← Besok, Jam Tujuh

Chapter Twenty Six

Normal

POV: Tamara

Aku pernah mengira standar perlakuanku terlalu tinggi karena pernah pacaran dengan Kenzo.

Ternyata bukan begitu.

Sore itu aku duduk di kafe bersama seorang teman laki-laki dari kelas, membicarakan tugas. Tidak ada kencan. Tidak ada flirting. Hanya dua orang yang kebetulan satu kelompok.

Aku sedang menjelaskan bagian presentasi ketika dia memotong.

“Yang ini mending gue aja yang ngomong.”

Aku berhenti. “Kenapa?”

“Biar cepat. Lo nanti bagian opening aja.”

“Oh.”

Tidak ada yang salah.

Dia memang lebih paham bagian itu.

Tapi pikiranku tiba-tiba mengingat Kenzo.

Kalau aku tidak mengerti sesuatu, Kenzo tidak pernah mengambil alih hanya karena lebih cepat.

Dia akan berkata:

Coba lo jelasin dulu yang lo ngerti.

Lalu menunggu.

Aku menggeleng pelan.

“Kenapa?” tanya temanku.

“Nggak. Lanjut.”

Beberapa hari kemudian hal lain terjadi.

Aku bercerita kepada seorang kenalan tentang acara keluarga. Di tengah cerita, ponselnya berbunyi. Dia mengecek, membalas, lalu berkata, “Tadi sampai mana?”

Normal.

Benar-benar normal.

Kenzo juga pernah mengecek ponsel saat aku bicara.

Bedanya dia hampir selalu tahu aku sampai mana.

Aku mulai terganggu oleh perbandingan-perbandingan kecil itu.

Bukan karena semua laki-laki lain buruk.

Justru karena mereka tidak buruk.

Mereka biasa.

Dan semakin banyak interaksi biasa yang kujalani, semakin jelas sesuatu yang dulu kuanggap biasa dari Kenzo ternyata tidak biasa sama sekali.

Suatu siang aku lupa membawa charger.

Refleks pertamaku adalah membuka chat Kenzo.

Aku berhenti sebelum mengetik.

Dulu dia selalu membawa kabel tambahan.

Bukan karena aku.

Dia memang membawa.

Kalau Raka butuh, dipinjamkan.

Kalau Nadira butuh, dipinjamkan.

Aku hanya kebetulan menjadi orang yang paling sering lupa.

Aku menutup chat.

Keisha yang duduk di sebelahku memperhatikan.

“Mau chat Kenzo?”

Aku menggeleng.

“Refleks.”

Keisha diam.

Aku mengeluarkan napas.

“Kei.”

“Hm?”

“Kenzo tuh dari dulu emang begitu ya?”

“Begitu gimana?”

“Perhatiin orang.”

Keisha berpikir.

“Kayaknya.”

Aku tertawa pendek, pahit.

“Aku dulu mikir itu karena aku pacarnya.”

“Mungkin sebagian.”

“Iya. Tapi bukan cuma itu.”

Aku melihat meja.

Dia memperlakukanku spesial.

Tentu.

Tapi fondasinya bukan karena aku cantik, bukan karena dia takut kehilangan, bukan karena sedang berusaha menjadi pacar sempurna.

Kenzo memang mendengarkan.

Kenzo memang datang tepat waktu.

Kenzo memang membantu.

Kenzo memang ingat.

Aku hanya mendapat versi paling dekat dari semua itu.

Dan aku pernah menganggapnya baseline.

Malamnya aku pulang ke rumah dan membuka kulkas.

Ada minuman yang dulu sering dibeli Kenzo.

Aku mengambil satu.

Rasanya sama.

Aku duduk di meja dapur sendirian.

Kenzo bukan baseline.

Kalimat itu muncul begitu saja.

Aku pernah memiliki sesuatu yang langka dan menerimanya seperti sesuatu yang otomatis akan selalu ada.

Air mataku tidak jatuh.

Belum.

Aku hanya duduk dan merasa bodoh.

Yang lebih menyakitkan adalah Kenzo tidak berubah setelah putus.

Dia masih membantu orang.

Masih tertawa dengan teman.

Masih datang ketika berjanji.

Kualitas itu tidak hilang ketika dia berhenti menjadi pacarku.

Berarti selama ini bukan cinta kepadaku yang membuatnya seperti itu.

Itu memang dirinya.

Aku menutup botol.

Untuk pertama kalinya pertanyaan yang dulu terus diberikan orang kepadaku terdengar sangat berbeda.

Lo bisa dapet siapa aja.

Mungkin.

Tapi untuk pertama kalinya aku benar-benar bertanya balik dalam hati:

Terus kenapa aku dulu mengira “siapa aja” berarti lebih baik dari Kenzo?