← Besok, Jam Tujuh

Chapter Three

Mulai Terlihat

POV: Kenzo

Tamara mulai menyapaku setelah kelas umum kedua.

Awalnya cuma, “Hai, Kenzo.”

Lalu menjadi, “Pagi.”

Kemudian suatu hari dia berhenti di samping meja kantin kami. “Kosong?”

Raka melihat kursi di sebelahku, lalu melihatku.

Aku sudah tahu apa yang ada di kepalanya.

“Kosong,” jawabku sebelum dia sempat membuka mulut.

Tamara duduk. Keisha ikut duduk di depan. Nadira datang tak lama kemudian membawa es teh.

“Wah,” katanya. “Meja kita naik kelas.”

Tamara tertawa. “Biasanya kelas apa?”

“Kelas ekonomi.”

Raka menunjuk piring Nadira. “Lo makan gorengan tiga, jangan sok elit.”

Tamara malah mengambil satu tahu dari piring Raka tanpa izin.

Raka menatap kehilangan itu. “Itu punya gue.”

“Sekarang punya aku.”

“Kenzo, pac—”

Aku menendang tulang keringnya di bawah meja.

“Anjing,” desisnya.

Tamara menatap kami. “Kenapa?”

“Kram,” jawabku.

Nadira menunduk, bahunya bergetar menahan tawa.

Setelah makan, Tamara pergi lebih dulu. Aku baru sadar gelas minumannya tertinggal ketika dia hampir keluar kantin.

“Mar.”

Dia menoleh.

Aku mengangkat gelasnya.

“Oh iya.” Tamara kembali. “Aku pelupa banget kalau buru-buru.”

“Kelihatan.”

Dia menatapku seolah tersinggung. “Kok gitu?”

“Minggu lalu pulpen. Kemarin kartu akses.”

“Aku balik ambil.”

“Setelah gue chat.”

Tamara diam, lalu tersenyum. “Kamu merhatiin juga ternyata.”

Aku baru sadar jebakan itu terlambat.

“Kebetulan.”

“Oh.”

Nada suaranya jelas tidak percaya.

Setelah Tamara pergi, Nadira duduk di depanku.

“Lo suka Tamara?”

Aku hampir tersedak air.

Raka langsung berdiri. “Gue beli makan lagi.”

“Lo baru makan.”

“Laper.”

Pengkhianat.

Nadira menopang dagu. “Jadi?”

Aku bisa menyangkal. Masalahnya Nadira cukup pintar untuk tahu kalau aku bohong.

Aku menghela napas. “Hm.”

Matanya membesar sedikit. “Oh.”

“Apaan oh?”

“Nggak apa-apa. Selera lo mahal juga.”

Aku tertawa kecil. “Gue juga tahu.”

Aneh rasanya mengucapkannya keras-keras.

Gue suka Tamara.

Kalimat itu terasa lebih nyata setelah memiliki suara.

“Terus mau ngapain?” tanya Nadira.

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Kenapa? Deketin?”

Aku menggeleng.

“Lo udah lumayan deket.”

“Temenan.”

“Terus?”

Aku melihat ke arah pintu tempat Tamara tadi menghilang.

“Suka bukan berarti harus punya.”

Nadira menatapku beberapa detik. “Bijak banget.”

“Takut ditolak.”

Dia tertawa keras. “Nah, itu lebih masuk akal.”

Sebagian memang bercanda. Sebagian lagi tidak.

Tamara datang dari dunia yang dari luar saja terlihat berbeda. Mobilnya terlalu bersih untuk parkiran kampus. Circle-nya cepat dikenal. Kalau dia berjalan di koridor, orang yang tidak mengenalnya pun sering tahu siapa dia.

Aku punya Raka yang terlalu berisik, Nadira yang hobi telat, motor yang kadang susah distarter, dan hidup yang sebenarnya cukup kusukai.

Aku tidak merasa rendah. Hanya tahu jarak.

Sore itu Tamara mengirim pesan.

Tamara: Kenzo, catatan kelas tadi ada?

Kenzo: Ada.

Aku mengirim foto.

Tamara: Makasihhh. Tulisan kamu rapi juga.

Kenzo: Ini pujian atau kaget?

Tamara: Dua-duanya 😭

Aku tertawa sendiri.

Tamara: Besok makan di kantin belakang lagi?

Aku membaca pesan itu dua kali.

Kenzo: Kayaknya.

Tamara: Oke. Sisain kursi.

Keesokan harinya ada banyak kursi kosong. Tetapi tanpa benar-benar memikirkannya, satu kursi di sampingku kubiarkan kosong.

Tamara datang sepuluh menit kemudian.

Dia melihat kursi itu, lalu melihatku.

“Disisain?”

Aku mengangkat bahu. “Katanya minta.”

Senyumnya muncul pelan.

“Makasih.”

Dia duduk.

Dan untuk pertama kalinya, aku mulai curiga jarak yang selama ini kuanggap jelas mungkin tidak sepenuhnya ditentukan olehku.