← Besok, Jam Tujuh

Chapter Twenty Five

Baik-Baik Saja

POV: Kenzo

Aku baru sadar hari itu bagus ketika hari itu hampir selesai.

Tidak ada kejadian besar.

Pagi aku telat tiga menit karena ban motor kurang angin. Raka mengabadikan momen itu seperti menemukan bukti sejarah.

Raka: KENZO ALGHIFARI TELAT.

Foto jam kelas ikut dikirim ke grup kecil kami.

Nadira: Dunia berakhir hari ini.

Kenzo: Tiga menit.

Raka: Prinsip adalah prinsip.

Aku hampir memblokir mereka.

Siang kami presentasi.

Berjalan lancar.

Setelahnya Raka mengajak makan di tempat yang belum pernah kami coba. Nadira ikut.

Makanannya ternyata terlalu pedas.

Nadira bersikeras baik-baik saja sambil menangis.

“Ini bukan pedas,” katanya.

Matanya merah.

“Terus?” tanyaku.

“Emosional.”

Raka hampir tersedak.

Aku tertawa sampai perut sakit.

Setelah makan kami pergi ke toko buku karena Nadira mencari hadiah ulang tahun adiknya. Raka menghilang ke bagian komik. Aku akhirnya membantu Nadira memilih.

“Yang ini?”

“Adik lo umur berapa?”

“Empat belas.”

“Jangan beli buku motivasi.”

“Kenapa?”

“Dia bakal benci lo.”

Nadira menaruh kembali.

“Pengalaman?”

“Gue pernah dikasih.”

“Trauma?”

“Masih.”

Kami pulang menjelang sore.

Di lampu merah, aku melihat jam.

Baru saat itu aku sadar.

Sejak bangun sampai sekarang, aku hampir tidak memikirkan Tamara.

Bukan tidak sama sekali.

Ada satu momen ketika melewati kafe tempat kami pernah kencan.

Tapi cuma lewat.

Tidak menempel.

Tidak merusak satu jam berikutnya.

Aku menarik napas.

Lampu berubah hijau.

Aku lanjut.

Malamnya Ibu menyuruhku membeli telur. Di minimarket aku melewati rak minuman dan melihat merek favorit Tamara.

Tanganku tidak otomatis mengambil.

Aku berhenti.

Bukan karena sedih.

Karena sadar.

Kemudian mengambil kopi buatku sendiri.

Di rumah, aku duduk di teras sambil minum.

Raka mengirim pesan soal rencana akhir pekan.

Nadira mengirim foto buku yang akhirnya dia beli.

Aku membalas.

Hidupku terasa penuh.

Tidak penuh seperti dulu ketika Tamara ada.

Berbeda.

Tapi penuh.

Aku masih kangen.

Kalau Tamara tiba-tiba berdiri di depan pagar sekarang, mungkin jantungku tetap akan berantakan.

Kalau dia bilang ingin kembali, aku bahkan belum tahu jawabanku.

Tapi untuk pertama kalinya aku tidak membutuhkan jawaban itu malam ini.

Aku baik-baik saja.

Bukan versi “baik” yang selama ini kupakai supaya orang berhenti bertanya.

Benar-benar baik.

Ponselku berbunyi.

Nadira.

Nadira: Zo.

Kenzo: Apa?

Nadira: Jawabannya hari ini berapa?

Aku teringat percakapan di tangga beberapa hari lalu.

Aku tersenyum.

Kenzo: Penuh.

Balasan datang.

Nadira: Wih.

Nadira: Makan apa tadi?

Kenzo: Makanan yang bikin lo nangis.

Nadira: Gue nggak nangis.

Kenzo: Emosional ya?

Tiga stiker marah masuk berturut-turut.

Aku tertawa.

Di tempat lain, tanpa kuketahui, mungkin Tamara sedang menjalani malamnya sendiri.

Dulu pikiran itu akan membuatku ingin tahu.

Sekarang aku bisa membiarkannya.

Aku berharap dia baik.

Sungguh.

Tapi kebahagiaanku tidak lagi menunggu kabar tentang dirinya.

Aku menatap halaman rumah yang mulai gelap.

Beberapa minggu lalu aku duduk di lantai kamar sambil memegang tiket film dan merasa sesuatu di dalam diriku runtuh.

Hari ini tidak ada yang dibangun kembali secara dramatis.

Aku masih orang yang sama.

Motor yang sama.

Rumah yang sama.

Teman-teman yang sama.

Wajah yang sama.

Hanya ada satu hal yang berubah.

Aku tidak lagi melihat semua itu sebagai daftar alasan kenapa seseorang seperti Tamara terlalu tinggi untukku.

Ini hidupku.

Dan aku menyukainya.

Kalau suatu hari nanti ada seseorang yang ingin berjalan di dalamnya bersamaku, bagus.

Kalau belum ada, juga tidak apa-apa.

Untuk sekarang, aku cukup.

Dan anehnya, setelah berhenti memaksa diri percaya pada kalimat itu—

aku benar-benar mulai mempercayainya.