← Besok, Jam Tujuh

Chapter Nineteen

Kursi Kosong

POV: Kenzo

Ada kursi kosong di sebelahku.

Aku tidak sengaja menyisakannya.

Setidaknya begitu yang kukatakan pada diri sendiri.

Raka datang membawa dua piring dan menaruh satu di depanku.

“Gue nggak pesen.”

“Gue tahu.”

“Terus?”

“Lo dari pagi cuma minum kopi.”

Aku menatap piring.

“Nggak lapar.”

“Gue nggak nanya.”

Aku hampir tersenyum.

Nadira datang beberapa menit kemudian dan duduk di kursi kosong itu.

Tanpa bertanya.

Tanpa menatapku terlalu lama.

Dia membuka bungkus makanannya.

“Raka.”

“Apa?”

“Lo ngambil sambel gue?”

“Fitnah.”

“Di tangan lo.”

Raka melihat sachet di tangannya. “Bukti bisa direkayasa.”

Aku tertawa kecil.

Nadira menunjukku. “Tuh. Saksi.”

“Gue nggak lihat.”

“Pengkhianat.”

Percakapan berjalan seperti biasa.

Aneh.

Aku sempat mengira setelah putus semua hal akan terasa berbeda.

Ternyata sebagian besar dunia tidak peduli.

Dosen tetap memberi tugas.

Server tetap error.

Raka tetap mencuri makanan.

Nadira tetap telat.

Aku tetap harus mengisi bensin.

Hari tetap dua puluh empat jam.

Ada rasa lega dalam kebosanan itu.

Siang kami mengerjakan proyek di laboratorium. Salah satu modul gagal jalan dan Raka langsung menyalahkan komputer.

“Komputernya benci gue.”

“Komputernya nggak kenal lo,” kataku.

“Makanya dia benci tanpa alasan.”

Nadira memutar mata.

Kami menghabiskan hampir dua jam mencari bug yang ternyata cuma satu karakter salah.

Ketika akhirnya ketemu, aku tertawa sampai harus menyandarkan kepala ke kursi.

“Bangsat.”

Raka menunjuk layar. “Gara-gara titik koma?”

“Hm.”

“Teknologi bodoh.”

“Yang nulis siapa?”

Raka diam.

Nadira tertawa.

Selama beberapa menit aku benar-benar lupa.

Bukan sengaja.

Bukan memaksa.

Tamara tidak ada di kepalaku.

Aku hanya duduk bersama teman-temanku, menertawakan kesalahan bodoh.

Lalu ketika keluar lab, aku melihat mobil dengan warna yang sama seperti milik Tamara.

Dadaku langsung turun.

Bukan mobilnya.

Aku berhenti sepersekian detik.

Nadira yang berjalan di sampingku tidak mengatakan apa-apa.

Kami lanjut.

Sore itu aku pulang lebih cepat.

Ibu sedang melipat pakaian di ruang keluarga.

“Tamara udah nggak pernah ke sini?”

Pertanyaan itu datang begitu saja.

Aku berhenti melepas jam.

“Udah nggak sama Tamara.”

Tangan Ibu berhenti.

“Oh.”

Tidak ada kenapa.

Tidak ada siapa yang salah.

Dia hanya kembali melipat baju.

Beberapa detik kemudian, “Makan?”

“Nanti.”

“Ayam masih ada.”

“Hm.”

Aku masuk kamar.

Sepuluh menit kemudian Ibu mengetuk dan masuk membawa piring berisi potongan buah.

“Katanya nanti.”

“Ini buah.”

Aku melihat piring itu.

“Makasih.”

Ibu keluar.

Entah kenapa tenggorokanku terasa lebih sempit.

Malamnya Raka mengirim meme bodoh.

Nadira mengirim foto error yang belum selesai.

Aku membalas keduanya.

Lalu tanpa sadar membuka chat Tamara.

Aku tidak membaca ke atas.

Cuma melihat namanya.

Menutup lagi.

Hari ini aku sempat lupa selama mungkin satu jam.

Mungkin kurang.

Tetapi satu jam itu nyata.

Aku masih sakit.

Masih kangen.

Masih ada bagian tubuhku yang bereaksi setiap melihat mobil mirip miliknya.

Tapi untuk pertama kalinya aku punya bukti kecil bahwa hidupku masih bisa berisi sesuatu selain kehilangan.

Besok mungkin aku akan sedih lagi.

Tidak apa-apa.

Hari ini aku sempat tertawa.