Chapter Seventeen
Selasa Pagi
POV: Kenzo
Selasa pagi aku bangun tiga menit sebelum alarm.
Tanganku otomatis mencari ponsel.
Tidak ada pesan.
Aku menatap layar beberapa detik sebelum ingat bahwa memang tidak akan ada.
Biasanya Tamara sudah mengirim sesuatu.
Pagi pacar.
Atau:
Bangun. Jangan hm.
Aku meletakkan ponsel kembali.
Alarm berbunyi tiga menit kemudian.
Aku mematikannya.
Hari tetap dimulai.
Mandi.
Sarapan.
Ayah sudah berangkat. Ibu sedang memotong buah di dapur.
“Berangkat jam berapa?”
“Setengah delapan.”
“Bekal?”
“Nggak usah.”
Ibu menatapku sebentar, lalu mengangguk.
Tidak ada yang aneh sampai aku tiba di kantin kampus.
“Seperti biasa?” tanya Mbak Sari dari kios minuman.
Aku mengangguk.
Tanganku sudah mengambil dompet ketika dia bertanya, “Yang satunya juga?”
Aku berhenti.
Biasanya dua.
Kopi tanpa gula buatku.
Minuman manis yang Tamara suka.
Aku bahkan tidak pernah merasa sedang mengingat pesanannya lagi. Tubuhku sudah hafal.
“...satu aja, Mbak.”
Mbak Sari mengangguk tanpa bertanya.
Aku membawa satu gelas ke meja.
Raka datang lima menit kemudian dan langsung mengambil kursi di depan.
“Sendiri?”
“Hm.”
Dia duduk.
Tidak bertanya kenapa Tamara tidak ada.
Aku bersyukur.
Nadira datang setelahnya, meletakkan tas, lalu memandang meja.
“Tamara?”
Raka menatapnya.
Aku membuka laptop.
“Udah nggak.”
Nadira berhenti menarik kursi.
Aku tidak melihat wajahnya.
“Putus?” tanyanya pelan.
“Hm.”
Tidak ada suara beberapa detik.
Lalu Nadira duduk.
“Oke.”
Cuma itu.
Raka memandangku.
“Kapan?”
“Sabtu.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Gue baru bilang.”
“Gue kira—”
“Rak.”
Dia berhenti.
Aku menatapnya.
“Jangan.”
Raka mengerti maksudku.
Jangan tanya sekarang.
Jangan marah sekarang.
Jangan membuat meja ini berubah menjadi ruang interogasi.
Dia mengangguk.
“Oke.”
Lima menit kemudian dia mulai mengeluh soal tugas.
Aku tahu dia sengaja.
Aku membiarkannya.
Di kelas, aku membuka laptop dan menemukan satu file dengan nama yang membuatku diam.
TugasTamaraFinal.
Aku pernah memperbaiki format datanya.
Aku mengubah nama file menjadi TugasKelasFinal lalu menutup folder.
Selesai.
Setidaknya harusnya begitu.
Siang hari aku melewati gedung Manajemen.
Aku tidak punya alasan ke sana.
Rute menuju perpustakaan memang melewati gedung itu.
Tamara keluar dari pintu utama bersama Keisha.
Aku melihatnya.
Dia juga melihatku.
Langkah kami sama-sama melambat.
Jarak sekitar sepuluh meter.
Dulu aku akan menunggu.
Atau menghampiri.
Hari ini aku hanya mengangguk kecil.
Tamara membalas.
Aku terus berjalan.
Tidak ada yang memanggil.
Di perpustakaan aku duduk di tempat yang pernah kami pakai belajar bersama.
Kesalahan.
Aku pindah satu meja.
Lebih baik.
Sore hari, ketika pulang, aku baru sadar ada satu bungkus permen di kompartemen motor. Tamara pernah menaruhnya karena katanya napasku bau kopi.
Aku mengambil bungkus itu.
Masih setengah.
Aku hampir membuangnya.
Tidak jadi.
Bukan karena sentimental.
Permennya masih bagus.
Aku mengambil satu.
Rasanya terlalu familiar.
Tolol.
Aku tertawa kecil pada diri sendiri.
Ternyata patah hati tidak selalu terasa seperti sesuatu yang besar.
Kadang cuma seperti membeli satu minuman ketika tubuhmu masih yakin harus membeli dua.
Atau membuka ponsel ketika tidak ada pesan yang ditunggu.
Atau menemukan permen yang tidak lagi punya pemilik kedua.
Malamnya aku berbaring.
Ponsel berada di samping.
Tidak ada good night.
Aku menutup mata.
Besok mungkin masih sama.
Lusa juga.
Tapi suatu hari nanti, mungkin tanganku akan berhenti mencari layar sebelum aku benar-benar bangun.
Untuk sekarang, aku cuma perlu melewati satu pagi lagi.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi reading
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku