Chapter Forty
Rumah
POV: Tamara
Aku baru benar-benar memahami Kenzo ketika melihat orang tuanya bersama.
Bukan saat Om Farid mengatakan sesuatu yang bijak. Justru saat tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Aku datang ke rumah Kenzo menjelang siang. Tante Ratih langsung menyuruhku masuk sambil membawa dua kantong belanja.
“Tamara, tolong ambilin piring yang atas.”
“Iya, Tante.”
Kenzo yang duduk di meja makan menoleh. “Kok gue yang anaknya nggak disuruh?”
Tante Ratih menunjuk wastafel. “Kamu dari tadi duduk. Cuci.”
Aku tertawa.
Kenzo menatapku. “Ikut.”
“Aku tamu.”
Tante Ratih menjawab dari dapur, “Katanya tadi udah bukan tamu.”
Aku langsung kehilangan pembelaan.
Makan siang berlangsung seperti biasa. Om Farid tidak banyak bicara. Tante Ratih mengomel karena suaminya lupa membeli sesuatu.
Lima menit kemudian Tante Ratih mencari pembuka botol. Om Farid langsung membuka laci kedua, mengambilnya, lalu menyerahkan tanpa ditanya.
“Nih.”
“Oh iya.”
Beberapa menit kemudian Tante Ratih mengupaskan jeruk dan meletakkan setengah di piring suaminya.
Aku melihat.
Lalu melihat Kenzo.
Dia sedang memisahkan cabai dari makananku karena tahu aku tidak sekuat yang kuklaim.
“Ken.”
“Hm?”
“Nggak.”
Oh.
Tiba-tiba banyak hal terasa masuk akal.
Kenzo tumbuh di rumah di mana orang tahu letak barang yang dicari pasangannya. Tahu siapa yang tidak kuat pedas. Tahu kapan harus mengambil sesuatu sebelum diminta.
Hal-hal kecil yang dilakukan begitu lama sampai tidak lagi dianggap romantis.
Setelah makan, Om Farid dan Tante Ratih pergi keluar.
Kenzo duduk di sofa dengan laptop. Aku berbaring dan meletakkan kepala di pahanya.
Satu tangannya tetap mengetik. Tangan lain otomatis masuk ke rambutku.
“Ken.”
“Hm?”
“Kamu sadar nggak sih?”
“Apa?”
Aku mengambil tangannya dari rambutku. “Ini.”
“Apa?”
“Kamu dari tadi mainin rambut aku.”
Kenzo terlihat benar-benar bingung. “Terus?”
Aku tertawa.
Aku mencium punggung tangannya singkat lalu mengembalikannya ke kepalaku.
Kenzo menatapku.
“Apaan?”
“Rakus.”
“Pacar sendiri.”
Dia tertawa kecil.
Aku menatap langit-langit.
“Aku dulu bego ya?”
Tangannya berhenti.
“Tiba-tiba.”
“Serius.”
Kenzo menutup laptop.
Aku memegang tangannya. “Aku dulu punya semua hal kecil kayak gini dari kamu.”
Aku menggerakkan jarinya.
“Terus aku baru ngerti nilainya setelah nggak punya.”
Kenzo diam.
Aku tidak meminta dia menghapus masa lalu.
Beberapa detik kemudian ibu jarinya mengusap tanganku.
“Sekarang punya lagi.”
Dadaku menghangat.
“Makanya nggak mau hilang lagi.”
Kenzo membungkuk dan mencium keningku.
Sore menjelang malam ketika aku hendak pulang. Tante Ratih sudah kembali dan memaksaku membawa satu kotak makanan.
Kenzo mengantar ke mobil.
Aku bersandar di pintu.
“Apa?” tanyanya.
“Belum mau pulang.”
“Udah dari siang.”
“Kurang.”
“Besok ketemu.”
“Besok lama.”
Kenzo tertawa.
Aku menarik ujung kausnya.
“Ken.”
“Hm?”
“Cium dulu.”
Kenzo melihat rumah. “Nyokap gue bisa keluar.”
“Terus?”
“Malu.”
Aku mengangkat alis.
Dia langsung sadar.
“Malu punya pacar aku?”
“Kurang ajar.”
“Sekarang ngerti rasanya?”
Aku masih tertawa ketika Kenzo memegang pinggangku dan menarikku mendekat.
Tawaku berhenti.
Dia menciumku.
Aku mundur setengah langkah sampai punggung menyentuh mobil. Tanganku otomatis memegang bajunya.
Ketika Kenzo menjauh, dia tersenyum kecil.
“Cukup?”
“Nggak.”
Kenzo tertawa pelan. “Rakus.”
Aku menariknya lagi.
“Pacar sendiri.”
Ketika akhirnya masuk mobil, aku membawa makanan Tante Ratih dan senyum yang tidak hilang sepanjang perjalanan.
Dulu aku terlalu sibuk bertanya apakah Kenzo cocok dengan duniaku.
Aku tidak pernah bertanya apakah aku bisa menjadi bagian dari dunianya.
Sekarang jawabannya terasa sederhana.
Aku tidak ingin dunia Kenzo berubah supaya muat untukku.
Aku cuma ingin punya tempat di dalamnya.
Dan rumah sederhana itu mulai terasa seperti tempat yang ingin kudatangi lagi dan lagi.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah reading
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku