Chapter Eleven
Gue Cuma Nanya
POV: Tamara
Kalau ada satu hal yang kusukai dari Kenzo, itu dia tidak pernah berubah hanya karena sedang berada di depan orang lain.
Di kantin belakang dia Kenzo.
Di rumahnya dia Kenzo.
Di depan teman-temanku pun tetap Kenzo.
Mungkin itu sebabnya komentar pertama terasa begitu mudah kutertawakan.
Kami sedang makan di kafe depan kampus bersama Keisha dan Vanessa ketika Vanessa tiba-tiba berkata, “Gue masih nggak nyangka sih.”
Aku berhenti mengaduk minuman. “Apanya?”
“Lo sama Kenzo.”
Kenzo sedang di kasir, cukup jauh untuk tidak mendengar.
“Kenapa emangnya Kenzo?”
“Nggak kenapa-kenapa.” Vanessa mengangkat kedua tangan. “Dia baik. Gue cuma kira tipe lo bakal... beda.”
“Beda gimana?”
Keisha menyela, “Van, udah.”
“Apa? Gue nggak ngejelekin.”
Aku menatap Vanessa.
Dia memang tidak terlihat sedang mengejek. Justru itu yang aneh.
“Gue cuma mikir,” lanjutnya, “lo kan bisa dapet siapa aja.”
Aku tertawa pendek. “Terus?”
“Ya nggak ada terusnya.”
Kenzo kembali membawa dua gelas.
“Punya lo,” katanya sambil menaruh minuman di depanku.
“Thanks.”
Dia duduk.
“Apa?” tanyanya setelah melihat kami diam.
“Nggak ada,” jawabku.
Vanessa langsung mengubah topik.
Beberapa menit kemudian Kenzo menyentuh gelasku.
“Jangan.”
Aku menepis tangannya.
“Punya gue.”
“Kemarin minum gue diambil.”
“Itu kemarin.”
“Aturannya berubah tiap hari?”
“Iya.”
Kenzo menatapku datar, lalu mengambil satu teguk juga.
Aku memukul lengannya.
Dia tertawa.
Komentar Vanessa hilang begitu saja.
Atau kukira begitu.
Beberapa hari kemudian aku mendengar versi lain.
“Serius lo pacaran sama Kenzo Alghifari?”
Aku menoleh pada seorang teman lama yang baru tahu.
“Iya.”
“Yang anak SI?”
“Iya.”
Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu.
“Apa?”
“Nggak. Gue kira rumor.”
“Kenapa semua orang kira hubungan gue rumor?”
Dia tertawa. “Bukan gitu. Cuma... unexpected.”
Aku menghela napas.
“Kenapa emangnya Kenzo?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Kalimat yang sama.
Malamnya aku sedang video call dengan Kenzo. Dia mengerjakan tugas sambil sesekali menjawabku.
“Ken.”
“Hm?”
“Kalau orang ngomongin kita, kamu peduli nggak?”
Tangannya berhenti mengetik.
“Ngomong apa?”
“Kayak... mereka nggak nyangka kita pacaran.”
Kenzo mengangkat bahu. “Nggak terlalu.”
“Kenapa?”
“Yang pacaran kita.”
Sesederhana itu.
Aku tersenyum. “Bener juga.”
“Emang ada yang ngomong aneh?”
Aku hampir menceritakan semuanya.
Tapi rasanya terlalu sepele.
“Nggak. Cuma nanya.”
Kenzo menatap layar beberapa detik.
“Kalau ada yang bikin lo nggak nyaman, bilang.”
“Iya.”
“Jangan dipikirin sendiri.”
Aku tertawa kecil. “Kamu juga.”
“Hm.”
“Tuh.”
“Apa?”
“Hm lagi.”
Kenzo tersenyum.
Akhir pekan itu kami menghadiri acara kampus. Adrian datang menyapa ketika aku dan Kenzo sedang berdiri dekat booth.
“Mar.”
“Hai.”
Adrian kemudian menoleh pada Kenzo. “Zo. Sistem kemarin aman?”
“Aman.”
“Nice.”
Mereka ngobrol sebentar tentang acara.
Aku memperhatikan mereka berdiri berdampingan.
Adrian tinggi, rapi, mudah bicara, dan punya jenis kepercayaan diri yang membuat orang otomatis mendengarkan.
Kenzo lebih tenang. Tidak mencoba mengambil ruang. Tapi ketika bicara, Adrian benar-benar mendengarkan.
Setelah Adrian pergi, seorang kenalan berbisik kepadaku sambil bercanda, “Nah, kalau sama Adrian baru gue nggak kaget.”
Aku langsung menatapnya.
“Kenapa?”
“Ya cocok aja.”
Kenzo sedang melihat booth lain dan tidak mendengar.
Aku menjawab cepat, “Gue sama Kenzo juga cocok.”
“Ya iya. Jangan galak.”
Dia tertawa lalu pergi.
Kenzo kembali ke sisiku.
“Kenapa?”
“Nggak.”
Tangannya mencari tanganku.
Aku menggenggam.
Masih sama eratnya.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, satu pertanyaan ikut pulang bersamaku.
Kenapa semua orang merasa perlu bertanya?
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya reading
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku