← Besok, Jam Tujuh

Chapter Thirty Nine

Jangan Duduk di Situ

POV: Kenzo

Tamara datang ke rumah dengan niat belajar.

Setidaknya itu yang dia katakan.

Empat puluh menit pertama masih masuk akal.

Dia duduk di sebelahku, membuka laptop, mengerjakan tugas, dan hanya dua kali mencuri minumanku.

Kemudian konsentrasinya mati.

“Ken.”

“Hm?”

“Bosen.”

“Kerjain tugas.”

“Udah.”

Aku melihat layar. “Belum.”

“Secara emosional udah.”

Aku mengabaikannya.

Lima menit kemudian kepalanya bersandar di bahuku.

Aku tetap mengetik.

Lalu dia mengambil ponselku.

“Mar.”

“Apa?”

“Balikin.”

“Password-nya apa?”

“Lo tahu.”

“Aku mau kamu bilang.”

“Kenapa?”

“Biar romantis.”

Aku mengambil ponsel dari tangannya.

Tamara protes lalu bergeser lebih dekat.

“Kenzo.”

“Gue lagi belajar.”

“Aku nggak ganggu.”

“Kepala lo di tangan gue.”

“Oh.”

Dia mengangkat kepala.

Aku kembali mengetik.

Dua menit kemudian Tamara berdiri, lalu tanpa peringatan duduk menyamping di pangkuanku untuk melihat layar.

Tanganku berhenti.

“Mar.”

“Hm?”

“Turun.”

“Kenapa?”

“Gue lagi belajar.”

“Aku nggak ganggu.”

Aku menatap posisi kami.

Tamara mengikuti pandanganku.

Senyumnya muncul.

Dia sengaja tidak bergerak.

“Yakin?”

“Yakin.”

Aku meletakkan tangan di pinggangnya supaya dia tidak jatuh.

Tamara semakin nyaman.

Kesalahan.

Aku mendekat ke telinganya.

“Kalau memang mau gue belajar...”

Dia menoleh.

Jarak wajah kami terlalu dekat.

“...jangan duduk di situ.”

Untuk pertama kalinya Tamara kehilangan senyum jahilnya.

Aku menikmati kemenangan sekitar dua detik.

Lalu dia menarik kerahku.

Ciuman dimulai sebagai balasan.

Berubah lebih lama.

Laptop terlupakan.

Tamara berbalik sedikit menghadapku. Tanganku tetap di pinggangnya, menahannya dekat. Bibirnya pindah dari bibirku hanya untuk mengambil napas sebelum kembali.

Aku mencium sisi wajahnya, lalu pelan ke dekat leher.

Tamara menarik napas.

“Ken.”

Aku berhenti.

Matanya menatapku.

Tidak ada keraguan.

Dia justru mendekat lagi.

Aku mencium bibirnya.

Lebih lambat kali ini.

Ketika kami akhirnya berhenti, Tamara menyandarkan dahi ke bahuku sambil tertawa kecil.

“Belajarnya gagal.”

“Gara-gara siapa?”

“Kamu.”

Aku menatapnya.

Dia tertawa.

Beberapa menit kemudian kami pindah ke sofa. Tamara berbaring dengan kepala di dadaku. Tanganku memainkan rambutnya.

Suasana yang tadi panas berubah tenang.

“Ken.”

“Hm?”

“Kalau aku salah lagi, bilang.”

Tanganku berhenti sebentar.

Tamara melanjutkan, “Jangan tunggu aku nebak.”

“Iya.”

“Serius.”

“Gue juga mau ngomong sesuatu.”

Dia mengangkat kepala.

“Kalau gue sakit hati?”

“Bilang.”

“Kalau gue kesel?”

“Bilang.”

“Kalau kita berantem?”

“Berantem.”

Aku tersenyum. “Terus?”

Tamara berpikir.

“Jangan putus.”

Aku tertawa kecil.

“Deal.”

Dia kembali meletakkan kepala.

Beberapa saat kemudian dia bertanya, “Nadira baik-baik aja?”

“Iya.”

“Dia baik.”

“Hm.”

“Dia suka banget sama kamu.”

“Iya.”

Tamara mencubit perutku.

“Kenapa?”

“Nggak perlu bangga.”

“Gue jawab.”

“Jawabnya jangan semangat.”

Aku tertawa.

Kemudian aku serius.

“Gue nggak mau kehilangan lo lagi.”

Tamara diam.

Aku merasakan tangannya mencengkeram kausku sedikit.

“Aku juga.”

“Tapi kalau ada masalah, gue nggak mau langsung mikir pergi.”

Tamara mengangkat wajah.

“Makanya bilang.”

Aku mengangguk.

Itu terdengar sederhana.

Dulu juga seharusnya sederhana.

Tapi sekarang kami tahu sederhana tidak berarti mudah.

Tamara mencium daguku sekali.

“Sayang kamu.”

“Gue juga.”

Dia tersenyum lalu kembali nyaman di dadaku.

Aku melihat laptop yang masih terbuka jauh di meja.

Tugas belum selesai.

Tidak apa-apa.

Untuk pertama kalinya aku mengerti ada bentuk kedekatan yang lebih besar daripada bisa menyentuh Tamara tanpa ragu.

Membiarkan dia melihat ketakutanku tanpa buru-buru menutupnya ternyata jauh lebih intim.

Dan kali ini, aku tidak ingin hanya menjadi tempat Tamara bersandar.

Aku juga ingin belajar bersandar.