Chapter Thirty One
Perempuan yang Menunggu
POV: Tamara
Aku belajar bahwa menunggu seseorang jauh lebih sulit ketika kau tahu persis bagaimana rasanya pernah memilikinya.
Dulu aku bisa mengirim pesan kapan saja.
Sekarang aku sering mengetik lalu menghapus.
Bukan karena takut ditolak.
Aku hanya tidak ingin setiap rasa rindu berubah menjadi beban untuk Kenzo.
Keisha bilang aku jadi terlalu hati-hati.
Mungkin.
Tapi untuk pertama kalinya aku merasa hati-hati adalah hal yang seharusnya kupelajari.
Hari itu aku sedang berdiri di depan gedung pusat ketika Kenzo keluar sendirian.
Kami berjalan ke arah yang sama.
“Pulang?” tanyaku.
“Hm. Lo?”
“Perpustakaan dulu.”
Kami berjalan berdampingan.
Tidak canggung seperti beberapa minggu lalu.
Tapi tubuhku masih hafal jarak yang dulu tidak pernah ada.
Tangannya bergerak dekat tanganku.
Aku refleks ingin menyentuh.
Berhenti.
Kenzo melihat gerakan itu.
Aku pura-pura membetulkan tas.
Dia tidak mengatakan apa-apa.
Kami sampai di persimpangan.
“Ken.”
“Hm?”
Aku sudah berniat mengatakan sampai ketemu.
Yang keluar malah berbeda.
“Aku kangen kamu.”
Kenzo diam.
Dadaku langsung berdebar.
Aku tersenyum kecil sebelum dia sempat merasa harus menjawab.
“Nggak perlu jawab.”
Aku berbalik.
“Mar.”
Aku menoleh.
Kenzo menatapku.
Ada terlalu banyak hal di wajahnya yang tidak bisa kubaca.
Akhirnya dia hanya berkata, “Hati-hati.”
Aku mengangguk.
“Kamu juga.”
Aku pergi.
Langkahku baru goyah setelah membelakangi dia.
Bodoh. Kenapa ngomong?
Tapi beberapa detik kemudian aku mengoreksi diri sendiri.
Tidak.
Aku tidak salah karena jujur.
Aku hanya harus belajar bahwa kejujuran tidak selalu membutuhkan balasan.
Malamnya Keisha datang ke rumah.
“Gimana?”
“Gimana apanya?”
“Lo ketemu Kenzo.”
Aku menatapnya. “CCTV kalian nyambung semua ya?”
“Raka lihat.”
“Pengkhianat.”
Keisha tertawa.
Aku menceritakan sedikit.
Ketika sampai bagian aku bilang kangen, dia memukul bantal.
“Terus?”
“Nggak ada terus.”
“Dia nggak jawab?”
“Aku bilang nggak perlu.”
Keisha menatapku lama.
“Lo berubah.”
Aku tersenyum tipis. “Semoga.”
Bukan cuma Kenzo yang harus kulihat dengan benar.
Aku juga mulai melihat diriku sendiri.
Dulu aku sangat terbiasa menjadi orang yang didekati.
Ditunggu.
Diinginkan.
Sekarang aku berada di sisi yang berbeda.
Aku tahu Kenzo masih mungkin punya rasa.
Tapi itu tidak memberiku kepastian.
Dan ternyata mencintai seseorang tanpa kepastian membuatku mengerti banyak hal tentang Kenzo yang dulu tidak kupahami.
Bagaimana dia bisa menyukaiku lama tanpa meminta apa pun.
Bagaimana dia bisa tetap menghormati jarakku.
Bagaimana dia tidak pernah menggunakan kebaikannya sebagai alasan agar aku memilihnya.
Aku pernah menganggap itu kurang berani.
Sekarang aku tahu ada keberanian lain di sana.
Keberanian menerima bahwa orang yang kita cintai tetap punya pilihan.
Besoknya aku bertemu Kenzo lagi di kantin.
Dia sedang bersama Raka dan Nadira.
Aku menyapa.
“Hai.”
“Hai.”
Nadira tersenyum kepadaku.
Aku membalas.
Tidak ada territorial marking.
Tidak ada usaha duduk dekat.
Aku membeli makan lalu pergi ke meja lain bersama Keisha.
Ketika aku duduk, ponselku berbunyi.
Nama Kenzo.
Jantungku langsung melompat.
Kenzo: Mar.
Aku menatap layar.
Tamara: Hm?
Beberapa detik.
Kenzo: Gue denger kok kemarin.
Aku menahan napas.
Lalu pesan kedua.
Kenzo: Cuma belum tahu jawabnya gimana.
Aku tersenyum dengan mata panas.
Tamara: Nggak apa-apa.
Aku tidak menambahkan apa pun.
Tidak perlu.
Untuk hari ini, mengetahui dia tidak menutup telinga sudah lebih dari cukup.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu reading
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku