Chapter Fifteen
Yang Tidak Dikatakan
POV: Kenzo
Hari itu aku berhenti mencoba.
Bukan untuk menghukum Tamara.
Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi kalau aku tidak menjadi orang pertama yang bergerak.
Tidak ada pesan pagi dariku.
Pukul tujuh lewat sepuluh, ponsel berbunyi.
Tamara: Pagi.
Aku tersenyum sedikit.
Kenzo: Pagi.
Tidak ada percakapan lanjutan.
Di kampus aku tidak menunggu di depan kelasnya.
Kami berpapasan menjelang siang.
“Hai.”
“Hai.”
Tamara terlihat hendak mengatakan sesuatu, tapi Keisha memanggil dari belakang.
“Nanti chat ya,” katanya.
“Iya.”
Aku tidak menyentuh tangannya.
Dia juga tidak.
Siang lewat.
Sore.
Tidak ada rencana bertemu.
Biasanya aku akan bertanya sudah makan atau mengajak pulang bersama.
Hari itu tidak.
Tamara juga tidak.
Aku duduk bersama Raka dan Nadira di kantin sampai matahari hampir turun.
Raka sedang menceritakan sesuatu yang konyol. Nadira tertawa. Aku ikut tertawa.
Dan di tengah tawa itu aku sadar hubungan yang selama ini terasa memenuhi hari bisa berhenti bergerak hanya karena aku tidak mendorongnya.
Rasanya lebih sakit daripada yang ingin kuakui.
Pukul delapan malam Tamara akhirnya mengirim pesan.
Tamara: Kamu udah pulang?
Kenzo: Udah.
Tamara: Hari ini sibuk?
Aku menatap pertanyaan itu.
Kenzo: Lumayan.
Tiga titik muncul lalu hilang.
Muncul lagi.
Tamara: Oh.
Aku meletakkan ponsel.
Lima menit kemudian pesan lain masuk.
Tamara: Good night ya.
Aku mengetik.
Kenzo: Good night.
Tidak ada sayang.
Bukan karena aku sengaja menahannya.
Aku hanya tiba-tiba tidak tahu apakah kata itu akan memperbaiki sesuatu atau sekadar menutupi sesuatu.
Besoknya Tamara mengajakku makan.
Aku datang.
Dia terlihat lebih affectionate ketika hanya kami berdua. Tangannya sempat menyentuh lenganku. Dia tertawa ketika aku mengeluh soal tugas. Untuk beberapa menit aku hampir yakin kemarin hanya kebetulan.
Lalu Vanessa dan dua teman lain datang ke kafe.
Tamara melihat mereka.
Tangannya yang tadi berada di lenganku turun ke meja.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Vanessa menyapa kami dan duduk sebentar.
“Besok jadi gathering kan, Mar?”
Tamara mengangguk. “Jadi.”
Vanessa menoleh kepadaku. “Kenzo ikut?”
Tamara menjawab lebih cepat daripada aku.
“Iya.”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum kecil. “Ikut ya?”
Ada harapan di wajahnya.
Mungkin dia juga sadar ada sesuatu yang rusak.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Setelah Vanessa pergi, Tamara mengambil tanganku di bawah meja.
Aku membalas.
Hangatnya masih sama.
Aku masih mencintai perempuan di depanku. Bahkan mungkin justru karena itu aku begitu mudah melihat setiap perubahan kecilnya.
“Ken.”
“Hm?”
“Kamu beneran ikut besok kan?”
“Iya.”
“Makasih.”
Aku menatapnya.
“Mar.”
“Apa?”
Aku hampir bertanya semuanya.
Apakah dia malu.
Apakah komentar orang mengganggunya.
Apakah aku membuat hidupnya lebih sulit.
Apakah dia masih ingin berada di sini.
Semua pertanyaan itu berhenti di tenggorokan.
“Besok jam berapa?”
Tamara tersenyum. “Tujuh.”
“Oke.”
Aku mengantarnya pulang.
Sebelum turun dari mobil, Tamara mencium pipiku.
“Good night.”
“Good night.”
Dia menunggu sepersekian detik.
Aku tahu apa yang biasanya kami katakan.
“Sayang kamu,” katanya lebih dulu.
Dadaku terasa sesak.
“Gue juga sayang lo.”
Itu masih benar.
Justru itu masalahnya.
Ketika Tamara masuk rumah, aku tetap duduk di mobil beberapa menit.
Besok aku akan datang.
Bukan untuk menguji Tamara.
Bukan untuk membuat keputusan.
Aku hanya ingin melihat apakah perasaan buruk ini memang nyata atau cuma sesuatu yang kubangun sendiri.
Ternyata aku masih berharap aku salah.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan reading
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku