Chapter Thirty Six
Jangan Dilepas
POV: Tamara
Aku tidak tahu bahwa hari ketika Kenzo memilihku lagi akan dimulai dengan aku hampir menumpahkan minuman ke baju sendiri.
Gathering kecil setelah acara kampus terlalu ramai. Keisha menertawakanku karena sejak tadi mataku otomatis mencari satu orang.
“Dia belum datang.”
“Aku nggak nanya.”
“Gue juga nggak bilang siapa.”
Aku mendelik.
Lima menit kemudian Kenzo masuk bersama Raka dan Nadira.
Dadaku langsung terasa ringan.
Menyebalkan.
Kami belum pacaran.
Belum ada status.
Tapi sejak makan siang kemarin, jarak di antara kami terasa berbeda.
Kenzo melihatku.
Aku tersenyum.
Dia datang mendekat.
“Hai.”
“Hai.”
Raka langsung menarik Keisha pergi dengan alasan yang sangat buruk.
Nadira hanya menatapku sebentar lalu ikut.
Aku dan Kenzo berdiri berdua.
“Kamu telat.”
“Dua menit.”
“Telat.”
“Macet.”
“Alasan.”
Kenzo tersenyum.
Kami ikut bergabung dengan yang lain.
Semuanya berjalan baik sampai seseorang yang kukenal dari circle lama berkata sambil tertawa, “Kalian deket lagi?”
Aku belum menjawab.
Orang lain menyahut, “Balikan?”
Beberapa kepala menoleh.
Aku merasakan tubuh Kenzo di sampingku sedikit berubah.
Kemudian suara lain.
“Mar, serius? Setelah semuanya masih Kenzo?”
Kalimat itu dulu mungkin akan tinggal di kepalaku semalaman.
Sekarang yang pertama kurasakan justru heran.
Kenapa bukan Kenzo?
Aku menoleh.
Kenzo sudah mundur setengah langkah.
Memberiku ruang.
Kebiasaan lama.
Dadaku sakit melihatnya.
Aku bergerak lebih dulu.
Tanganku mencari tangannya.
Kenzo menatap ketika jemariku masuk di antara jemarinya.
Aku menggenggam.
“Iya,” kataku.
Orang tadi mengangkat alis. “Iya apanya?”
Aku menatap Kenzo.
“Masih Kenzo.”
Sunyi sepersekian detik.
Seseorang tertawa canggung.
Aku tidak peduli.
Kenzo mencoba menarik tangannya sedikit.
Mungkin overwhelmed.
Aku menggenggam lebih erat.
“Jangan dilepas.”
Matanya langsung berubah.
Kalimat itu milik kami.
Pernah menjadi awal.
Pernah menjadi sesuatu yang kuhancurkan.
Sekarang aku mengatakannya tanpa tahu apakah Kenzo akan memilih menggenggam kembali.
Beberapa detik kemudian genggamannya menguat.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada drama.
Percakapan di sekitar kami perlahan bergerak lagi.
Tapi untukku ruangan itu sudah berubah.
Setelah acara, Kenzo menarikku ke sisi koridor yang lebih sepi.
“Kamu ngapain?”
“Pegang tangan orang yang aku sayang.”
“Tamara.”
“Hm?”
Dia menatapku lama.
“Kalau mereka ngomong lagi?”
“Biar.”
“Kalau mereka bilang lo bisa dapet yang lebih baik?”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena pertanyaannya lucu.
Karena akhirnya aku benar-benar tahu jawabannya.
“Mereka nggak tahu kalau yang lebih baik itu kamu.”
Kenzo diam.
Aku menggeleng cepat.
“Bukan berarti kamu lebih tinggi dari semua orang.”
“Gue ngerti.”
“Aku cuma—”
“Gue ngerti, Mar.”
Mataku panas.
Kenzo menarik napas.
“Aku takut.”
“Aku tahu.”
“Masih.”
“Iya.”
“Gue mungkin bakal kepikiran lagi.”
“Ya bilang.”
“Gue bisa nyebelin.”
“Aku juga.”
Dia tertawa kecil.
Aku menunggu.
Tidak meminta.
Akhirnya Kenzo berkata, “Kita coba lagi.”
Air mataku langsung jatuh.
Aku tertawa sambil menangis.
“Bukan coba.”
Kenzo mengangkat alis.
“Kali ini kita benerin.”
Dia tersenyum.
Kemudian membuka tangannya.
Aku masuk ke pelukannya tanpa ragu.
Sudah lama sekali.
Tubuhku masih hafal.
Wangi bajunya.
Cara lengannya menutup punggungku.
Tempat wajahku pas di dadanya.
“Kangen,” bisikku.
Tangannya mengusap rambutku.
“Gue juga.”
Aku mundur sedikit.
Wajah kami dekat.
Dulu aku mungkin akan menarik kerahnya dan mencium lebih dulu.
Sekarang aku menunggu.
Kenzo melihat bibirku.
Lalu mataku.
Dia yang menutup jarak.
Ciuman pertama hubungan kedua kami lembut.
Tidak terburu-buru.
Ketika dia mundur, dahinya masih menyentuh dahiku.
“Mar.”
“Hm?”
“Jangan bikin gue nyesel.”
Aku tersenyum dengan mata masih basah.
“Nggak akan.”
Kenzo mengangkat alis.
Aku langsung mengoreksi.
“Aku bakal berusaha supaya nggak.”
“Nah.”
Aku tertawa.
Tanganku masih berada di tangannya ketika kami kembali ke ruangan.
Kali ini tidak ada satu bagian pun dari diriku yang ingin melepaskan hanya karena ada orang melihat.
Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa keberanian mencintai seseorang bukan tentang berani mendapatkannya.
Kadang keberanian itu sesederhana tetap menggenggam ketika dunia sedang melihat.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas reading
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku