← Besok, Jam Tujuh

Chapter Twenty Four

Bukan Salah Mereka

POV: Kenzo

Ayah jarang memberikan nasihat kalau tidak diminta.

Mungkin karena itu ketika dia bicara, aku biasanya mendengar.

Kami sedang memperbaiki engsel pintu belakang ketika dia bertanya, “Kuliah aman?”

“Aman.”

“Teman?”

“Aman.”

Dia mengencangkan sekrup.

“Tamara?”

Tanganku berhenti.

“Udah nggak.”

Ayah mengangguk.

Tidak ada ekspresi besar.

“Kamu yang putusin?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku hampir menjawab “panjang”.

Tapi entah kenapa hari itu aku ingin mencoba sesuatu yang selama ini buruk kulakukan.

Bicara.

“Dia mulai nggak nyaman kelihatan sama aku.”

Ayah berhenti bekerja.

“Karena?”

“Orang-orang ngomong kami nggak cocok.”

“Hm.”

Aku tertawa kecil. “Turunan ternyata.”

Ayah melihatku.

“Nggak apa.”

Kami kembali bekerja.

Beberapa menit kemudian dia berkata, “Kamu nyesel?”

Aku berpikir.

“Kangen.”

“Beda.”

“Iya.”

Aku mengencangkan baut terlalu keras.

Ayah mengambil obeng dari tanganku sebelum kepala baut rusak.

“Kalau orang salah sama kamu, itu bukan berarti semua yang mereka pikir tentang kamu benar.”

Aku diam.

Ayah melanjutkan seolah sedang bicara soal engsel.

“Tapi kalau kamu nggak pernah bilang kamu sakit, orang juga belum tentu tahu seberapa parah.”

Kalimat kedua mengenai tempat yang berbeda.

Aku menatapnya.

Ayah mengangkat bahu. “Kamu mirip Papa.”

Itu mungkin bukan pujian.

Aku tertawa.

Malamnya aku memikirkan percakapan itu.

Tamara salah.

Itu jelas.

Dia mendengar orang lain.

Menjauh.

Membuatku merasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan.

Tapi aku juga diam terlalu lama.

Aku melihat perubahan sejak Bab—tidak, sejak berminggu-minggu sebelum putus.

Aku bilang tidak apa-apa.

Aku menunggu di parkiran.

Aku memberi ruang.

Aku berharap Tamara mengerti sesuatu yang bahkan tidak pernah kuucapkan dengan benar.

Kesalahan kami tidak sama.

Aku tidak ingin membuatnya sama.

Tapi mengakui bagianku terasa penting.

Bukan untuk kembali.

Untuk diriku sendiri.

Keesokan harinya Raka mengeluh karena salah satu anggota kelompok kembali tidak mengerjakan bagian.

“Gue bunuh aja ya?”

“Nanti project-nya makin telat.”

“Berarti setelah submit.”

“Silakan.”

Nadira tertawa.

Aku membantu mereka menyusun ulang jadwal.

Di tengah pekerjaan, aku sadar aku tidak memikirkan Tamara sejak bangun.

Baru sekarang.

Anehnya, kesadaran itu tidak langsung membuatku sedih.

Aku cuma mencatatnya dalam kepala.

Kemajuan kecil.

Sore aku melihat Tamara dari jauh.

Dia sedang bicara dengan Keisha.

Cantik seperti biasa.

Dadaku masih bergerak.

Masih ada rasa.

Tapi kali ini tidak ada pertanyaan:

Apa gue kurang?

Aku tahu jawabannya mulai berubah.

Mungkin aku tidak sekaya orang-orang di sekitarnya.

Tidak sepopuler Adrian.

Tidak punya sesuatu yang membuat satu ruangan otomatis menoleh.

Tapi aku datang kalau berjanji datang.

Aku mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabku.

Aku menjaga orang yang kusayang.

Aku bisa berkata tidak.

Aku bisa belajar.

Aku bisa salah.

Aku bisa terluka.

Dan semua itu tetap ada meskipun Tamara tidak lagi menjadi pacarku.

Malamnya aku membuka chat kami.

Tidak untuk mengirim pesan.

Aku hanya melihat sebentar, lalu menutup.

Tidak ada dorongan untuk membaca ke atas.

Aku meletakkan ponsel.

Mungkin sembuh bukan ketika aku berhenti mencintainya.

Mungkin sembuh dimulai ketika aku berhenti memakai kepergiannya sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang salah denganku.