Chapter Seven
Pacar
POV: Kenzo
Punya pacar ternyata mengubah banyak hal kecil.
Pagi yang biasanya dimulai dengan alarm sekarang sering dimulai dengan pesan.
Tamara: Pagi pacar.
Tamara: Bangun. Jangan bilang hm.
Aku mengetik sambil setengah tidur.
Kenzo: Hm.
Telepon masuk tiga detik kemudian.
“Kenzo.”
“Hm?”
“Nyebelin.”
“Jam enam pagi, Mar.”
“Aku mau bilang pagi.”
“Gue baca.”
“Aku mau denger.”
Aku membuka mata. “Pagi.”
Tamara tertawa kecil. “Nah. Gitu.”
Setelah seminggu pacaran, Tamara seolah menemukan hobi baru: menguji seberapa mudah dia membuatku kehilangan ritme.
Ternyata cukup mudah.
Di kampus dia mulai menyandarkan kepala ke bahuku. Kadang merangkul lengan tanpa alasan. Kalau kami berjalan, tangannya otomatis mencari tanganku.
Aku mulai terbiasa.
Yang belum terbiasa adalah Tamara melakukannya tanpa peduli siapa yang melihat.
Siang itu kami makan bersama Raka, Nadira, Keisha, dan Vanessa di kafe depan kampus.
“Jadi ini Kenzo?” Vanessa bertanya.
Tamara yang sedang mengambil minumanku menjawab, “Ini Kenzo.”
“Gue kira—”
Keisha menyikutnya.
“Apa?” Vanessa tertawa. “Gue cuma mau bilang akhirnya dikenalin.”
Aku tidak terlalu memikirkan jeda tadi.
Tamara mengembalikan gelasku.
“Minum kamu nggak enak.”
“Kenapa diminum?”
“Penasaran.”
“Udah tahu pahit.”
“Masih penasaran.”
Raka memandang kami dengan ekspresi mual. “Gue pindah meja.”
“Silakan.”
Tamara tertawa lalu menyandarkan kepala ke lenganku.
Selesai makan, Tamara harus kembali ke gedung Manajemen. Aku mengantarnya sampai persimpangan.
“Udah, sana,” katanya.
“Gue juga mau lewat sini.”
“Bohong.”
“Sedikit.”
Tamara berhenti lalu membuka kedua tangan.
Aku melihatnya. “Kenapa?”
“Ya ampun.”
Dia maju sendiri dan memelukku.
Tubuhku kaku sepersekian detik sebelum tanganku mengelilingi punggungnya.
Pelukan pertama kami hangat, pas, dan membuatku tidak terlalu ingin melepas.
Tamara mundur sedikit. “Kamu kaku banget tadi.”
“Baru pertama.”
“Pelukan?”
“Sama pacar.”
“Oh.”
Senyumnya menyebalkan.
“Jangan mulai.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
Dia berbalik hendak pergi, lalu kembali satu langkah dan mencium pipiku.
Singkat.
“Bye.”
Tamara langsung berjalan menjauh.
Aku berdiri diam.
“Zo.”
Aku menoleh.
Raka entah sejak kapan berdiri beberapa meter di belakang.
“Muka lo kayak orang baru di-restart.”
“Diam.”
“Merah tuh.”
“Panas.”
“Ini koridor AC.”
“Raka.”
Dia tertawa keras.
Sore harinya aku menunggu Tamara selesai kelas. Dia keluar bersama Keisha sambil terlihat lelah.
Begitu melihatku, ekspresinya berubah.
“Kok masih di sini?”
“Gue bilang nunggu.”
“Kukira bercanda.”
“Gue jarang bercanda soal waktu.”
Keisha memandang kami. “Oke, gue duluan.”
Tamara berjalan di sampingku menuju parkiran.
“Ken.”
“Hm?”
“Makasih.”
“Buat?”
“Nunggu.”
Aku mengangkat bahu. “Kan gue bilang.”
Beberapa langkah kemudian tangannya merangkul lenganku.
Bagiku, kalau bilang akan datang, ya datang.
Malamnya pesan masuk.
Tamara: Aku suka punya pacar kamu.
Kenzo: Pacar gue siapa?
Tamara: Ih.
Kenzo: Gue juga suka punya pacar lo.
Tiga titik muncul cukup lama.
Tamara: Kenzo. Jangan tiba-tiba manis.
Aku tersenyum.
Seminggu lalu aku masih berpikir berdiri di samping Tamara akan terasa aneh.
Sekarang yang terasa aneh justru ketika tangannya tidak ada di lenganku.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar reading
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku