← Besok, Jam Tujuh

Chapter Thirty Seven

Kangen

POV: Kenzo

Pagi pertama setelah balikan terasa lebih aneh daripada yang seharusnya.

Ponselku berbunyi jam enam lewat dua belas.

Tamara: Pagi.

Aku membaca.

Kenzo: Pagi.

Tiga menit tidak ada pesan.

Lalu:

Tamara: Kita pacaran kan?

Aku tertawa.

Kenzo: Setahu gue iya.

Tamara: Kok chatnya kayak customer service?

Kenzo: Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?

Telepon langsung masuk.

Aku mengangkat sambil tertawa.

“Kenzo.”

“Selamat pagi, Kak.”

“Jangan mulai.”

“Katanya customer service.”

Tamara mendesah, lalu suaranya melembut.

“Pagi, pacar.”

Ada sesuatu di dada yang masih terasa baru meski kalimat itu pernah menjadi milik kami.

“Pagi.”

“Nah.”

“Apanya?”

“Lebih bener.”

Kami bertemu setelah kelas.

Tamara berdiri di depan gedung, dan selama beberapa detik kami hanya saling melihat.

“Hai,” katanya.

“Hai.”

Aneh.

Kemarin dia menangis di pelukanku.

Kami berciuman.

Sekarang kami seperti dua orang yang lupa protokol pacaran.

Tamara akhirnya mengangkat kedua tangan sedikit.

“Boleh peluk nggak?”

Aku hampir tertawa.

“Sejak kapan nanya?”

Senyumnya mengecil.

“Sejak pernah kehilangan izin.”

Kalimat itu menghentikan tawaku.

Aku membuka tangan.

Tamara langsung masuk.

Pelukannya erat.

Aku memeluk balik.

Tidak ada rasa canggung setelah itu.

Tubuhku mengenalnya terlalu baik.

Wangi rambutnya.

Cara tangannya mengelilingi pinggangku.

Cara kepalanya pas di bawah daguku.

“Kangen,” bisiknya.

Aku mencium rambutnya.

“Gue juga.”

Kami berdiri lebih lama dari yang diperlukan.

Ketika Tamara mundur, matanya sedikit merah.

“Jangan nangis.”

“Aku nggak nangis.”

“Mata lo.”

“Debu.”

“Di dalam gedung?”

“Debu indoor.”

Aku tertawa.

Tamara memukul lenganku.

Kami makan siang bersama. Hal-hal lama kembali dengan kecepatan yang membuatku heran.

Tamara mencuri makananku.

Aku mengambil minumannya.

Dia protes.

Aku tidak peduli.

Bedanya, sekarang setiap kali tangannya menyentuhku, ada lapisan kesadaran baru.

Bukan takut.

Lebih seperti rasa syukur yang tidak perlu terus disebut.

Sore kami duduk di mobilnya.

Tamara menatapku terlalu lama.

“Apa?”

“Nggak.”

“Kenapa lihat-lihat?”

“Lihat pacarku.”

Aku mengangkat alis.

“Udah puas?”

“Belum.”

Dia mendekat.

Tangannya menarik kerah bajuku seperti dulu.

Aku menatap tangannya.

Tamara berhenti.

“Kenapa?”

Aku tersenyum.

“Masih kebiasaan.”

“Protes?”

“Nggak.”

Aku menutup jarak.

Ciumannya langsung terasa familiar.

Tidak seperti kemarin yang hati-hati.

Kali ini ada ritme lama yang kembali. Tamara tahu kapan aku akan mendekat. Aku tahu cara dia menarik napas ketika ciuman berlangsung lebih lama.

Tanganku berada di pinggangnya.

Tamara semakin dekat.

Ketika kami berhenti, dia masih memegang kerahku.

“Segitu doang?” bisiknya.

Aku tertawa.

“Masih juga.”

“Jawab.”

Aku mencium dia lagi sebelum dia selesai tersenyum.

Kali ini Tamara yang tertawa di sela ciuman.

Setelahnya dia menyandarkan kepala ke bahuku.

“Ken.”

“Hm?”

“Aku seneng.”

“Gue juga.”

Tidak ada kalimat besar.

Tidak perlu.

Malamnya setelah pulang, aku berbaring dan menatap chat kami.

Tamara: Udah rumah?

Kenzo: Udah.

Tamara: Good night pacar.

Kenzo: Good night.

Lalu aku mengetik satu pesan lagi sebelum berpikir terlalu jauh.

Kenzo: Kangen.

Balasan datang nyaris seketika.

Tamara: BARU PULANG 😭

Aku tertawa.

Kenzo: Ya udah gue tarik.

Tamara: NGGAK BOLEH.

Aku meletakkan ponsel di dada.

Dulu aku sering menyembunyikan rasa sayang di balik tindakan karena terasa lebih mudah.

Sekarang ternyata mengatakannya juga tidak membuatku kehilangan apa-apa.

Aku punya pacar lagi.

Perempuan yang sama.

Tapi hubungan ini tidak terasa seperti kami kembali ke tempat lama.

Rasanya seperti kami akhirnya berjalan ke tempat baru sambil membawa semua yang sudah kami pelajari.

Dan untuk malam pertama, aku tidak memikirkan bagaimana hubungan kami pernah berakhir.

Aku cuma tersenyum karena Tamara kembali memanggilku pacar.