Chapter Nine
Sawah Bapak
POV: Fajar
Tante Ratna meneleponku hari Sabtu pagi, sehari setelah Mak pulang.
“Ke Rumah Matahari. Sekarang. Sendiri.”
Aku menyiram halaman dulu begitu sampai. Sudah jadi kebiasaan setiap ke sana: menyambung selang yang bocor di tengah, menyiram dari pojok timur, menyusuri barisan bunga matahari yang mulai merunduk berat oleh biji. Tante Ratna menontonku dari teras dengan tangan terlipat.
“Kamu siram bunga dulu sebelum menghadap saya?”
“Mereka lebih haus, Bu.”
Tante Ratna mendengus, tapi ia menunggu sampai aku selesai.
Ruang kerja Prof masih seperti terakhir kali ia tinggalkan. Kacamata cadangan di atas tumpukan skripsi. Gelas teh dengan ampas yang sudah mengering. Di depan pintu, sandal kulit cokelat itu masih di rak sepatu. Tante Ratna tidak sanggup memindahkannya. Aku juga tidak. Di meja, Tante Ratna menyusun dokumen-dokumen yang ia temukan di laci terkunci, dan menyodorkannya padaku seperti jaksa menyodorkan barang bukti.
Surat perjanjian kredit. Sertifikat rumah sebagai jaminan. Tanggalnya delapan bulan lalu.
“Kakak saya menggadaikan rumah ini,” kata Tante Ratna. Suaranya datar, terlalu datar. “Empat ratus dua puluh juta. Untuk gedung, katering, semua yang terbaik untuk anak satu-satunya. Dan ini.” Ia menyodorkan lembaran lain. Kuitansi dokter spesialis jantung di Jakarta. Tiga kali kunjungan. “Dia sakit dari Januari. Tidak bilang siapa-siapa. Tidak bilang saya. Tidak bilang Rania.”
Aku membaca angka-angka itu dua kali.
Tabunganku dua puluh tiga juta. Hasil jualan bibit tiga tahun, honor asisten riset, sisa beasiswa yang kusisihkan setiap bulan. Dulu aku menyimpannya untuk satu hal: suatu hari membangun rumah kaca kecil di sawah Bapak. Di samping angka empat ratus dua puluh juta, dua puluh tiga juta itu kelihatan seperti tebak-tebakan garing.
Aku memikirkan semua kemungkinan. Pinjaman: tidak ada bank yang mau meminjami mahasiswa S2 sebesar itu. Motor: laku lima juta kalau beruntung. Ginjal: Dodi pasti akan bilang begitu, dan aku pasti tidak akan tertawa.
Hanya ada satu hal milikku yang harganya cukup.
“Cicilannya macet dua bulan. Sebentar lagi bank kirim surat peringatan.” Tante Ratna melepas kacamatanya dan memijit pangkal hidung. “Saya pensiunan guru, Nak. Tabungan saya tidak sampai sepersepuluhnya.”
Lalu ia memasang kacamatanya lagi, dan lidahnya kembali.
“Jadi kalau kamu nikahi keponakan saya karena rumah ini, silakan mundur sekarang. Sebentar lagi rumah ini milik bank. Kamu tidak dapat apa-apa.”
“Rania sudah tahu, Bu?”
Ia terdiam. Pertanyaan itu sepertinya bukan yang ia harapkan.
“Belum. Dan jangan kamu yang bilang. Belum waktunya. Dia baru bisa bilang makasih ke ibumu lewat pintu. Kamu mau saya tambah satu kuburan lagi di kepalanya?”
“Baik, Bu.” Aku merapikan dokumen-dokumen itu dan mengembalikannya ke map. “Biar saya yang urus.”
“Urus pakai apa? Bibit cabai?”
Aku tidak menjawab.
Sebelum pulang, aku memberanikan diri.
“Bu. Saya boleh minta satu hal?”
Tante Ratna memicingkan mata. “Apa lagi?”
“Sup ayam Ibu Hartono.”
Ia membeku. “Dari mana kamu tahu?”
“Prof pernah cerita. Kalau Rania sakit, dia cuma mau sup ayam mamanya. Dan yang masih bisa bikin cuma Ibu.”
Tante Ratna memalingkan muka ke jendela. Lama. Ketika ia bicara lagi, suaranya sedikit bergetar, lalu langsung ia tajamkan.
“Datang besok jam tujuh. Jangan telat. Bawa ayam kampung, bukan ayam negeri. Kalau kamu bawa ayam negeri, saya usir.”
Besoknya aku datang pukul tujuh kurang sepuluh, membawa ayam kampung dan timbangan digital dari lab.
Tante Ratna memandangi timbangan itu seperti memandangi bom. “Kamu mau masak atau mau bikin bahan peledak?”
“Biar takarannya tepat, Bu.”
“Ya Allah. Orang Cianjur sekarang masak pakai timbangan.”
Selama tiga jam di dapur itu, Tante Ratna mengajariku sambil memaki. Cara memotong wortelku “kayak motong kayu bakar”. Cara menumis bawangku “kayak orang dendam sama bawang”. Pala yang kumasukkan “bukan sedikit, itu sekampung”. Setiap kali ia memaki, aku bilang terima kasih dan mencatat. Garam: satu sendok teh kurang sedikit. Kutimbang. Empat koma dua gram.
“Kamu nimbang garam.”
“Iya, Bu.”
“Saya tidak percaya ini terjadi di dapur saya.”
Sambil mengaduk kaldu, ia bertanya tanpa menoleh. “Ibumu kerja apa?”
“Bertani, Bu. Di Cianjur.”
“Bapakmu?”
“Sudah meninggal. Waktu saya tujuh belas.”
Sendok di tangan Tante Ratna berhenti sebentar. “…Saya turut berduka.”
“Terima kasih, Bu.”
Lalu sendok itu bergerak lagi, lebih cepat. “Itu bukan berarti saya suka kamu. Bawangnya gosong. Angkat!”
Lalu ia mengambil sebatang wortel dari tanganku dan mulai memotongnya dengan pisau kecil, pelan sekali. Bukan bulatan. Ia mengukir lima lekukan di sepanjang wortel sebelum mengirisnya, sehingga setiap irisan berbentuk bunga.
“Rania kecil tidak mau makan wortel kalau tidak bentuk bunga,” katanya tanpa memandangku. “Jadi kakak ipar saya memotongnya satu-satu begini. Setiap kali. Bertahun-tahun.” Pisaunya berhenti. “Empat belas tahun saya tidak memotong wortel begini.”
Tangannya gemetar. Aku diam saja.
Lalu ia membanting pisau ke talenan. “Lihat! Jangan bengong! Saya cuma contohkan sekali!”
Aku tidak menceritakan satu pun makian itu pada Rania, hari itu maupun sesudahnya. Untuk apa? Tante Ratna sedang berduka dengan caranya sendiri, dan caranya kebetulan adalah memakiku. Aku bisa menanggung itu. Aku sudah menanggung yang lebih berat.
Malamnya aku mengirim laporan Minggu untuk Kiki.
Minggu ini dia bicara dua kata. Ke Mak, lewat pintu: “Makasih, Mak.” Makan setengah piring labu siam. Tidak menangis jam dua di malam kedua Mak menginap.
Kiki membalas dengan pesan suara berdurasi empat puluh detik yang isinya hanya jeritan, lalu satu pesan teks: gue nangis di angkot. sopirnya ikut nangis. gue ceritain semuanya ke sopirnya. maaf.
Senin sore aku naik travel ke Cianjur. Aku duduk di sebelah seorang ibu yang membawa ayam jago dalam keranjang. Ayam itu memandangiku sepanjang jalan, dari Ciawi sampai Cipanas, dengan tatapan yang membuatku merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak kulakukan. Sekarang aku mengerti kenapa Mak mengeluh.
Dodi menggantikanku mengurus nampan selama dua hari. Aku menuliskan semuanya di kertas untuknya: jam berapa, berapa sendok gula, berapa air dingin untuk tehnya, ketuk tiga kali, jangan lebih, jangan menunggu di depan pintu.
Rumah Mak masih bau kayu bakar dan minyak kelapa. Mak menyambutku dengan pertanyaan, bukan salam.
“Geus nyarita deui?” Sudah bicara lagi?
“Teu acan, Mak. Ngan ka Mak wungkul.” Belum. Cuma ke Mak.
Mak tersenyum bangga, seperti baru memenangkan lomba.
Malam itu, setelah makan, aku duduk di balai-balai bambu di depan Mak.
“Mak. Abdi badé ngajual sawah.”
Mak diam. Lama sekali. Lalu ia bangkit, masuk ke kamar, dan keluar membawa caping Bapak yang selama dua belas tahun tergantung di paku di atas pintu. Ia meletakkannya di pangkuannya, mengelus pinggirnya yang bolong.
“Sawah Bapak?”
“Muhun.”
“Bapak hayang manéh nyieun kebon bibit di dinya. Manéh apal.”
Bapak ingin kamu bikin kebun bibit di sana. Kamu tahu itu.
“Abdi terang, Mak.”
“Terus?”
Aku menunduk. “Kebonna tiasa engké, Mak. Bumi éta moal tiasa engké.”
Kebunnya bisa nanti, Mak. Rumah itu tidak bisa nanti.
Aku menceritakan semuanya. Gadai, cicilan, surat bank yang sebentar lagi datang. Rumah dengan halaman penuh bunga matahari, tempat seorang perempuan tumbuh, tempat ayahnya menulis jurnal selama tiga puluh tahun, tempat sandal laki-laki itu masih berdiri di rak sepatu.
“Rania terang?”
“Henteu. Sareng ulah dugi ka terang.”
“Naha?”
“Supados anjeunna teu ngarasa ngutang.”
Supaya dia tidak merasa berutang.
Mak menangis. Tidak keras. Air matanya jatuh ke caping Bapak, satu-satu. Aku tidak menghentikannya. Ada tangis yang memang harus selesai sendiri.
Akhirnya Mak mengusap mata dengan ujung kerudung.
“Bapakmu ogé pasti kitu,” katanya. Bapakmu juga pasti begitu. “Bapak nu ngajarkeun manéh mikanyaah téh teu kudu nanya heula.”
Bapak yang mengajarimu bahwa menyayangi itu tidak perlu bertanya dulu.
Haji Dadang datang keesokan paginya, sesudah subuh, dengan sarung kotak-kotak dan senyum pedagang.
Ia sudah lama mengincar sawah itu, letaknya bersebelahan dengan miliknya. Ia menyebut harga. Mak tertawa seperti mendengar lelucon. Ia menaikkan sedikit. Mak pura-pura mau masuk rumah. Ia menaikkan lagi, lalu menambahkan seekor kambing.
“Embé mah urang ogé boga!” bentak Mak. Kambing mah kami juga punya!
Setengah jam kemudian, mereka sepakat: harga yang pantas, ditambah sekarung beras setiap panen untuk Mak selama Mak masih hidup. Haji Dadang menyalamiku dengan wajah orang yang baru kalah perang.
“Untung aya Mak, Jar,” katanya. “Mun manéh nu nawar, sawah ieu ku urang dibeuli ku kurupuk.”
Untung ada Mak. Kalau kamu yang menawar, sawah ini kubeli pakai kerupuk.
Senja itu aku berdiri di pematang untuk terakhir kalinya sebagai pemilik.
Padi sedang hijau, setinggi pinggang, bergoyang pelan ditiup angin dari Gunung Gede. Di ujung petak ada gubuk kecil tempat Bapak dulu beristirahat dan tempat aku tidur siang waktu kecil. Atapnya sudah bolong di tiga tempat.
Di gubuk itu juga, waktu aku enam belas tahun, Bapak menggambar denah dengan ranting di tanah. Di dieu pabinihan. Di dieu imah kaca leutik. Di dieu saung keur Mak, supaya Mak bisa ngareureuh bari nempo urang digawé. Di sini pembibitan. Di sini rumah kaca kecil. Di sini saung untuk Mak, supaya Mak bisa istirahat sambil melihat kita bekerja. Setahun kemudian Bapak meninggal. Denah itu terhapus hujan, tapi tidak pernah terhapus dari kepalaku.
Bapak mengajariku membaca biji di gubuk itu. Mana yang bernas, mana yang hampa. Mana yang hanya tidur dan mana yang sudah mati. Siki nu saré lain siki nu paéh, Jar, katanya suatu sore, sambil menjatuhkan sebutir gabah ke telapak tanganku. Benih yang tidur bukan benih yang mati.
Dua puluh tahun kemudian, seorang profesor di ranjang ICU mengatakan hal yang sama padaku dengan kata-kata yang berbeda.
“Bapak,” kataku pada padi-padi itu, karena Bapak selalu bilang padi punya hati. “Hapunten. Kebonna engké. Aya nu langkung butuh.”
Maaf. Kebunnya nanti. Ada yang lebih butuh.
Angin bertiup. Padi-padi itu merunduk, semuanya ke arah yang sama, seperti mengangguk.
Sebelum turun dari pematang, aku berjongkok dan mengambil segenggam tanah dari petak paling ujung, tempat Bapak dulu selalu menyemai bibit pertama. Aku memasukkannya ke kantong plastik dan mengikatnya. Di Ciapus nanti, tanah itu akan kucampurkan ke tanah di bawah jendela kamarnya, di sekeliling dua belas batang bunga matahari muda itu.
Sawah ini bukan milikku lagi. Tapi sebagian kecilnya akan tetap tumbuh, di tempat yang lebih membutuhkan.
Aku tidak menangis lama. Petani tidak punya waktu untuk menangis lama. Besok pagi selalu ada yang harus ditanam.
Dodi menyambutku di Ciapus dengan wajah penuh kebanggaan yang mencurigakan.
“Aman, Jar. Nampan aman. Gue ketuk tiga kali kayak lo bilang.”
“Terima kasih, Dod.”
“Ya… awalnya tiga. Terus kebablasan jadi lima. Terus gue tambahin dua lagi biar genap.”
“…Tujuh itu ganjil, Dod.”
Dodi terdiam, menghitung dengan jari. “Pokoknya niatnya bagus. Oh, terus gue nulis catatan juga. Biar adil.”
“Kamu nulis apa?”
“Cuaca: panas. Tebak-tebakan: ikan apa yang suka nyanyi? Ikan lele-lagu.“
Aku memandanginya lama sekali.
“Nilainya pasti lebih tinggi dari punya lo,” kata Dodi.
Hari kedua puluh lima, aku memasak sup itu sendirian di dapur. Ayam kampung, empat koma dua gram garam, pala yang benar-benar sedikit, bawang goreng yang banyak sekali. Wortel bentuk bunga butuh waktu satu jam. Aku merusak sembilan batang wortel sebelum berhasil membuat empat belas irisan yang lumayan mirip bunga. Kelopaknya tidak rata; ada yang empat, ada yang enam. Tapi bunga.
Aku menuangnya ke mangkuk, meletakkannya di nampan, dan mengetuk tiga kali.
Malam itu, nampannya kembali.
Mangkuknya kosong. Bersih. Bahkan bawang gorengnya.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak reading
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh