Chapter Four
Dunia Kecil Kenzo
POV: Tamara
Aku sudah sering bertemu laki-laki yang terlalu berusaha terlihat tidak tertarik.
Biasanya gampang ketahuan. Mereka sengaja tidak melihat, sengaja menjawab pendek, lalu lima menit kemudian muncul lagi dengan alasan yang dibuat-buat.
Kenzo berbeda.
Dia memang tidak mengejar.
Itu justru membuatku penasaran.
“Kamu nggak pernah capek jawab hm?” tanyaku suatu siang di perpustakaan.
Kenzo tidak mengangkat kepala dari laptop. “Hm.”
Aku menatapnya.
Sudut bibirnya bergerak.
“Nyebelin.”
“Katanya nanya.”
Aku menggeser kursi lebih dekat untuk melihat layar. Kami sedang mengerjakan tugas kelas umum yang sebenarnya bisa kukerjakan sendiri, tetapi bagian analisis datanya membuat kepalaku sakit.
“Yang ini kenapa hasilnya beda?”
Kenzo menunjuk satu baris. “Karena kamu masukin angka yang salah.”
“Mana?”
“Itu.”
Aku mendekat lagi. Bahu kami hampir bersentuhan.
Kenzo sedikit kaku.
Aku menahan senyum.
Oh.
Menarik.
“Yang mana?” tanyaku, padahal sudah melihat.
Kenzo menggeser laptop sedikit. “Tiga puluh dua. Harusnya dua puluh tiga.”
“Bedanya cuma kebalik.”
“Makanya hasilnya cuma hancur.”
Aku tertawa.
Dia menjelaskan ulang tanpa nada meremehkan. Tidak pernah ada ekspresi seolah aku bodoh karena tidak mengerti. Ketika aku akhirnya mendapatkan jawabannya sendiri, dia cuma mengangguk.
“Nah.”
“Nah apanya?”
“Bisa.”
Sesederhana itu, tetapi anehnya aku senang.
Selesai belajar, kami turun ke kantin belakang. Raka dan Nadira sudah ada. Seorang mahasiswa junior menghampiri Kenzo dengan laptop terbuka dan wajah panik.
“Kak, maaf. Boleh nanya bentar?”
Kenzo melihat jam. “Kenapa?”
“Ini nggak jalan dari tadi.”
Dia mengambil laptop itu. Lima menit kemudian dia menemukan masalahnya, lalu mengembalikan.
“Bagian ini jangan dicopy mentah. Coba pahamin alurnya dulu.”
Junior itu mengangguk berkali-kali. “Makasih banget, Kak.”
“Ya.”
Kenzo kembali makan seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku memandangnya.
“Apa?” tanyanya.
“Nggak.”
“Kenapa lihat-lihat?”
Aku tersenyum. “Kamu ternyata lumayan berguna.”
Raka langsung tertawa.
Kenzo menatapku datar. “Makasih. Pujian terbaik hari ini.”
“Aku serius.”
“Lebih parah.”
Aku mengambil kentang dari piringnya.
“Eh.”
“Sekarang bayarannya.”
“Itu punya gue.”
“Sekarang punya aku.”
Raka menunjukku. “Nah! Ini yang kemarin gue rasain.”
Keisha datang menyusul dan duduk di sebelahku. Beberapa menit kemudian dia mengajakku pindah ke kafe depan kampus karena ada teman lain menunggu.
Aku hampir mengiyakan.
Lalu melihat gelas Kenzo masih setengah penuh.
“Lo duluan aja, Kei. Gue nyusul.”
Keisha mengangkat alis. Matanya berpindah dari aku ke Kenzo.
“Oke.”
Aku tahu ekspresi itu. Nanti pasti ada interogasi.
Benar saja.
Malamnya pesan Keisha masuk.
Keisha: Mar.
Keisha: Lo suka Kenzo?
Aku menatap layar.
Pertanyaan itu seharusnya gampang dijawab.
Tamara: Nggak tahu.
Balasan datang cepat.
Keisha: Nggak tahu tuh biasanya iya 😭
Aku meletakkan ponsel di dada.
Kenzo tidak seperti laki-laki yang biasanya menarik perhatianku. Dia tidak memenuhi ruangan ketika masuk. Tidak banyak bicara. Tidak punya kebutuhan aneh untuk terlihat paling hebat.
Tapi aku mulai hafal hal-hal kecil.
Cara dia menahan senyum sebelum melempar komentar menyebalkan. Cara dia otomatis menggeser barang agar orang lain punya tempat. Cara dia mendengarkan sampai orang selesai bicara. Cara dia bisa bilang tidak tanpa membuat orang merasa dipermalukan.
Dan yang paling mengganggu—
aku mulai mencari dia.
Kalau masuk kantin, mataku mencari meja belakang.
Kalau kelas umum dimulai, aku mengecek kursinya.
Kalau ponsel berbunyi setelah aku mengirim pesan, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap namanya muncul.
Keisha: Jadi?
Aku mengetik.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Tamara: Aku cuma penasaran sama dia.
Keisha mengirim emoji tertawa.
Aku mematikan layar.
Besoknya aku datang ke kelas lebih awal.
Ada banyak tempat kosong.
Kenzo masuk bersama Raka dan Nadira beberapa menit kemudian.
Tanpa memikirkannya terlalu lama, aku mengangkat tangan.
“Kenzo.”
Dia menoleh.
Aku menunjuk kursi di sebelahku.
“Di sini.”
Dia melihat kursi itu, lalu aku.
Dan saat dia berjalan mendekat, aku akhirnya mengakui sesuatu yang sejak beberapa hari lalu berusaha kusebut sekadar penasaran.
Aku memang ingin dia duduk di sebelahku.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo reading
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku