← Besok, Jam Tujuh

Chapter Twenty Nine

Maaf

POV: Tamara

Aku menunggu dua hari.

Bukan untuk membuat strategi.

Aku cuma ingin memastikan ketika menghubungi Kenzo, aku tahu kenapa.

Akhirnya aku mengirim pesan.

Tamara: Ken, kalau kamu ada waktu, aku mau ketemu.

Balasan datang hampir dua puluh menit kemudian.

Kenzo: Besok habis kelas bisa.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada emoji.

Aku mengembuskan napas.

Tamara: Bisa. Makasih.

Kami bertemu di kafe yang tidak punya terlalu banyak kenangan.

Kenzo datang tepat waktu.

Tentu saja.

Dia duduk di depanku.

“Mau ngomong apa?”

Langsung.

Aku sudah melatih kalimat semalaman.

Begitu melihat wajahnya, semuanya terasa jelek.

Jadi aku memilih yang paling sederhana.

“Aku mau minta maaf.”

Kenzo diam.

Aku menatap tanganku.

“Aku dengerin mereka.”

Suaraku mulai tidak stabil.

“Aku mulai lihat kamu dari mata orang lain. Terus aku bikin kamu ngerasa kalau berdiri di samping kamu itu sesuatu yang harus aku malu-in.”

Kenzo tidak menyela.

“Aku dulu terus mikir mereka yang bikin hubungan kita rusak.”

Aku menggeleng.

“Bukan.”

Air mataku jatuh.

“Mereka ngomong. Aku yang milih dengerin.”

Kenzo menatapku.

Tidak dingin.

Itu hampir membuatku lebih sulit bicara.

“Aku juga tahu kamu harusnya ngomong lebih awal kalau sakit. Tapi...” Aku menarik napas. “Aku nggak mau pakai itu buat ngurangin salahku.”

Kenzo menunduk sebentar.

“Aku salah, Ken.”

Tanganku gemetar.

“Bukan mereka.”

Aku mengusap air mata.

“Aku.”

Sunyi.

Aku tidak mengatakan aku masih cinta.

Dia tahu.

Aku tidak mengatakan aku ingin kembali.

Itu bukan tujuan percakapan ini.

“Maafin aku.”

Kenzo menarik napas panjang.

“Iya.”

Aku mengangkat mata.

“Aku maafin.”

Relief datang begitu kuat sampai dadaku sakit.

Aku menangis lagi, kali ini sambil tertawa kecil karena malu.

“Makasih.”

Kenzo mengangguk.

Kami duduk beberapa menit lagi.

Aneh.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada musik.

Dunia tidak berubah.

Kenzo meminum kopinya.

Aku mengusap wajah.

Akhirnya dia melihat jam.

“Gue harus ke lab.”

“Oh.”

Kenzo berdiri.

Aku ikut berdiri secara refleks.

“Ken.”

“Hm?”

Ada bagian lama dalam diriku yang menunggu sesuatu.

Mungkin pelukan.

Mungkin kalimat bahwa kami bisa mencoba lagi.

Mungkin pertanyaan apakah aku masih sayang.

Tidak ada.

Kenzo hanya menunggu.

“Terus...?”

Begitu kata itu keluar, aku langsung membencinya.

Kenzo terlihat benar-benar bingung.

“Terus apa?”

Aku diam.

Dan semuanya jatuh ke tempatnya.

Permintaan maaf bukan kunci.

Pengampunan bukan tiket pulang.

Kenzo memaafkanku karena dia memilih memaafkan.

Bukan karena itu berarti aku mendapatkannya kembali.

“Nggak,” kataku cepat. “Nggak apa-apa.”

Kenzo menatapku beberapa detik.

“Oke.”

Dia mengambil tas.

“Mar.”

“Hm?”

“Makasih udah ngomong.”

Aku hampir menangis lagi.

“Iya.”

Kenzo pergi.

Aku tetap berdiri sampai pintu kafe menutup di belakangnya.

Baru kemudian duduk.

Air mata turun lagi.

Kali ini aku tidak mengejar.

Tidak mengirim pesan.

Tidak meminta satu kesempatan.

Mama benar.

Aku berutang permintaan maaf.

Aku sudah membayarnya.

Tidak ada barang yang harus kuterima sebagai kembalian.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Sakit.

Sangat.

Tapi di balik rasa sakit itu ada sesuatu yang baru.

Jelas.

Kenzo tidak berutang cinta kepadaku hanya karena aku akhirnya mengerti kesalahanku.

Kalau aku benar-benar berubah, perubahan itu harus tetap ada bahkan kalau dia tidak pernah kembali.

Aku mengusap air mata.

Untuk pertama kalinya sejak putus, aku tidak bertanya bagaimana caranya mendapatkan Kenzo lagi.

Aku bertanya sesuatu yang jauh lebih sulit.

Kalau dia tidak kembali, aku tetap mau jadi orang yang lebih baik dari Tamara yang dulu?

Jawabannya datang pelan.

Iya.

Dan mungkin justru dari sana penebusanku benar-benar dimulai.