Chapter Twenty Two
Dunia Tetap Jalan
POV: Tamara
Aku melihat Kenzo tertawa dari seberang kantin.
Bukan senyum sopan.
Bukan tawa pendek yang biasa dia keluarkan kalau Raka mengatakan sesuatu bodoh.
Dia benar-benar tertawa sampai kepalanya sedikit menunduk dan tangannya menutup wajah.
Nadira sedang menunjukkan sesuatu di ponsel. Raka hampir jatuh dari kursi karena ikut tertawa.
Aku berdiri bersama Keisha membawa minuman.
Langkahku melambat.
Hal pertama yang kurasakan adalah sakit.
Tajam dan kekanak-kanakan.
Dia udah bisa ketawa begitu.
Pikiran berikutnya bahkan lebih buruk.
Cepat banget.
Aku berhenti.
Malu langsung menyusul.
Keisha menatapku. “Mar?”
Aku menggeleng. “Nggak.”
Kami memilih meja lain.
Aku masih bisa mendengar suara mereka sesekali.
Kenzo baik-baik saja.
Seharusnya aku senang.
Aku yang membuat dia harus belajar baik-baik saja tanpa aku.
Kenapa aku justru berharap dia masih duduk sendirian dan memikirkan kami?
Aku menunduk menatap minuman.
Karena kalau dia masih sakit, berarti aku masih penting.
Kesadaran itu membuatku mual.
Aku tidak ingin mencintai seseorang dengan cara seperti itu.
Sepulang kelas, aku duduk di mobil cukup lama.
Ada gantungan kecil di dashboard yang pernah Kenzo betulkan ketika talinya putus. Aku bahkan sudah lupa dia yang memperbaikinya.
Sekarang aku ingat.
Aku mulai melihat bekas-bekasnya di mana-mana.
Playlist yang dia buat karena aku pernah bilang bosan menyetir.
Payung kecil yang dia paksa taruh di bagasi.
Charger cadangan.
Bungkus permen yang dia suka.
Bukan hadiah besar.
Cuma hal-hal yang perlahan masuk ke hidupku sampai aku menganggapnya bagian dari furnitur.
Ponselku berbunyi.
Keisha.
Keisha: Lo gapapa?
Aku mengetik.
Tamara: Nggak tahu.
Keisha: Mau gue telepon?
Aku hampir bilang iya.
Lalu memilih tidak.
Tamara: Nanti aja. Aku mau sendiri dulu.
Aku membuka galeri.
Foto Kenzo masih banyak.
Aku tidak menghapus.
Belum sanggup.
Satu foto membuatku berhenti: Kenzo sedang tidur di sofa rumahnya, kepalaku bersandar di bahunya. Foto itu diambil Ratih diam-diam dan dikirim kepadaku.
Aku ingat hari itu.
Aku ingat betapa aman rasanya.
Aku juga ingat beberapa minggu setelahnya aku mulai menjaga jarak ketika orang lain melihat.
Air mataku turun.
Bukan karena aku baru sadar masih mencintainya.
Aku sudah tahu.
Yang mulai kusadari adalah betapa egoisnya beberapa perasaanku setelah putus.
Aku ingin Kenzo baik-baik saja.
Kalimat itu terasa menyakitkan.
Tapi aku mengulangnya.
Aku ingin Kenzo baik-baik saja.
Bahkan kalau caranya adalah tertawa bersama Raka dan Nadira tanpa aku.
Bahkan kalau suatu hari nanti namaku tidak lagi membuatnya berhenti.
Aku menangis lebih lama setelah memikirkan bagian terakhir.
Mungkin aku belum cukup baik untuk benar-benar menerimanya.
Tapi setidaknya sekarang aku tahu ke arah mana aku harus belajar.
Besoknya aku kembali melihat Kenzo di koridor.
Dia sedang membantu seorang junior membawa sesuatu.
Kenzo menoleh dan melihatku.
Kami saling mengangguk.
Tidak ada percakapan.
Kali ini ketika dia pergi, aku tidak berharap dia menoleh kembali.
Aku cuma berdiri dan berpikir sesuatu yang dulu tidak pernah perlu kupikirkan.
Semoga hari ini kamu benar-benar baik-baik saja, Ken.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan reading
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku