar bahkan pikiran “apa aku cukup baik” masih menggunakan bahasa ranking yang sama seperti dulu.
Seolah salah satu dari kami harus lebih tinggi.
Padahal bukan itu.
Aku tidak perlu menjadi lebih baik daripada Nadira.
Aku perlu menjadi lebih baik daripada Tamara yang dulu menyakiti Kenzo.
Nadira meminum sedikit.
“Kalau dia masih pilih lo setelah semuanya...”
Aku menunggu.
“Jangan bikin gue nyesel nggak pernah nyoba ngerebut dia.”
Aku tertawa kecil dengan mata panas.
“Nggak akan.”
Nadira mengangkat alis. “Pede banget bakal dipilih.”
Aku langsung panik. “Bukan gitu.”
Dia tertawa.
Aku ikut tertawa.
Tegangnya pecah.
Sebelum pergi, aku memanggilnya.
“Dira.”
“Hm?”
“Makasih.”
“Buat?”
“Udah ada waktu dia lagi nggak punya aku.”
Ekspresi Nadira berubah.
“Gue ada buat Kenzo. Bukan buat gantiin lo.”
Aku mengangguk.
“Iya. Makanya makasih.”
Dia menatapku beberapa detik, lalu mengangguk.
Setelah Nadira pergi, aku berdiri sendiri.
Aneh.
Aku baru saja bicara dengan perempuan yang mungkin secara objektif lebih aman untuk Kenzo.
Dia tidak pernah malu.
Tidak pernah menyakitinya seperti aku.
Tidak punya sejarah buruk.
Dan tetap saja keputusan itu bukan milikku.
Aku mengeluarkan ponsel.
Tidak mengirim pesan kepada Kenzo.
Tidak perlu.
Aku sudah mengatakan kangen.
Sudah meminta maaf.
Sudah menunjukkan apa yang bisa kutunjukkan.
Sekarang ada satu hal yang harus kulakukan.
Terus menjadi orang yang lebih baik bahkan ketika tidak ada jaminan dia akan melihat.
Karena perubahan yang hanya hidup selama aku sedang mengejar Kenzo bukan perubahan.
Itu strategi.
Aku tidak mau strategi.
Aku mau kalau suatu hari Kenzo melihatku lagi, dia melihat Tamara yang tidak membutuhkan suara siapa pun untuk tahu siapa yang ingin dia pilih.
Dan kalau ternyata pilihannya bukan aku—
aku tetap ingin menjadi perempuan itu.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik reading
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku