Chapter Twelve
Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
POV: Rania
Rumah Bu Ratih di Tajur bercat hijau muda, dengan pagar besi yang dulu selalu berderit setiap kali Gilang membukanya untukku. Hari itu pagarnya terbuka lebar. Ada tenda kecil di halaman, kursi-kursi plastik yang disusun berbaris, dan bunyi pengajian dari pengeras suara yang sedikit sumbang.
Empat puluh hari Gilang.
Aku turun dari mobil, berjalan sampai ke pagar, dan berhenti.
Pagar itu. Empat tahun aku berdiri di depannya menunggu Gilang yang selalu telat keluar. Empat tahun ia membukanya dengan bunyi derit yang sama dan bilang maaf, Nia, maaf, tadi ada kucing, padahal tidak ada kucing. Ia selalu memakai alasan kucing kalau kehabisan alasan lain.
Dari pagar itu aku bisa melihat ruang tamunya. Foto Gilang dibingkai besar di meja kecil di sudut, dikelilingi bunga sedap malam. Foto wisudanya. Senyum lebarnya, toga yang miring, rambut yang tidak pernah bisa rapi. Foto yang dulu ia sebut foto paling ganteng sepanjang masa, dan yang selalu kuejek karena hidungnya kelihatan besar.
Kakiku tidak mau bergerak.
Aku mencoba. Aku benar-benar mencoba. Tapi setiap langkah ke arah foto itu terasa seperti berjalan ke dalam air yang makin dalam, sampai napasku pendek-pendek dan tanganku mencengkeram besi pagar.
Aku berbalik dan kembali ke mobil.
Ia sedang duduk di kursi sopir dengan jendela setengah terbuka. Ia tidak bertanya apa-apa ketika aku masuk dan menutup pintu terlalu keras. Ia tidak bilang ayo, sebentar saja, atau kasihan Bu Ratih. Ia hanya memutar volume radio ke nol dan menunggu, menatap lurus ke depan, memberiku ruang untuk menangis tanpa ditonton.
Aku tidak menangis. Aku hanya duduk di sana memeluk jaket abu-abu di pangkuanku dan memandangi dasbor. Di dasbor ada pengharum mobil berbentuk pohon cemara yang sudah kehilangan wanginya.
Sepuluh menit kemudian, seseorang mengetuk jendela di sisiku.
Bu Ratih. Matanya bengkak, kerudungnya hitam, tangannya membawa kantong plastik bening. Aku menurunkan kaca jendela.
“Nia.” Ia satu-satunya orang selain Gilang yang memanggilku begitu. “Ibu ngerti. Nggak apa-apa. Ibu juga tiap hari hampir nggak sanggup masuk rumah sendiri.”
Aku tidak bisa menjawab.
Ia mengangkat kantong plastik itu. Di dalamnya ada ponsel. Layarnya pecah seperti jaring laba-laba, casing-nya penyok di satu sisi, dan ada noda gelap di pinggirnya yang tidak mau kupikirkan.
“Ini punya Gilang. Polisi kembalikan ke Ibu minggu lalu.” Suaranya bergetar. “Ibu nggak sanggup nyimpen. Tiap lihat, Ibu… Kamu yang lebih berhak, Nak.”
Ia menyodorkannya padaku. Aku memandangi kantong plastik itu, dan tanganku tidak bergerak. Tanganku sama sekali tidak mau bergerak.
Lalu sebuah tangan lain terulur melewati pangkuanku. Tangan yang kasar dan berbau sabun batang. Ia menerima kantong plastik itu dengan dua tangan, pelan, seperti menerima sesuatu yang bisa pecah lagi.
“Saya simpan dulu, Bu,” katanya. “Sampai dia siap.”
Bu Ratih memandanginya lama. Memandangi wajahnya, tangannya, caranya memegang kantong plastik itu. Lalu ia mengangguk sekali, mengusap pipiku dengan ibu jarinya, dan kembali ke dalam rumah tempat foto anaknya tersenyum.
Kami pulang. Ia menyetir sangat pelan. Sepanjang jalan ia tidak menyalakan radio, dan aku bersyukur untuk itu, walaupun aku tidak mengatakannya. Kantong plastik itu tidak kulihat lagi; ia menyimpannya entah di mana.
Dua hari kemudian, empat puluh hari Papa, di Rumah Matahari.
Aku pikir aku akan hancur begitu melihat rumah itu. Aku sudah menyiapkan diri sejak subuh. Tapi ketika mobil berhenti di depan pagar, yang pertama kulihat bukan rumahnya.
Halamannya.
Bunga-bunga matahari Papa berdiri tegak di barisan-barisannya, segar, tanahnya gembur dan lembap, rumput liar di sela-selanya sudah dicabuti. Kepala-kepala bunganya yang berat merunduk penuh biji. Tidak ada yang layu. Tidak ada yang mati. Halaman itu kelihatan persis seperti ketika Papa masih ada, seolah Papa baru saja menyiramnya tadi pagi dan sekarang sedang minum teh di ruang kerjanya.
Di rak sepatu di samping pintu, sandal kulit cokelat Papa masih di tempatnya. Aku berjongkok dan menyentuh ujungnya. Lumpur di sana sudah kering dan retak, seperti tanah di musim kemarau. Tidak ada yang berani memindahkannya. Aku juga tidak.
Aku berdiri di gerbang. “Tante yang nyiram?”
Tante Ratna sedang mengatur kursi di teras. Ia mendengus. “Tante? Lutut Tante sudah nggak bisa jongkok, Ran.” Dagunya menunjuk ke belakangku. “Suamimu. Tiap minggu ke sini. Nyiram, nyabutin rumput, nyambung selang yang bocor. Tante sudah bilang selangnya diganti saja, dia nggak mau. Katanya itu selang Papa.”
Aku menoleh. Ia sedang menurunkan kursi-kursi lipat dari bagasi, membelakangiku, kemeja kotak-kotaknya basah keringat di punggung.
Bunga matahari Papa sudah kusiram semua.
Kukira itu hanya sekali. Hari tahlilan tujuh hari. Kukira ia melihat bunga-bunga yang kehausan, menyiramnya, dan selesai.
Tiap minggu. Lima minggu.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku masuk ke rumah dan pura-pura sibuk menata gelas.
Kiki datang pukul empat, terlambat setengah jam, membawa dua kotak martabak dan mata yang sudah sembap sejak di angkot.
Ia memelukku begitu kuat sampai tulang punggungku berbunyi. “Lo kurus banget, Ran. Lo kayak tiang jemuran. Lo kayak tiang jemuran yang lagi patah hati.”
“Makasih, Ki.”
“Itu bukan pujian!”
Selama tahlilan, Kiki menangis paling keras dari semua orang di ruangan itu, lebih keras dari Tante, lebih keras dari ibu-ibu pengajian yang sudah terbiasa menangis secara profesional. Ia menangis sampai Pak Ustaz berhenti sebentar di tengah doa untuk memastikan ia baik-baik saja.
Di barisan belakang, ibu-ibu pengajian berbisik dengan volume yang mereka kira pelan.
“Itu suaminya? Yang kemeja kotak-kotak?”
“Iya. Murid almarhum.”
“Kok biasa saja, ya. Kirain kayak sinetron.”
“Biasa gimana, Bu, dari tadi dia yang angkat kursi, angkat galon, nyuci gelas. Suami saya mah kalau tahlilan cuma angkat piring. Piring isi.”
Mereka tertawa tertahan, lalu buru-buru menunduk ketika Tante Ratna menoleh dengan tatapan yang bisa membekukan santan. Setelah doa selesai, ia makan empat porsi nasi kotak.
“Gue makan kalau sedih,” katanya, menjilat jari. “Makanya gue nggak pernah kurus.”
Masalahnya dimulai di meja kue. Hanya tersisa satu risoles di piring. Kiki mengulurkan tangan. Dari arah berlawanan, sebuah tangan gempal juga terulur.
Mereka saling memandang.
“Lepas,” kata Kiki.
“Saya duluan,” kata Dodi.
“Gue tamu.”
“Saya juga tamu. Saya saksi nikah.”
“Gue sahabatnya dari SMA!”
“Saya yang bongkar pipa buat nyari cincinnya!”
Lima menit kemudian, risoles itu terbelah dua dengan bentuk yang sangat tidak adil, dan Kiki serta Dodi duduk di dua ujung teras yang berbeda, saling membelakangi. Aku melihatnya dari jendela. Untuk sesaat, sudut bibirku bergerak. Hanya sesaat.
Kiki menghampiriku di dapur setelahnya, masih bersungut-sungut, lalu melirik ke halaman, tempat laki-laki berkemeja kotak-kotak itu sedang menggotong galon ke dispenser tanpa diminta siapa pun.
“Ran. Itu laki lo?”
“Iya.”
Kiki memicingkan mata. “Dia sopan banget. Dari tadi ngangkat-ngangkat terus, nggak duduk sama sekali. Tadi gue numpahin teh, dia yang ngelap, terus dia yang minta maaf.” Kiki menggeleng pelan. “Gue curiga.”
“Curiga apa?”
“Belum tahu. Tapi gue curiga.”
Di dapur, aku bertanya pada Tante sesuatu yang sudah lama mengganjal. “Tante. Gedung. Katering. Semua vendor itu. Siapa yang batalin?”
Tante sedang mencuci piring. Tangannya berhenti sebentar di dalam air sabun. “Sudah beres. Bulan lalu.”
“Tante yang urus?”
Tante tidak menjawab. Ia menyodorkan setumpuk piring basah padaku. “Lap ini.”
Aku mengelapnya, dan aku berterima kasih pada Tante dalam hati. Tante yang lidahnya tajam, tapi selalu ada.
Setelah tamu-tamu pulang, Tante memanggilku ke ruang kerja Papa.
Ruangan itu masih seperti terakhir kali Papa tinggalkan. Kacamata cadangan. Tumpukan skripsi. Gelas teh dengan ampas yang sudah mengering. Dan di rak belakang, di samping foto Mama, Jurnal Kebun: buku tebal bersampul kulit yang selama dua puluh enam tahun hidupku selalu ada di meja ini.
Tante menyodorkan sebuah amplop. Logo bank yang sama dengan amplop cokelat yang dulu Papa sembunyikan terlalu cepat.
Surat peringatan. Cicilan macet tiga bulan. Kalau dalam sembilan puluh hari tidak dilunasi, rumah ini akan dilelang.
“Papamu menggadaikan rumah ini, Ran,” kata Tante pelan. Untuk pertama kalinya hari itu suaranya tidak tajam sama sekali. “Delapan bulan lalu. Untuk pernikahanmu. Gedung paling bagus, katering paling enak, semuanya. Dan untuk dokter jantungnya di Jakarta. Dia sakit dari Januari, dan dia tidak bilang siapa-siapa.”
Aku membaca surat itu. Angka-angkanya tidak masuk ke kepalaku.
Untuk pernikahanku. Pernikahan yang tidak pernah terjadi. Gedung yang tidak pernah dimasuki. Katering yang tidak pernah dimakan. Kebaya yang masih tergantung di butik Bu Lilis. Papa menggadaikan rumah tempat Mama meninggal, tempat bunga-bunga mataharinya tumbuh, tempat jurnalnya ditulis selama tiga puluh tahun, untuk satu hari yang tidak pernah datang.
Dan untuk jantungnya. Jantung yang ia sembunyikan dariku dengan kata vitamin.
Aku memikirkan semua pagi ketika Papa duduk di dapur dengan wajah pucat dan aku terlalu sibuk memilih warna pita suvenir untuk bertanya. Semua malam ketika ia tidur lebih awal dan aku mengira ia hanya capek. Strip obat putih yang ia sembunyikan di laci. Amplop cokelat yang ia simpan terlalu cepat.
Papa sakit selama enam bulan, dan aku tidak tahu, karena aku sedang bahagia.
Aku membuka laci meja Papa. Di dalamnya, di antara pulpen dan klip kertas, ada strip obat putih yang dulu ia sembunyikan dariku. Setengahnya sudah kosong. Di bungkusnya tertulis nama obat yang tidak kumengerti, dan di bawahnya, dengan tulisan tangan Papa yang miring: pagi & malam. Jangan sampai Neng lihat.
Aku tidak menangis. Aku sudah melewati titik menangis. Aku hanya duduk di kursi Papa, kursi kayu yang dudukannya sudah cekung mengikuti bentuk tubuhnya, dan merasa sangat, sangat lelah.
Aku mengulurkan tangan dan menyentuh Jurnal Kebun. Sampul kulitnya dingin dan halus. Aku tidak membukanya. Papa bilang aku boleh membacanya kalau sudah tua. Aku belum tua. Aku hanya merasa tua.
“Biar saja,” kataku. “Biar saja diambil bank.”
“Ran—“
“Rumah ini buat apa lagi, Tante? Papa nggak ada. Mama nggak ada. Gilang nggak ada. Aku nggak sanggup tinggal di sini. Biar saja.”
Tante tidak menjawab.
Yang menjawab adalah suara dari ambang pintu. Rendah, tenang, tidak membantah.
“Jangan dulu.”
Aku menoleh. Ia berdiri di sana, masih memegang tumpukan kursi lipat yang belum sempat dibawa ke mobil. Aku tidak tahu sejak kapan ia di sana.
“Kenapa?” tanyaku. Suaraku keluar lebih tajam dari yang kumaksud.
Ia memandangiku sebentar. Lalu memandang Tante. Tante memalingkan wajah ke jendela.
“Bunga-bunganya belum panen,” katanya akhirnya. Hanya itu. Lalu ia pergi membawa kursi-kursi itu ke mobil.
Aku tidak mengerti. Aku tidak berusaha mengerti.
Tapi dari jendela ruang kerja Papa, beberapa menit kemudian, aku melihatnya. Ia sudah selesai memasukkan kursi ke bagasi. Ia berjalan pelan menyusuri barisan bunga matahari, berhenti di salah satu batang yang paling tinggi, bunga yang dulu selalu Papa sebut si sulung karena ditanam paling awal tahun ini.
Ia meletakkan telapak tangannya di batang itu. Lama. Kepalanya menunduk sedikit, bibirnya bergerak, seperti sedang mengatakan sesuatu yang hanya boleh didengar bunga itu.
Seperti sedang berjanji.
Aku tidak tahu apa yang ia janjikan. Aku tidak tahu kenapa aku ingin tahu.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank reading
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh