← Besok, Jam Tujuh

Chapter Twenty Eight

Nadira

POV: Tamara

Aku tahu Nadira suka Kenzo sebelum dia mengatakan apa pun.

Mungkin karena aku perempuan.

Mungkin karena aku pernah melihat diriku sendiri menatap Kenzo seperti itu.

Mereka duduk di tangga depan perpustakaan. Raka belum datang. Nadira sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya.

Kenzo tertawa.

Nadira memukul bahunya ringan.

Tidak ada yang romantis.

Justru itu yang membuat dadaku sesak.

Mereka nyaman.

Nadira tidak melihat sekeliling sebelum menyentuhnya.

Tidak berpikir siapa yang memperhatikan.

Tidak merasa perlu menjelaskan kenapa dia duduk dekat Kenzo.

Dia cuma ada di sana.

Sesederhana itu.

Aku berdiri di sisi lain halaman cukup lama sampai Keisha datang.

“Mar?”

Aku mengalihkan mata.

“Kenapa?”

Keisha mengikuti pandanganku.

“Oh.”

Aku tidak suka nada itu.

“Jangan.”

“Gue nggak ngomong apa-apa.”

“Aku tahu.”

Kenzo dan Nadira berdiri. Nadira menarik ujung lengan Kenzo karena dia hampir berjalan ke arah yang salah sambil melihat ponsel.

Gerakan kecil.

Dadaku langsung panas.

Aku ingin menghampiri.

Ingin berdiri di antara mereka.

Ingin mengingatkan Nadira bahwa aku—

Aku apa?

Mantan pacarnya?

Orang yang melepaskan tangannya sendiri?

Aku menelan semuanya.

Gue nggak kehilangan Kenzo karena Nadira.

Kalimat itu harus kuulang.

Nadira bisa dekat karena gue sudah bukan pacarnya.

Kenzo melihatku.

Dia mengangguk kecil.

Aku membalas.

Nadira juga melihatku.

Ada sepersekian detik sesuatu di matanya.

Kemudian dia tersenyum sopan.

Aku membalas.

Mereka pergi.

Keisha tidak mengatakan apa-apa sampai kami masuk gedung.

“Aku cemburu,” kataku akhirnya.

“Normal.”

“Aku benci.”

“Itu juga normal.”

Aku menghela napas.

“Yang nggak normal kalau gue ngapa-ngapain.”

Keisha menatapku.

Aku melanjutkan, “Aku nggak punya hak.”

Dia mengangguk pelan.

Sore itu aku duduk sendirian di mobil.

Aku teringat semua kali Kenzo menggenggam tanganku di depan orang.

Betapa mudahnya dulu.

Kemudian aku mulai membuatnya sulit.

Aku melihat Nadira tadi dan baru benar-benar memahami betapa sederhana seharusnya keberanian itu.

Kalau suka seseorang, duduk di sampingnya.

Kalau ingin menyentuh, sentuh—selama dia mengizinkan.

Kalau orang melihat, biarkan.

Aku pernah punya semua itu.

Lalu aku membuat Kenzo merasa keberadaannya adalah sesuatu yang perlu dikelola.

Ponselku ada di tangan.

Aku membuka chat.

Kali ini aku mengetik.

Tamara: Ken, boleh ketemu kapan-kapan?

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu menghapus.

Belum.

Aku masih belum yakin alasan utamaku ingin bertemu bukan karena baru melihat Nadira.

Kalau aku mendatangi Kenzo sekarang hanya karena takut perempuan lain mengambilnya, aku belum belajar apa-apa.

Aku meletakkan ponsel.

Besok.

Atau lusa.

Ketika rasa cemburu ini tidak lagi menjadi suara paling keras.

Aku akan meminta bertemu.

Bukan untuk merebut.

Bukan untuk meminta balikan.

Untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya sudah kukatakan sejak lama.

Maaf.

Sebelum pulang, aku melihat Nadira sekali lagi dari kejauhan.

Dia berjalan sendiri sekarang.

Aneh, aku tidak membencinya.

Sulit membenci seseorang hanya karena dia melihat kualitas yang seharusnya sejak dulu kuhargai.

Dan untuk pertama kalinya, ketakutanku bukan lagi bahwa Nadira mungkin mendapatkan Kenzo.

Ketakutanku adalah bahwa kalau itu terjadi—

aku tidak punya siapa pun untuk disalahkan selain diriku sendiri.