← Besok, Jam Tujuh

Chapter Thirty Five

Kalau Mereka Ngomong Lagi?

POV: Kenzo

Aku masih sayang Tamara.

Mengakuinya ternyata lebih mudah daripada menentukan apa yang harus kulakukan dengan fakta itu.

Kami duduk di bangku luar perpustakaan setelah kelas. Tidak direncanakan. Aku melihat Tamara sendirian, dia melihatku, lalu entah bagaimana percakapan kecil berubah menjadi kami duduk bersama hampir setengah jam.

Tidak canggung.

Itu justru masalahnya.

Tamara sedang bercerita tentang Keisha ketika dia tertawa dan tangannya refleks bergerak ke lenganku.

Berhenti sebelum menyentuh.

Tangannya turun.

Aku melihat.

Dia sadar aku melihat.

“Sorry.”

“Kenapa sorry?”

“Kebiasaan.”

Aku tidak tahu kenapa satu kata itu membuat dadaku sesak.

Dulu sentuhan Tamara juga kebiasaan.

Kemudian hilang.

Sekarang bahkan kebiasaan itu harus meminta izin.

“Mar.”

“Hm?”

Aku menatap halaman di depan.

“Aku masih sayang kamu.”

Sunyi.

Tamara tidak bergerak.

Ketika aku menoleh, matanya sudah berkaca-kaca.

“Ken...”

“Tapi itu justru masalahnya.”

Senyumnya yang hampir muncul hilang.

Aku mengusap kedua tangan.

“Gue udah baik-baik aja sekarang.”

Tamara mengangguk.

“Gue bisa jalan tanpa lo.”

“Iya.”

“Tapi kalau kita balik...”

Aku berhenti.

Sulit mengatakan bagian berikutnya.

Tamara menunggu.

Aku mencoba lagi.

“Kalau gue percaya lagi, terus semuanya kejadian lagi...”

Suara itu terdengar lebih kecil daripada yang kuinginkan.

Tamara tidak menyela.

“Gue nggak tahu apa gue bisa ngelewatin hal yang sama dua kali.”

Dia mengusap air matanya.

“Kamu takut aku bakal ngelakuin hal yang sama.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Tamara menatapku lama.

Aku menunggu dia menyangkal.

Menunggu kalimat bahwa dia sudah berubah.

Bahwa aku harus percaya.

Tidak ada.

“Iya,” katanya.

Aku mengernyit. “Kamu nggak bilang nggak?”

Tamara tersenyum sedih.

“Aku nggak bisa minta kamu percaya cuma gara-gara aku bilang aku berubah.”

Aku diam.

“Kalau aku jadi kamu, aku juga takut.”

Angin lewat di antara kami.

Tamara melihat tangannya sendiri.

“Aku bisa janji seribu kali.”

Dia menggeleng.

“Tapi dulu aku juga pernah bilang sayang kamu. Dan aku memang sayang. Tetap aja aku nyakitin.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti self-punishment.

Hanya jujur.

“Jadi aku nggak mau jual janji.”

Aku menatapnya.

“Terus?”

Tamara mengangkat bahu kecil.

“Lihat aja.”

“Apa?”

“Lihat aku.”

Dia tersenyum.

“Kalau suatu hari kamu percaya lagi, bilang.”

Kalimat itu terasa familiar.

Aku teringat Nadira di tangga belakang.

Kalau suatu hari jawabannya berubah, bilang.

Orang-orang di sekitarku ternyata sudah terlalu lama memberiku ruang untuk bicara.

Mungkin sekarang giliranku belajar menggunakannya.

Tamara berdiri.

“Aku duluan.”

Aku ikut berdiri.

“Mar.”

Dia menoleh.

Ada terlalu banyak hal yang ingin kukatakan.

Aku memilih satu.

“Makasih.”

“Buat?”

“Nggak maksa.”

Tamara tersenyum.

“Aku udah pernah maksa hidup ikut maunya aku.”

Dia memasang tas.

“Kapok.”

Aku tertawa kecil.

Tamara berjalan pergi.

Setelah beberapa meter dia menoleh.

Bukan untuk memastikan aku melihat.

Hanya kebetulan.

Tatapan kami bertemu.

Dia melambaikan tangan kecil.

Aku membalas.

Malamnya aku memikirkan percakapan itu.

Aku masih takut.

Itu belum hilang.

Tapi untuk pertama kalinya rasa takut itu tidak terasa seperti alasan otomatis untuk menjauh.

Tamara tidak mencoba menarikku melewatinya.

Dia berdiri di sisi lain dan membiarkanku menentukan apakah aku ingin menyeberang.

Aku membuka chat.

Mengetik.

Menghapus.

Lalu tertawa sendiri.

Ternyata sekarang aku yang melakukan itu.

Akhirnya kukirim satu pesan.

Kenzo: Mar.

Balasan datang.

Tamara: Hm?

Aku tersenyum pada penggunaan kata itu.

Kenzo: Besok makan siang?

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Tamara: Boleh.

Tidak ada emoji berlebihan.

Tapi aku bisa membayangkan wajahnya.

Aku meletakkan ponsel.

Aku belum siap mengatakan ayo kembali.

Tapi malam ini aku tahu satu hal.

Untuk pertama kalinya sejak putus, langkah menuju Tamara datang dariku sendiri.