← Besok, Jam Tujuh

Chapter Twelve

Cocok

POV: Tamara

Aku tidak berubah pikiran tentang Kenzo.

Setidaknya itu yang terus kukatakan pada diriku sendiri.

Masalahnya, komentar yang datang tidak pernah cukup buruk untuk dilawan habis-habisan.

Kalau seseorang menghina Kenzo, aku bisa marah.

Tapi mereka tidak menghina.

“Kenzo baik banget sih.”

“Iya.”

“Dia pinter juga.”

“Iya.”

“Lo kelihatan nyaman sama dia.”

“Iya.”

Lalu jeda.

“Cuma?”

“Nggak ada cuma.”

Tetapi selalu terasa ada.

Keisha paling jarang bicara soal itu. Justru suatu sore ketika kami berdua saja, dia bertanya dengan hati-hati.

“Mar, lo happy kan?”

Aku menoleh. “Sama Kenzo?”

“Iya.”

“Happy.”

“Ya udah.”

Aku mengernyit. “Kenapa?”

Keisha mengangkat bahu. “Gue cuma pengen tahu.”

“Lo juga merasa kita nggak cocok?”

“Gue nggak bilang gitu.”

“Tapi?”

Dia menghela napas. “Gue kira lo bakal sama orang yang... lebih mirip dunia lo.”

Aku tertawa pendek. “Dunia gue apaan?”

“Ya lo tahu.”

Aku tahu.

Dan aku benci karena aku tahu.

Malamnya Kenzo menjemputku setelah kelas tambahan. Dia datang lima menit lebih awal seperti biasa.

Begitu masuk mobilku—hari itu aku yang menyetir—aku menyerahkan satu bungkus makanan.

“Apa ini?”

“Kamu belum makan.”

“Kok tahu?”

“Kamu kalau udah makan nggak bakal lihat makanan orang di kantin kayak tadi.”

Kenzo membuka bungkusnya. “Observasi lo mulai bahaya.”

“Belajar dari kamu.”

Dia tersenyum.

Hal-hal seperti itu membuat semua komentar terasa bodoh.

Sampai besoknya datang lagi.

Aku sedang melihat foto yang diambil Keisha saat kami makan bersama. Kenzo duduk di sebelahku, tangannya di belakang kursiku. Aku suka fotonya.

Jariku sudah berada di tombol unggah.

Lalu aku teringat beberapa komentar terakhir.

Serius kalian pacaran?

Unexpected banget.

Lo bisa dapet siapa aja.

Aku menatap foto itu lebih lama.

Entah kenapa aku membayangkan respons orang sebelum foto itu bahkan terunggah.

Aku menutup aplikasi.

Tidak jadi.

Perasaan bersalah datang cepat.

Kenzo tidak tahu.

Sore itu kami bertemu Adrian di lobi gedung pusat. Dia menyapa kami berdua.

“Mar. Zo.”

Kenzo dan Adrian bicara soal sistem acara lagi. Aku berdiri di antara mereka.

Dua mahasiswa di dekat pintu melihat ke arah kami. Salah satunya berbisik sesuatu pada temannya.

Aku tidak mendengar.

Tapi tiba-tiba aku sadar pada bagaimana kami terlihat dari luar.

Adrian dengan pakaian rapi, jam mahal, cara bicara yang mudah menarik perhatian.

Kenzo dengan kemeja sederhana, tas laptop yang sudah dipakai sejak semester pertama, rambut yang tidak pernah terlalu dipikirkan.

Pikiran itu muncul tanpa izin.

Kalau dilihat dari luar...

Aku langsung membencinya.

Kenzo menoleh. “Mar?”

“Hm?”

“Lo kenapa?”

“Nggak.”

Dia menatapku beberapa detik.

Aku tersenyum.

Kenzo tidak memaksa.

Malamnya dia mengirim foto dua pilihan makanan.

Kenzo: Besok mau yang mana?

Aku menatap layar.

Dulu aku akan langsung menjawab.

Sekarang ada rasa sesak yang tidak punya alasan jelas.

Tamara: Terserah kamu.

Balasannya datang.

Kenzo: Oke.

Tidak ada masalah.

Tidak ada pertengkaran.

Aku masih mencintainya.

Aku masih ingin bertemu besok.

Aku masih tahu persis kenapa aku memilihnya.

Tapi untuk pertama kalinya, aku mulai melihat hubungan kami bukan dari tempatku berdiri di samping Kenzo.

Aku melihatnya dari seberang.

Dari mata orang lain.

Dan aku belum tahu bahwa itu adalah awal dari kesalahan terbesar yang akan kubuat.