← Besok, Jam Tujuh

Chapter Eighteen

Pagi

POV: Tamara

Aku sudah membayangkan pertemuan pertama kami setelah putus dalam terlalu banyak versi.

Kenzo menghindar.

Kenzo marah.

Kenzo tidak melihatku.

Kenzo menatapku seperti orang asing.

Ternyata kenyataannya jauh lebih sederhana.

“Pagi.”

Aku berhenti.

Kenzo berdiri beberapa langkah di depanku dengan tas laptop di bahu.

Wajahnya sama.

Suaranya sama.

Ada senyum kecil yang sopan.

“Pagi,” jawabku.

Dia mengangguk lalu berjalan melewatiku.

Selesai.

Aku berdiri terlalu lama sampai Keisha menyentuh lenganku.

“Mar?”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Nggak.”

Kami masuk kelas.

Aku tidak mendengar separuh penjelasan dosen.

Pagi.

Satu kata.

Dulu satu kata itu bisa datang lewat telepon jam enam dengan suara Kenzo yang masih berat karena tidur.

Sekarang terdengar seperti sapaan kepada teman kampus.

Aku seharusnya lega.

Kenzo tidak membenciku.

Tapi entah kenapa itu justru lebih sakit.

Siang hari aku pergi ke kantin belakang karena Keisha ingin membeli sesuatu. Aku tidak tahu Kenzo ada di sana sampai melihat Raka.

Kenzo duduk di sebelahnya.

Nadira di depan.

Mereka sedang membicarakan sesuatu.

Aku hampir berbalik.

Keisha melihatku.

“Mau pindah?”

Aku menggeleng. “Nggak usah.”

Kami antre.

Aku bisa mendengar Raka tertawa.

Kemudian suara Kenzo.

Dia masih bisa tertawa.

Perasaan pertama yang muncul membuatku malu.

Sakit.

Seolah aku ingin dia terlihat sama hancurnya denganku.

Aku langsung membenci diriku sendiri.

Kenapa gue malah sedih dia bisa ketawa?

Aku yang membuat ini terjadi.

Aku yang membuat dia pergi.

Kalau aku benar-benar sayang, seharusnya aku ingin dia baik-baik saja.

Meski tanpa aku.

Pikiran itu terasa seperti sesuatu yang terlalu besar untuk diterima hari ini.

Ketika aku selesai membeli minuman, Raka kebetulan berdiri dari meja.

Tatapan kami bertemu.

Wajahnya berubah.

Tidak kasar.

Tapi jelas tidak hangat.

“Rak,” sapaku.

“Hai.”

Dia berjalan ke tempat sampah.

Aku menunggu.

“Kenzo bilang apa?”

Raka menatapku.

“Soal?”

“Soal kami.”

Rahangnya sedikit mengeras.

“Gue nggak mau ikut campur.”

“Dia marah?”

“Kenzo?”

Aku mengangguk.

Raka menghela napas.

“Dia malah bilang jangan jelek-jelekin lo.”

Dadaku terasa ditusuk sesuatu.

“Oh.”

“Gue yang kesel.”

Aku tidak bisa menyalahkannya.

“Maaf.”

Raka memandangku beberapa detik.

“Jangan minta maaf ke gue.”

Dia kembali ke meja.

Aku berdiri memegang minuman yang tiba-tiba tidak ingin kuminum.

Sore harinya aku membuka chat Kenzo.

Percakapan kami masih ada.

Pesan terakhir sebelum semuanya berakhir:

Tamara: Aku beneran sayang kamu.

Aku tidak pernah mengirimnya lewat chat. Aku mengatakannya di mobil.

Tapi setelah pulang malam itu, aku sempat mengetik pesan lain.

Tidak pernah kukirim.

Masih ada di draft.

Aku bisa benerin. Tolong jangan selesai.

Jariku berada di tombol kirim.

Aku menatapnya lama.

Lalu menghapus.

Kenzo sudah mengatakan cukup.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku harus menghormati sesuatu yang paling tidak ingin kuhormati.

Jarak yang dia pilih.

Malam itu aku tidak mengirim good night.

Tidak mengirim maaf.

Tidak mencari alasan.

Aku hanya berbaring dan mengingat cara Kenzo berkata pagi kepadaku seperti aku bukan lagi seseorang yang punya akses khusus ke hidupnya.

Aku akhirnya memahami satu bentuk kehilangan yang sebelumnya tidak pernah terpikir.

Kenzo masih baik.

Hanya saja kebaikan itu tidak lagi menjadi milikku secara khusus.