Chapter Two
Mulai Diingat
POV: Kenzo
Pesan Nadira masuk tepat ketika dosen meletakkan tas di meja.
Nadira: Zo, absenin gue.
Nadira: Lima menit lagi nyampe. Sumpah.
Aku mengetik satu kata.
Kenzo: Nggak.
Tiga titik langsung muncul.
Nadira: Belum selesai ngomong.
Kenzo: Mau minta diabsenin.
Nadira: Kok tahu?
Kenzo: Tiga kali.
Aku memasukkan ponsel ke saku dan menggeser tas dari kursi kosong di sebelah kanan sebelum mahasiswa lain mengambilnya.
Empat menit kemudian Nadira muncul dengan napas tersengal. Dia masuk tepat sebelum dosen memanggil nama.
Begitu duduk, dia berbisik, “Pelit banget jadi manusia.”
“Masih keburu.”
“Kalau tadi telat?”
“Ya telat.”
Nadira melihat kursi yang tadi kusimpan. “Katanya pelit.”
“Gue bilang nggak mau bohong. Bukan nggak mau nyimpen kursi.”
Dia diam dua detik. “Tetep nyebelin.”
Aku membuka laptop. “Sama-sama.”
Kelas berikutnya adalah kelas umum lintas fakultas. Aku, Raka, dan Nadira datang terlambat tiga menit karena Raka bersikeras membeli kopi.
Hampir semua kursi sudah terisi.
Aku baru menemukan tempat kosong ketika seseorang memanggil dari dua baris depan.
“Kenzo?”
Aku menoleh.
Tamara.
Butuh sepersekian detik untuk menerima fakta bahwa dia tahu namaku.
“Iya?”
Dia menunjuk kursi kosong di belakangnya. “Di sini kosong.”
Raka langsung mendorong punggungku. “Sana.”
Aku menoleh tajam.
“Apa?” katanya polos.
Dosen membagikan studi kasus dan meminta kami berdiskusi dengan orang terdekat. Tamara berbalik bersama seorang temannya.
“Kamu Sistem Informasi, kan?”
“Iya.”
“Berarti ngerti bagian ini?”
Aku melihat lembar yang dia tunjuk. “Harusnya.”
“Harusnya?”
“Kalau nggak ngerti, gue pura-pura ngerti dulu.”
Tamara tertawa.
Aku menjelaskan bagian yang dia tanyakan. Tidak sulit, hanya istilahnya dibuat lebih rumit daripada konsepnya.
“Jadi sebenarnya cuma data yang sama, tapi cara bacanya beda?”
“Kurang lebih.”
“Kenapa dosennya nggak ngomong gitu dari awal?”
“Biar slide-nya kelihatan mahal.”
Dia menutup mulut, menahan tawa karena dosen sedang berjalan di dekat kami.
Lima menit kemudian sebuah pulpen jatuh di dekat kakiku. Aku mengambilnya dan menyentuh bahu Tamara pelan dengan ujung pulpen.
“Punya kamu?”
“Oh.” Dia mengambilnya. Ujung jarinya sempat menyentuh jariku. “Makasih.”
Tidak ada petir. Tidak ada musik. Tanganku cuma terasa sedikit lebih sadar keberadaannya daripada lima detik sebelumnya.
Biasa aja, Zo.
Setelah kelas berakhir, Tamara memasukkan buku ke tas.
“Makasih ya, tadi.”
“Santai.”
“Kalau minggu depan aku nggak ngerti lagi, boleh nanya?”
“Boleh.”
“Oke. Bye, Kenzo.”
“Bye.”
Aku tidak mencoba berjalan bersamanya. Dia pergi bersama temannya, sementara aku menunggu Raka dan Nadira.
Di koridor, seorang mahasiswa menjatuhkan kartu akses. Aku mengambilnya sebelum dia mencapai tangga.
“Mas. Kartunya.”
“Oh, gila. Makasih, Bro.”
Aku menyerahkan lalu lanjut berjalan.
Nadira menyusul. “Lo tuh aneh.”
“Apa lagi?”
“Tamara bilang makasih, muka lo kayak habis menang undian. Orang lain bilang makasih, muka lo kayak petugas loket.”
“Perasaan lo.”
“Perasaan gue akurat.”
Aku mengabaikannya.
Sebelum belokan koridor, kudengar suara Tamara di belakang.
“Kei, yang tadi Kenzo Alghifari, kan?”
Aku tidak menoleh.
Tapi namaku yang keluar dari mulutnya cukup untuk membuat perjalanan menuju kantin terasa sedikit lebih ringan.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat reading
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku