Chapter Twenty One
Kalau Jawabannya Berubah
POV: Kenzo
Ada hari ketika aku baik-baik saja sampai seseorang bertanya apakah aku baik-baik saja.
Hari itu datang hampir tiga minggu setelah putus.
Aku sedang duduk di tangga belakang gedung fakultas, menunggu kelas berikutnya. Raka pergi membeli makan. Nadira datang membawa dua botol air dan duduk dua anak tangga di bawahku.
Satu botol dilempar ke arahku.
Aku menangkapnya.
“Makasih.”
“Hm.”
Aku menoleh. “Nyolong gaya gue?”
“Royalti?”
“Bayar.”
“Pelihara dulu.”
Aku tertawa kecil.
Kami diam cukup lama. Aku sebenarnya suka diam bersama orang yang tidak merasa harus mengisinya.
Nadira termasuk sedikit orang seperti itu.
Ponselku berbunyi.
Bukan Tamara.
Aku tidak lagi selalu berharap namanya muncul, tapi tubuhku masih punya sepersekian detik kebiasaan lama sebelum otak mengejar.
Aku mengunci layar.
“Zo.”
“Hm?”
“Lo baik-baik aja?”
Pertanyaannya sederhana.
Jawabanku juga.
“Baik.”
Nadira mengangguk. “Oke.”
Tidak ada “serius?”
Tidak ada “cerita dong.”
Dia membuka botolnya.
Aku menatap halaman di depan.
Beberapa detik kemudian Nadira berkata, “Kalau suatu hari jawabannya berubah, bilang.”
Aku menoleh.
Dia tidak melihatku.
“Kenapa?”
“Karena kalau lo jawab baik padahal nggak, gue males nebak.”
“Galak.”
“Efisien.”
Aku tersenyum.
Raka datang membawa tiga bungkus nasi.
“Kenapa kalian duduk kayak habis konsultasi hidup?”
Nadira berdiri. “Karena hidup lo masalah.”
“Fitnah.”
Hari bergerak lagi.
Di kelas aku membantu Raka memperbaiki bagian presentasinya. Setelah itu kami bertiga makan. Nadira bercerita soal ibunya yang memaksanya datang ke acara keluarga akhir pekan. Raka memberi solusi buruk. Aku menertawakan mereka.
Normal.
Sore menjelang ketika aku melihat Tamara di perpustakaan.
Dia duduk sendiri di meja dekat jendela.
Dulu aku akan menghampiri tanpa berpikir.
Sekarang aku memilih rak di sisi lain.
Bukan karena membencinya.
Aku hanya belum tahu apa yang harus dilakukan kalau kami duduk terlalu dekat.
Ketika aku keluar satu jam kemudian, Tamara masih ada.
Tatapan kami bertemu.
Dia tersenyum kecil.
Aku membalas.
Selesai.
Di parkiran, aku membuka helm lalu teringat kalimat Nadira.
Kalau suatu hari jawabannya berubah, bilang.
Aku sebenarnya tidak baik-baik saja.
Tidak sepenuhnya.
Ada malam ketika aku masih ingin menelepon Tamara.
Ada pagi ketika tanganku masih membuka chat sebelum sadar.
Ada tempat yang belum nyaman kudatangi.
Tapi aku juga tidak hancur setiap menit.
Mungkin “baik-baik saja” bukan jawaban ya atau tidak.
Malamnya Nadira mengirim pesan soal tugas.
Setelah menjawab, jariku berhenti.
Aku mengetik sesuatu.
Kenzo: Dira.
Balasannya cepat.
Nadira: Apa?
Aku melihat layar.
Kemudian mengetik.
Kenzo: Hari ini jawabannya setengah.
Tiga titik muncul cukup lama.
Nadira: Oke.
Lalu:
Nadira: Setengahnya makan dulu. Besok sisanya dipikirin.
Aku tertawa.
Kenzo: Nasihat macam apa itu?
Nadira: Nasihat orang lapar.
Aku menaruh ponsel.
Tidak ada percakapan mendalam.
Tidak ada usaha menyembuhkan.
Anehnya, itu cukup.
Mungkin untuk pertama kalinya aku mulai mengerti bahwa menerima seseorang berada di sampingku tidak sama dengan membebani mereka.
Kadang aku tidak perlu selalu menjadi orang yang bilang, “Santai. Gue bisa sendiri.”
Kadang boleh juga bilang:
Hari ini cuma setengah.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah reading
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku