← Besok, Jam Tujuh

Chapter Thirty

Dari Sisi Sebelah Sini

POV: Kenzo

Setelah memaafkan Tamara, aku mengira semuanya akan kembali menjadi lebih sederhana.

Ternyata tidak.

Dia tidak mengejarku.

Itu justru hal pertama yang kusadari.

Tidak ada pesan tengah malam.

Tidak ada alasan dibuat-buat untuk bertemu.

Kalau berpapasan, Tamara menyapa seperti biasa.

“Pagi.”

“Pagi.”

Selesai.

Aneh.

Sebagian diriku lega.

Sebagian lain, yang tidak ingin kuakui, bertanya kenapa dia tidak mencoba lagi.

Aku membenci bagian itu karena terdengar egois.

Hari Kamis aku sedang mengerjakan project di laboratorium ketika Raka masuk membawa dua minuman.

Satu kopi.

Satu minuman yang bukan pesananku.

“Apaan?”

Raka menaruh kopi di meja.

“Buat lo.”

Aku melihat gelasnya.

Pesananku.

“Gue nggak minta.”

“Gue juga nggak beliin.”

Aku menatapnya.

Raka mengangkat dagu ke arah pintu.

Tamara sudah tidak ada.

Aku melihat gelas itu lagi.

“Dia tadi lewat,” kata Raka. “Nitip.”

“Kenapa nggak kasih sendiri?”

“Katanya nggak usah.”

Aku diam.

Raka menarik kursi.

“Kalau mau gue minum—”

Tanganku langsung mengambil gelas.

Raka tertawa. “Cepet banget.”

“Lo udah minum tiga.”

“Fitnah.”

Aku menyesap kopi.

Persis pesananku.

Tidak terlalu manis.

Tidak ada catatan.

Tidak ada pesan.

Hanya kopi.

Aku tidak tahu kenapa gesture sekecil itu terasa lebih besar daripada kalau Tamara datang dan berkata dia masih mencintaiku.

Mungkin karena dia tidak meminta apa-apa.

Sore harinya kami berpapasan di depan perpustakaan.

Tamara melihat gelas yang masih kubawa.

Matanya turun sebentar.

Aku tahu dia mengenali.

“Makasih,” kataku.

Tamara tersenyum.

“Sama-sama.”

Dia lanjut berjalan.

Aku menoleh setelah beberapa langkah.

Tamara tidak.

Untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat perbedaannya.

Tamara yang dulu selalu bergerak berdasarkan apa yang dia inginkan.

Tamara yang sekarang seperti sedang belajar bahwa ingin mendekat tidak otomatis berarti punya hak untuk mendekat.

Aku tidak tahu harus merasa apa.

Malamnya Nadira mengirim file tugas.

Nadira: Cek bagian tiga.

Kenzo: Oke.

Lalu Raka masuk ke grup.

Raka: Besok jangan ada yang telat.

Nadira: Ngomong ke diri sendiri.

Aku tersenyum.

Hidupku tetap berjalan.

Tamara bukan lagi pusatnya.

Tapi malam itu ketika meletakkan ponsel, pikiranku kembali ke kopi tadi.

Bukan pada rasanya.

Pada fakta bahwa dia tahu pesananku.

Dulu aku yang selalu mengingat.

Sekarang untuk pertama kalinya aku sadar Tamara mungkin juga mulai mengingat hal-hal tentangku yang selama ini tidak pernah perlu dia ingat.

Aku tidak langsung percaya.

Satu kopi tidak mengubah masa lalu.

Satu permintaan maaf juga tidak.

Tapi aku juga tidak ingin menjadi orang yang menolak melihat perubahan hanya karena pernah terluka.

Kalau Tamara benar-benar berubah, dia pantas dinilai dari siapa dirinya sekarang.

Bukan dihukum selamanya karena siapa dirinya dulu.

Aku mematikan lampu.

Besok aku tetap akan menjalani hidup seperti biasa.

Tapi ada satu hal kecil yang bergeser malam ini.

Untuk pertama kalinya sejak putus, ketika memikirkan Tamara, yang muncul bukan hanya luka lama.

Ada rasa penasaran.

Tamara yang sekarang sebenarnya seperti apa?