Chapter Sixteen
Tangan yang Dilepas
POV: Kenzo
Aku datang jam tujuh kurang lima.
Tamara sudah ada.
Dia mengenakan pakaian sederhana yang kusuka dan tersenyum ketika melihatku.
Untuk beberapa menit pertama aku merasa bodoh karena semalam terlalu banyak berpikir.
Kami bicara.
Makan.
Tamara duduk di sampingku.
Semua baik-baik saja.
Lalu beberapa orang mulai bercanda.
“Masih awet nih.”
Tamara tertawa kecil.
“Kenzo hebat juga.”
Aku menoleh. “Apanya?”
Orang itu tertawa. “Bisa dapetin Tamara.”
“Dia bukan undian,” jawabku.
Beberapa orang tertawa lagi.
Aku juga tersenyum.
Tidak marah.
Aku sudah tahu risiko berada di sini.
Yang tidak kuketahui adalah bagaimana Tamara merasakan semuanya.
Ketika acara selesai, kami berjalan menuju parkiran bersama beberapa orang lain.
Tanganku menyentuh tangan Tamara.
Kebiasaan.
Aku menggenggam.
Tamara menggenggam balik.
Lalu seseorang di belakang bersiul kecil dan berkata, “Bucin banget.”
Tamara refleks menarik tangannya.
Hanya dua detik.
Mungkin kurang.
Aku melihat tangan kosongku.
Tamara langsung menoleh.
“Ken—”
Aku memasukkan tangan ke saku.
“Hm?”
Wajahnya berubah.
“Nggak apa-apa.”
Aku tersenyum.
Dan saat itu aku tahu.
Bukan karena satu genggaman.
Bukan karena satu komentar.
Aku tahu karena dua minggu terakhir tiba-tiba memiliki bentuk yang jelas.
Di mobil kami hampir tidak bicara.
Tamara yang memecah diam.
“Kamu marah.”
“Nggak.”
“Jangan bilang nggak.”
Aku melihat jalan.
“Mar, kita ngobrol bentar.”
Dia langsung tegang.
Aku memarkir mobil di tempat yang lebih sepi.
Tamara menatapku.
Aku membutuhkan beberapa detik untuk menyusun kata.
“Lo masih sayang gue?”
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Masih.”
Aku mengangguk.
Aku percaya.
“Terus kenapa?”
Tamara menunduk.
“Aku nggak tahu.”
“Orang-orang ngomong?”
Diam.
Itu jawaban.
“Aku awalnya nggak peduli,” katanya cepat. “Serius. Aku nggak peduli.”
“Gue tahu.”
“Tapi mereka terus ngomong. Terus aku—”
Dia berhenti.
“Gue juga tahu.”
Air matanya jatuh.
“Ken, aku nggak pernah mikir kamu kurang.”
Aku tersenyum kecil.
“Jangan bohong sekarang.”
Tamara menutup wajah sebentar.
“Aku nggak tahu kenapa aku jadi begini.”
Aku melihat perempuan yang masih sangat kucintai.
Itu bagian tersulit.
Kalau aku sudah tidak sayang, mungkin semuanya sederhana.
“Kayaknya lo lebih bahagia sebelum kita pacaran.”
Tamara langsung menggeleng. “Nggak.”
“Gue lihat.”
“Nggak, Ken.”
“Lo sekarang harus mikir dulu sebelum pegang tangan gue.”
Dia menangis semakin keras.
Aku tidak ingin membuatnya menangis.
Tapi untuk pertama kalinya aku juga tidak ingin menghapus rasa sakitku sendiri hanya supaya dia nyaman.
“Gue juga lebih suka lo yang dulu.”
Tamara menatapku.
“Yang kalau mau pegang tangan gue, ya pegang aja.”
Dia menutup mulut.
Aku menarik napas.
“Aku bisa benerin.”
Aku hampir mengatakan iya.
Hampir.
Karena aku ingin percaya.
Karena aku masih ingin besok pagi mendapatkan pesan darinya.
Karena tubuhku masih hafal bagaimana rasanya dia bersandar di bahuku.
Tapi ada sesuatu yang sudah retak.
Dan aku tidak tahu bagaimana tinggal di hubungan sambil menunggu apakah dia akan malu lagi besok.
“Mar.”
“Jangan.”
Suara itu kecil.
Aku menatapnya.
“Jangan bilang.”
Dadaku sakit.
Aku tetap harus mengatakannya.
“Gue sayang lo.”
Tamara menangis.
“Makanya cukup sampai sini.”
Dia menggeleng.
“Kenzo.”
“Gue nggak marah sama lo.”
“Terus kenapa harus putus?”
“Karena gue juga harus bisa lihat diri gue sendiri tanpa mikir apa gue bikin pacar gue malu.”
Tamara tidak punya jawaban.
Aku juga tidak.
Beberapa menit kami hanya duduk dengan suara napas yang tidak teratur.
Tangannya bergerak sedikit di atas kursi.
Seperti ingin meraihku.
Tanganku juga ingin bergerak.
Aku menahannya.
Tidak ada breakup kiss.
Tidak ada pelukan terakhir.
Kalau aku menyentuhnya sekarang, aku tahu aku mungkin tidak sanggup pergi.
Tamara akhirnya membuka pintu.
Sebelum turun dia menoleh.
“Aku beneran sayang kamu.”
Aku menatapnya.
“Gue tahu.”
Itulah yang paling menyakitkan.
Dia turun.
Aku menunggu sampai dia masuk.
Baru kemudian menjalankan mobil.
Di lampu merah pertama, tanganku refleks bergerak ke sisi kursi tempat biasanya tangan Tamara berada.
Kosong.
Aku menariknya kembali.
Untuk pertama kalinya sejak kami bersama, aku pulang tanpa pesan yang harus kutunggu.
Dan untuk pertama kalinya sejak Tamara menggenggam tanganku dan berkata jangan dilepas—
aku sendiri yang memilih berjalan tanpa tangan itu.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas reading
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku