Chapter Twenty Seven
Sayang
POV: Tamara
Papa yang pertama menyebut namanya.
Kami sedang makan malam bertiga. Mama bercerita tentang acara akhir pekan ketika Papa tiba-tiba bertanya, “Kenzo nggak pernah ke sini lagi?”
Sendokku berhenti.
Mama menoleh kepadaku.
Aku menatap piring.
“Kami udah putus.”
Papa diam sebentar.
“Oh.”
Aku menunggu pertanyaan.
Tidak ada.
Kemudian Papa berkata, “Sayang.”
Aku mengangkat kepala.
“Papa suka dia?”
“Lumayan.”
Jawabannya begitu santai sampai aku hampir tertawa.
“Kenapa?”
Papa berpikir sambil mengambil air.
“Anaknya dengerin orang.”
Aku mengernyit.
“Sesederhana itu?”
“Jarang.”
Mama tersenyum kecil.
Papa melanjutkan, “Waktu Papa cerita soal kerjaan, dia nggak pura-pura ngerti. Dia tanya kalau nggak ngerti. Kalau jawab, nyambung. Anak umur kalian banyak yang sebenarnya cuma nunggu giliran ngomong.”
Aku diam.
Papa menambahkan, “Terus dia nggak kelihatan sibuk bikin Papa suka sama dia.”
Itu sangat Kenzo.
Aku menunduk.
“Kenapa putus?” tanya Mama akhirnya.
Aku merasa tenggorokan mengencang.
“Bukan karena dia.”
Mama menunggu.
Aku tidak ingin berbohong.
“Aku... mulai dengerin omongan orang.”
Papa tidak menyela.
“Mereka bilang kami nggak cocok. Bilang aku bisa dapat yang lebih baik. Awalnya aku marah. Terus lama-lama...” Aku menarik napas. “Aku mulai malu kalau orang lihat kami.”
Sunyi.
Mengucapkannya kepada orang tua membuat semuanya terdengar lebih buruk.
“Kenzo yang putusin?”
Aku mengangguk.
Mama meletakkan sendok.
“Dia marah?”
“Nggak.”
Itu membuat mataku panas.
“Dia malah bilang dia masih sayang aku.”
Mama menatapku lama.
Aku tertawa kecil dengan suara yang tidak stabil.
“Terus dia pergi.”
Papa menghela napas pelan.
Tidak ada yang memarahiku.
Aneh, aku hampir berharap mereka marah.
Lebih mudah kalau ada hukuman.
Setelah makan, Mama masuk ke kamarku.
Aku sedang duduk di tepi tempat tidur.
“Mau balik sama dia?” tanyanya.
Aku menatap tangan.
“Mau.”
“Udah minta maaf?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Aku takut dia nggak mau balik.”
Mama duduk di sampingku.
“Minta maaf bukan supaya dia kembali.”
Aku menoleh.
“Kamu minta maaf karena memang berutang permintaan maaf.”
Kalimat itu membuatku diam.
Aku baru sadar selama ini di kepalaku dua hal itu masih terhubung.
Aku salah.
Aku minta maaf.
Kenzo memaafkan.
Kami kembali.
Seperti ada urutan yang seharusnya bekerja.
Padahal Kenzo bukan hadiah setelah aku berhasil belajar pelajaran.
“Kalau dia nggak mau?” tanyaku.
Mama mengusap rambutku.
“Ya kamu terima.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Sesakit itu?”
“Iya.”
Mama tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Aku justru bersyukur.
Malamnya aku berdiri di depan cermin.
Aku melihat wajah yang sejak kecil sering membuat hidup terasa sedikit lebih mudah.
Orang memuji.
Orang mendekat.
Orang memaafkan.
Pintu terbuka.
Kenzo masih menganggapku cantik.
Aku tahu.
Dia masih sayang ketika pergi.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, diinginkan seseorang ternyata tidak berarti dipilih olehnya.
Aku duduk dan membuka chat Kenzo.
Tidak mengetik.
Belum.
Aku hanya membaca namanya.
Dulu aku pernah bertanya dalam hati apakah Kenzo cukup baik untuk berdiri di sisiku.
Sekarang pertanyaan itu terasa memalukan.
Karena semakin aku melihat ke belakang, semakin jelas satu hal.
Mungkin selama ini bukan Kenzo yang perlu membuktikan dirinya cukup baik untukku.
Mungkin justru aku yang belum cukup baik untuk cara dia mencintaiku.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang reading
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku