← Besok, Jam Tujuh

Chapter Thirty Three

Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda

POV: Kenzo

Nadira mengatakan dia suka kepadaku pada malam yang sangat biasa.

Tidak ada hujan.

Tidak ada musik.

Kami baru selesai mengerjakan tugas dan berjalan menuju parkiran.

“Zo.”

“Hm?”

“Gue suka sama lo.”

Langkahku berhenti.

Nadira terus berjalan dua langkah sebelum menoleh.

“Udah lumayan lama.”

Aku menatapnya.

Otakku seperti membutuhkan waktu lebih banyak daripada biasanya.

“Dira...”

“Jangan pasang muka begitu.”

“Muka gue kenapa?”

“Kayak komputer hang.”

Aku hampir tertawa.

Dia juga tersenyum.

Tapi matanya tidak ikut.

“Gue nggak lagi nembak,” katanya.

“Terus?”

“Cuma pengen sekali aja jujur.”

Aku tidak tahu apa jawaban yang benar.

Nadira adalah salah satu orang yang paling banyak ada di sisiku beberapa bulan terakhir.

Dia tidak pernah memaksa.

Tidak pernah menjadikan putusku sebagai kesempatan.

Dia membuat hari-hari buruk terasa normal tanpa mencoba menjadi obat.

Dan belakangan aku memang mulai melihat sesuatu yang dulu tidak kulihat.

Nadira cantik.

Nyaman.

Lucu.

Aku suka berada di dekatnya.

Kalau hidupku sedikit berbeda—

“Jangan,” katanya tiba-tiba.

Aku mengernyit. “Apa?”

“Jangan kasih gue alternate universe.”

Aku diam.

Nadira tertawa kecil, tapi matanya mulai basah.

“Gue tahu muka lo.”

“Dira.”

“Kalau lo mau bilang kalau keadaan beda mungkin kita bisa—jangan.”

Aku menutup mulut.

Ternyata dia benar.

Nadira mengusap mata cepat.

“Yang ini aja udah susah.”

Dadaku terasa berat.

Aku mendekat setengah langkah lalu berhenti.

Aku ingin memeluknya.

Tapi itu terasa seperti sesuatu yang bisa berarti lebih dari yang mampu kuberikan.

Jadi aku tidak.

“Makasih.”

Nadira menatapku.

“Makasih udah suka sama gue.”

Dia tertawa pendek. “Jawaban apaan itu?”

“Jawaban gue.”

“Jelek.”

“Gue nggak latihan.”

Sunyi sebentar.

Aku akhirnya berkata, “Lo penting buat gue.”

Nadira mengangguk.

“Tapi?”

Aku menarik napas.

“Tapi gue nggak bisa kasih jawaban yang lo pantas dapet.”

Dia menatap jalan.

“Karena Tamara?”

Pertanyaan itu membuatku jujur kepada diriku sendiri.

Sebagian.

Tapi bukan hanya itu.

“Karena gue belum bisa kasih hati gue utuh ke orang lain.”

Nadira mengangguk pelan.

“Fair.”

“Gue nggak mau coba sama lo cuma karena gue takut sendirian.”

“Bagus.”

Dia menatapku lagi.

“Kalau lo lakuin itu, gue pukul.”

Aku tersenyum.

“Noted.”

Kami lanjut berjalan.

Di dekat motornya Nadira berhenti.

“Besok kita masih temenan?”

“Gue kira lo mau menghilang dramatis.”

“Capek.”

“Gue juga.”

Dia meninju bahuku ringan.

“Jangan jadi aneh.”

“Lo yang confess.”

“Terus?”

“Gue harus adaptasi.”

“Adaptasi sana.”

Aku tertawa.

Nadira memakai helm.

Sebelum pergi dia berkata, “Zo.”

“Hm?”

“Gue serius satu hal.”

“Apa?”

“Kalau nanti lo pilih seseorang, pilih karena lo mau. Bukan karena merasa berutang.”

Aku menatapnya.

“Iya.”

Dia pergi.

Aku berdiri sendiri di parkiran.

Perasaan bersalah ada.

Sedih juga.

Tapi di balik semua itu ada satu kejelasan yang tidak bisa lagi kuhindari.

Ketika Nadira mengatakan nama Tamara, aku tidak menyangkal.

Karena meski sudah sembuh dari kehilangannya, meski hidupku sudah utuh tanpa dia, ada bagian dari diriku yang masih bergerak ketika Tamara mendekat.

Aku tidak membutuhkan Tamara.

Itu sudah kubuktikan.

Masalahnya jauh lebih sederhana.

Aku masih menginginkannya.

Dan untuk pertama kalinya aku berhenti berpura-pura bahwa dua hal itu sama.