Chapter Forty One
Kali Ini Bilang
POV: Kenzo
Dua hari Tamara sibuk.
Aku tahu.
Dia sudah bilang dari awal ada event jurusan.
Hari pertama balasannya lambat.
Hari kedua rencana makan malam batal.
Tamara: Ken, sorry banget. Kayaknya sampai malam.
Kenzo: Santai. Selesaiin dulu.
Kalimat itu terlalu familiar.
Aku meletakkan ponsel.
Secara logika tidak ada masalah.
Tamara sibuk.
Bukan menjauh.
Aku tahu bedanya.
Tapi tubuh kadang mengingat sebelum kepala sempat menjelaskan.
Malam itu aku membuka chat dua kali tanpa alasan.
Besoknya Tamara menemukanku di kantin.
“Ken.”
“Hm?”
Dia duduk di depan.
“Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Tamara langsung menggeleng. “Jangan.”
Aku berhenti.
Kalimat lama.
Aku hampir mengatakan beneran.
Hampir.
Lalu teringat semua yang kami janjikan.
Aku menarik napas.
“Gue tahu lo sibuk.”
Tamara menunggu.
“Dan gue tahu ini beda.”
“Iya.”
“Cuma dua hari kemarin bikin gue kepikiran lagi.”
Sulit sekali mengucapkan sesuatu yang sebenarnya sederhana.
Tamara tidak tertawa.
Tidak bilang aku berlebihan.
“Takut aku menjauh?”
Aku menatap meja.
“Sedikit.”
“Oke.”
Aku mengangkat mata. “Oke?”
“Iya.”
“Mar, gue nggak minta lo laporan tiap—”
“Aku tahu.”
Dia mengulurkan tangan di atas meja.
Tidak mengambil tanganku.
Cuma menawarkan.
Aku melihatnya.
Lalu meletakkan tanganku di atas tangannya.
Jemari kami bertaut.
“Berarti lain kali aku kasih tahu lebih jelas,” katanya.
“Lo nggak harus.”
“Aku mau.”
Aku diam.
Tamara mengusap ibu jarinya di punggung tanganku.
“Dan kalau kepikiran lagi, bilang. Jangan nunggu aku nebak.”
Aku mengangguk.
Aneh.
Masalah yang dua tahun lalu mungkin akan kupendam berhari-hari selesai dalam lima menit.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada ancaman.
Aku bahkan merasa sedikit bodoh.
Tamara tersenyum. “Udah mendingan?”
“Hm.”
“Masih?”
“Dikit.”
Dia pindah kursi ke sebelahku.
“Ya udah. Sini.”
Untuk sekali ini aku yang menyandarkan kepala ke bahunya.
Tamara tertawa pelan.
“Kenapa?”
“Nggak. Seneng aja.”
Tangannya memainkan rambutku.
Aku membiarkan.
Malamnya kami menghadiri gathering kecil setelah event selesai. Keisha, Vanessa, Adrian, dan beberapa kenalan lama ada.
Tamara terlihat lelah. Dia duduk dekat dan langsung menyandarkan kepala ke bahuku.
Vanessa melihat.
“Kalian sekarang parah banget.”
Tamara tidak bergerak. “Kenapa?”
“Nempel terus.”
“Capek.”
“Kursi ada sandarannya.”
Tamara merangkul lenganku. “Yang ini lebih enak.”
“Gue manusia.”
“Multifungsi.”
Adrian tertawa.
Kemudian seseorang yang tidak tahu sejarah lengkap kami berkata, “Gue masih heran sih kalian balikan.”
Suasana berubah sedikit.
Tamara tetap di tempatnya.
“Kenapa?” tanyanya.
Orang itu mengangkat bahu. “Nggak tahu. Lo kan bisa—”
“Bisa apa?”
Nada Tamara bahkan tidak marah.
Orang itu kehilangan kelanjutan.
Tamara mengambil minumannya.
Selesai.
Aku melihatnya.
Tamara sadar.
“Apa?”
Aku menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Dia menyipitkan mata.
Aku tertawa. “Yang ini beneran.”
Dalam perjalanan pulang, Tamara menyetir.
Tangannya berada di konsol tengah.
Aku melihatnya.
Lalu mengambil.
Tamara tidak menoleh. Dia hanya membalik telapak dan menyelipkan jemarinya di antara jemariku.
Aku menatap jalan.
Komentar orang tadi bahkan sudah tidak kuingat.
Yang kurasakan hanya tangan Tamara.
Dulu aku mengira menjadi kuat berarti tidak membutuhkan reassurance.
Sekarang aku tahu itu cuma cara lain untuk sendirian.
Aku bisa bilang takut.
Tamara bisa mendengar.
Kami bisa menyelesaikannya tanpa ada yang pergi.
Mungkin itu bentuk hubungan yang sejak dulu sebenarnya kuinginkan.
Bukan hubungan tanpa luka.
Hubungan di mana luka tidak harus disembunyikan sampai berubah menjadi alasan untuk melepaskan.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang reading
- 42 Pacarku