Chapter Five
Kalau Aku Bilang Aku Tahu?
POV: Kenzo
Raka sudah mengatakan aku terlalu kelihatan.
Nadira juga.
Aku tetap merasa mereka berlebihan sampai Tamara sendiri membuktikan sebaliknya.
Hari itu kami selesai kelas hampir bersamaan. Raka harus menemui dosen, Nadira pergi lebih dulu, dan entah bagaimana aku berjalan berdua dengan Tamara menuju parkiran.
“Kamu pulang naik motor?” tanyanya.
“Iya.”
“Setiap hari?”
“Hm.”
Tamara melirik. “Hm lagi.”
“Maaf. Iya.”
Dia tertawa kecil.
Langit mendung, tapi belum hujan. Jalan menuju parkiran cukup ramai. Beberapa orang menyapa Tamara. Dia membalas semuanya, kadang berhenti sebentar.
Aku menunggu tanpa merasa perlu masuk ke percakapan.
Setelah orang ketiga pergi, Tamara menatapku.
“Kamu sabar banget.”
“Kenapa?”
“Dari tadi nungguin.”
“Kalau gue tinggal, nanti dibilang nggak sopan.”
“Berarti cuma sopan?”
Aku menoleh.
Tamara sedang tersenyum.
Ada sesuatu pada cara dia menatap yang membuat langkahku sedikit lebih lambat.
“Mar.”
“Hm?”
“Gue mau nanya.”
“Tanya.”
Aku belum sempat bicara ketika dia mendahului.
“Kamu suka aku?”
Langkahku berhenti.
Suara parkiran tetap ada. Motor lewat. Orang bicara. Seseorang tertawa di kejauhan.
Tapi selama beberapa detik semuanya terasa terlalu jauh.
Tamara ikut berhenti.
Aku menatapnya.
Dia tidak terlihat sedang mengejek.
Mati gue.
Aku bisa menyangkal.
Bisa tertawa.
Bisa mengalihkan.
Tapi kalau aku bohong sekarang, aku mungkin akan membenci diriku sendiri nanti.
“Kelihatan?”
Tamara menahan senyum. “Lumayan.”
Aku mengusap belakang leher.
“Sejak kapan?”
“Entahlah. Kamu tuh aneh.”
“Ini jawaban dari pertanyaan yang mana?”
“Diam dulu.” Dia tertawa. “Kamu merhatiin banyak hal tentang aku. Tapi nggak pernah berusaha bikin aku sadar kalau kamu merhatiin.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Tamara melanjutkan, “Kalau cowok lain tahu aku suka minuman apa, biasanya besok langsung dibawain sambil bilang dia inget.”
“Bagus dong.”
“Bukan itu maksudnya.”
Aku mengerti.
Aku menatap aspal sebentar.
“Sorry kalau bikin nggak nyaman.”
Tamara langsung mengernyit. “Siapa bilang nggak nyaman?”
Aku mengangkat mata.
Sekarang giliranku diam.
Dia melipat tangan di depan dada. “Kenapa mukanya begitu?”
“Gue lagi proses.”
“Proses apa?”
“Kalimat tadi.”
Tamara tertawa sampai harus menutup mulut.
Aku ikut tersenyum, lebih karena lega daripada lucu.
“Jadi?” tanyanya.
“Jadi apa?”
“Kamu suka aku.”
Aku menghela napas. “Iya.”
Mengatakannya langsung terasa jauh lebih berat daripada mengaku kepada Nadira.
Tamara tidak langsung menjawab.
Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri.
“Udah?” tanyanya.
“Apa?”
“Cuma iya?”
“Gue harus presentasi?”
Tamara tertawa lagi.
Aku menatapnya beberapa detik, lalu berkata lebih pelan, “Gue suka lo. Udah lumayan lama.”
Senyumnya mengecil, berubah lebih lembut.
“Kenapa nggak pernah bilang?”
Aku mengangkat bahu. “Nggak kepikiran buat bilang.”
“Bohong.”
“Takut ditolak.”
“Nah.”
Aku tertawa.
Kemudian aku mengatakan bagian yang sebenarnya.
“Gue juga nggak merasa semua perasaan harus punya hasil.”
Tamara menatapku.
“Kalau gue suka seseorang, ya gue suka. Bukan berarti dia harus ngasih gue sesuatu.”
Dia diam cukup lama sampai aku mulai khawatir kalimatku terdengar terlalu serius.
Lalu dia bertanya, “Kalau aku kasih kesempatan?”
Aku tidak langsung memahami.
“Kesempatan apa?”
Tamara mendesah. “Kenzo.”
“Apa?”
“Kamu pinter cuma pas ada laptop, ya?”
Aku tertawa pendek. “Mungkin.”
Dia mendekat setengah langkah.
Jarak kami sekarang cukup dekat untuk membuatku sadar pada wangi parfumnya.
“Kalau suka,” katanya, “minimal ajak aku kencan dulu.”
Aku menatapnya.
Tamara menunggu.
Ini beneran?
Aku tidak mengucapkannya.
“Sabtu?” tanyaku akhirnya.
“Jam?”
“Siang?”
“Jam.”
Aku memikirkan jadwal. “Dua?”
Tamara tersenyum. “Oke.”
“Lo gampang banget.”
Ekspresinya berubah. “Mau aku batalin?”
“Nggak.”
Jawabanku terlalu cepat.
Tamara tertawa puas.
Kami kembali berjalan.
Aku masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi ketika ponselku berbunyi.
Pesan Raka.
Raka: Di mana lo?
Aku mengetik sambil berjalan.
Kenzo: Parkiran.
Raka: Sama Tamara?
Aku menoleh ke belakang. Tidak ada Raka.
Kenzo: Lo pasang CCTV?
Raka: Insting.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Tamara berhenti di samping mobilnya.
“Sabtu jangan telat.”
“Gue jarang telat.”
“Aku tahu.”
Aku menatapnya.
Dia membuka pintu mobil, lalu berhenti.
“Ken.”
“Hm?”
“Aku serius tadi.”
“Yang mana?”
“Soal kesempatan.”
Ada rasa hangat yang aneh di dada.
Aku mengangguk. “Gue juga.”
Tamara masuk ke mobil.
Aku berjalan menuju motorku sambil menahan keinginan bodoh untuk tersenyum terlalu lebar.
Selama ini aku sudah membuat batas sendiri. Tamara terlalu jauh. Aku cukup suka dari sini. Tidak semua rasa harus dimiliki.
Semua itu masih benar.
Hanya saja sekarang perempuan yang selama ini berdiri di seberang batas itu baru saja membuka pintu dan berkata aku boleh mencoba mendekat.
Ponselku berbunyi lagi.
Tamara: Sabtu jam 2. Jangan lupa.
Aku membaca pesan itu.
Kenzo: Nggak bakal.
Kali ini aku tidak mencoba menyembunyikan senyum.
Sabtu terasa sangat jauh.
- 1 Perempuan yang Terlalu Jauh
- 2 Mulai Diingat
- 3 Mulai Terlihat
- 4 Dunia Kecil Kenzo
- 5 Kalau Aku Bilang Aku Tahu? reading
- 6 Boleh Berdiri di Sampingmu
- 7 Pacar
- 8 Segitu Doang?
- 9 Kenzo yang Tidak Mereka Lihat
- 10 Hari-Hari yang Terlalu Indah
- 11 Gue Cuma Nanya
- 12 Cocok
- 13 Sedikit Lebih Jauh
- 14 Aku Tunggu di Parkiran
- 15 Yang Tidak Dikatakan
- 16 Tangan yang Dilepas
- 17 Selasa Pagi
- 18 Pagi
- 19 Kursi Kosong
- 20 Tetap Kenzo
- 21 Kalau Jawabannya Berubah
- 22 Dunia Tetap Jalan
- 23 Padahal Aku Sudah Mulai Percaya
- 24 Bukan Salah Mereka
- 25 Baik-Baik Saja
- 26 Normal
- 27 Sayang
- 28 Nadira
- 29 Maaf
- 30 Dari Sisi Sebelah Sini
- 31 Perempuan yang Menunggu
- 32 Nadira Alesha
- 33 Kalau Hidup Gue Sedikit Berbeda
- 34 Orang yang Lebih Baik
- 35 Kalau Mereka Ngomong Lagi?
- 36 Jangan Dilepas
- 37 Kangen
- 38 Pacar Gue
- 39 Jangan Duduk di Situ
- 40 Rumah
- 41 Kali Ini Bilang
- 42 Pacarku