← Besok, Jam Tujuh

Chapter Fourteen

Aku Tunggu di Parkiran

POV: Kenzo

Aku mulai menunggu di parkiran.

Bukan depan kelas.

Bukan lobi gedung.

Parkiran.

Tempat yang cukup jauh dari circle Tamara untuk membuat semuanya lebih mudah.

Aku tidak pernah mengatakan alasan sebenarnya.

Kenzo: Aku tunggu di parkiran aja.

Tamara membalas satu menit kemudian.

Tamara: Oke.

Tidak ada pertanyaan.

Itu cukup menjawab banyak hal.

Sore itu Tamara masuk ke mobil dan langsung menatapku.

“Kamu capek?”

“Nggak.”

“Kok diem?”

“Gue emang diem.”

Dia mendesah. “Bener juga.”

Aku tersenyum.

Kami makan di tempat biasa. Hanya berdua.

Tamara kembali menjadi Tamara yang kukenal.

Dia mencuri kentangku.

Mengeluh soal tugas.

Menaruh kakinya di dekat kakiku di bawah meja.

Ketika pulang, dia menciumku cukup lama sampai aku hampir lupa kenapa beberapa hari terakhir terasa berbeda.

Tanganku berada di pinggangnya.

Tamara mendekat.

Aku membalas.

Masih ada rasa yang sama.

Masih ada chemistry yang sama.

Itulah yang membuat semuanya lebih membingungkan.

Ketika kami berpisah, Tamara menyandarkan dahi ke dahiku.

“Aku sayang kamu.”

“Gue juga.”

Dan aku percaya.

Masalahnya bukan itu.

Beberapa hari berikutnya aku mulai melakukan sesuatu tanpa benar-benar merencanakannya.

Kalau Tamara bersama teman-temannya, aku tidak menghampiri lebih dulu.

Kalau ada gathering, aku menunggu dia mengajak.

Kalau kami berjalan di tempat ramai, aku tidak langsung mengambil tangannya.

Aku memberi ruang.

Tamara terlihat lebih santai.

Setiap kali melihat itu, ada bagian kecil dalam diriku yang terasa semakin dingin.

Nadira menangkap perubahan lebih cepat daripada Raka.

Kami sedang makan bertiga ketika dia bertanya, “Tamara mana?”

“Ada acara.”

“Lo nggak ikut?”

“Nggak.”

Nadira mengangguk. Tidak bertanya lagi.

Raka justru berkata, “Tumben.”

Aku mengambil minum.

“Kenapa harus ikut semua?”

“Nggak harus.”

Selesai.

Aku menghargai mereka karena tidak mengorek.

Malam itu Tamara menelepon.

“Ken.”

“Hm?”

“Kamu marah sama aku?”

Aku menatap langit-langit kamar.

“Nggak.”

“Serius?”

“Iya.”

Ada jeda.

“Kenapa aku merasa kamu beda?”

Aku hampir tertawa karena ironinya.

“Gue cuma lagi kasih lo ruang.”

“Aku nggak minta ruang.”

Kalimat itu membuatku duduk lebih tegak.

“Terus?”

Tamara diam.

Aku menunggu.

“Nggak tahu.”

Aku menutup mata sebentar.

“Mar.”

“Hm?”

“Kalau ada apa-apa, bilang.”

“Iya.”

“Jangan dipendem.”

“Iya.”

Aku sadar aku meminta sesuatu yang juga tidak kulakukan.

Tapi aku belum punya kalimat yang tepat untuk mengatakan:

Gue merasa lo masih sayang gue ketika cuma ada kita berdua, tapi mulai nggak nyaman punya gue ketika orang lain melihat.

Kalimat itu terdengar terlalu besar.

Terlalu menuduh.

Mungkin aku salah.

Mungkin Tamara hanya capek.

Mungkin circle-nya sedang banyak acara.

Mungkin aku terlalu sensitif karena sejak awal sudah tahu orang akan bertanya bagaimana aku bisa berada di sisinya.

Aku memilih kemungkinan yang paling tidak menyakitkan.

“Udah malam,” kataku. “Tidur.”

“Kamu juga.”

“Good night.”

“Good night. Sayang kamu.”

Aku menelan sesuatu.

“Sayang lo juga.”

Telepon berakhir.

Aku menatap layar yang gelap.

Kebaikan kadang berarti memberi orang ruang.

Setidaknya selama ini aku percaya begitu.

Aku belum sadar bahwa ada saatnya memberi terlalu banyak ruang hanya membuat dua orang semakin jauh.