Chapter Twenty Two

Pesan Suara yang Tidak Terkirim

POV: Rania

Di dalam amplop itu ada flashdisk kecil berwarna perak dan selembar kertas terlipat.

Ia duduk di kursi di dekat pintu, tidak masuk lebih jauh ke kamarku, dan menjelaskan dengan suara yang sangat pelan, seperti orang yang menyampaikan kabar dari rumah sakit.

Ponsel Gilang. Kantong plastik yang diberikan Bu Ratih di empat puluh harinya, yang ia terima karena tanganku tidak mau bergerak. Ia membawanya ke Glodok, dengan izin Bu Ratih, ke seorang teknisi tua bernama Koh Ahong. Chip memorinya rusak parah. Dikirim ke Singapura. Berbulan-bulan. Hampir semua datanya hilang. Foto, pesan, semuanya.

Kecuali satu.

“Rekaman suara,” katanya. “Kurang dari satu menit. Direkam tanggal tiga belas Juni, jam empat lewat lima puluh dua.” Ia menunduk. “Belum pernah terkirim. Mungkin dia mau kirim setelah sampai. Mungkin dia lupa.”

Empat lewat lima puluh dua. Sembilan menit setelah telepon terakhir kami.

“Kamu sudah dengar?”

“Belum.” Ia menggeleng. “Itu bukan buat aku.”

Aku memandangi flashdisk perak di telapak tanganku. Benda sekecil ini. Lebih kecil dari ujung jari kelingkingku.

“Berapa lama?” tanyaku. “Semua ini. Berapa lama kamu ngurusnya?”

“Sejak Agustus.”

Lima bulan. Lima bulan ia menyimpan ini di kepalanya, tanpa tahu apakah akan berhasil, tanpa bilang padaku supaya aku tidak berharap.

“Berapa bayarnya?”

Ia tidak menjawab. Ia memandang lantai.

Aku tahu jawabannya. Halaman di luar jendelaku sudah tidak penuh polybag seperti dulu. Sejak bulan Oktober, sejak aku keluar dari rumah sakit, raknya setengah kosong. Kukira musim tanam sudah lewat.


Malam itu aku tidak memutarnya. Aku memegang flashdisk itu di telapak tanganku sampai tengah malam, sampai logamnya hangat oleh suhu tubuhku. Dua kali aku mencolokkannya ke ponsel. Dua kali aku mencabutnya lagi sebelum layar sempat menampilkan apa-apa.

Pukul satu, aku keluar kamar dan mengetuk pintu ruang kerjanya. Ia membukanya dalam tiga detik.

“Antar aku,” kataku. “Ke Gilang. Aku nggak bisa dengar ini di sini. Aku cuma bisa dengar di sana.”

“Hari Minggu?”

“Hari Minggu.”

Hari Minggu. Hari yang Gilang janjikan.

Kami ke makam Gilang hari Minggu. Lewat Parung, tiga puluh kilometer per jam. Langit kelabu sejak pagi.

Di tengah perjalanan, ponselnya bergetar. Video call. Mak. Ia ragu, lalu menyerahkan ponselnya padaku, karena ia sedang menyetir.

“Neng! Rék ka mana? Kok di mobil?” Mau ke mana? Kok di mobil?

“Ke makam, Mak.”

Mak memandangiku dari layar, lalu memandangi bayangan anaknya di kursi sopir, lalu memandangiku lagi. Matanya menyipit curiga.

“Ziarah atawa pacaran?” Ziarah atau pacaran?

Ia tersedak udara sampai Si Siput sedikit oleng.

“Ziarah, Mak,” kataku.

“Ah, ziarah ogé bisa bari pacaran,” kata Mak santai, dan menutup telepon sebelum siapa pun sempat membantah.


Hujan turun ketika kami sampai.

Makam Gilang masih bersih. Tanggal tiga belas kemarin ia ke sini, aku tahu, karena sekarang aku menghitung hari-harinya. Bunga di botol masih segar. Batu-batu kecil di pinggir makam masih tersusun rapi.

Aku berlutut di samping nisan. Ia berdiri di belakangku, cukup jauh, payung hitam di tangan.

Aku memasukkan flashdisk ke ponselku. Ada satu file. Ukurannya kecil sekali. Beberapa ratus kilobita. Seluruh sisa suara seseorang yang pernah kucintai muat di dalam angka sekecil itu. Namanya hanya angka-angka. Aku memandanginya lama sekali, jempolku melayang di atas layar.

Lalu aku menekannya.

Bunyi mesin mobil. Bunyi wiper, ngiik, ngiik. Bunyi hujan di atap. Lalu suara Gilang, dekat sekali, seperti ia sedang duduk di sampingku.

“Oke. Oke. Latihan terakhir. Serius ini.” Ia berdeham, gaya penyiar, persis seperti di telepon hari itu. Lalu, dalam satu tarikan napas, lancar, tanpa satu suku kata pun yang tersandung:

“Saya terima nikah dan kawinnya Rania Adiwijaya binti Hartono Adiwijaya dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Hening sebentar. Lalu tawanya meledak. Tawa yang keras dan bahagia, tawa orang yang baru saja memenangkan sesuatu.

“Nia! Aku berhasil! Sekali tarikan napas! Nama jalan kalian aku hafal!” Ia tertawa lagi. Lalu suaranya melunak. “Nanti kalau aku telat, jangan ngambek, ya, Nia. Ketawa dulu. Aku suka banget ketawamu. Walaupun kayak kambing keselek.” Jeda. Bunyi wiper. “Janji tetap ketawa, ya. Apa pun yang terjadi. Udah, ah. Nggak usah dikirim. Malu. Hari Minggu aku bilang langsung aja.”

Rekaman itu berhenti. Yang tersisa hanya bunyi hujan, di rekaman dan di dunia nyata, sama persis.


Aku tidak tahu berapa lama aku berlutut di sana.

Aku ingat tanah basah di bawah lututku. Aku ingat hujan. Aku ingat bunyi yang keluar dari tenggorokanku, bunyi yang tidak pernah kudengar keluar dari diriku sendiri, bahkan di kamar jenazah, bahkan di ICU. Bunyi yang tujuh bulan tertahan di suatu tempat yang sangat dalam, dan sekarang keluar semuanya sekaligus.

Aku menangis. Bukan tangis yang ditekan ke bantal. Bukan tangis yang ditahan supaya tidak ada yang tahu. Aku menangis dengan seluruh tubuhku, dengan mulut terbuka, di depan makam, di bawah hujan, di depan laki-laki itu.

Hari Minggu aku bilang langsung aja.

Ia tidak pernah sampai hari Minggu.

Aku tidak sadar kapan aku berdiri. Aku tidak sadar kapan aku berbalik. Yang kutahu, tiba-tiba aku sudah memeluknya. Wajahku di dadanya, tanganku mencengkeram kemeja kotak-kotaknya di punggung, dan aku menangis ke dalam kain yang berbau sabun batang dan hujan.

Ia tidak bergerak sebentar. Kaku, seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa dengan kedua tangannya. Lalu, pelan sekali, satu tangannya terangkat dan menyentuh belakang kepalaku. Tidak menekan. Hanya ada di sana.

Tangannya yang lain masih memegang payung. Memiringkannya penuh ke arahku, sampai seluruh payung itu ada di atas kepalaku, dan seluruh tubuhnya sendiri ada di luar, di bawah hujan.

Aku menangis sampai tidak ada lagi yang bisa keluar. Lalu aku tetap di sana, di dadanya, mendengarkan jantungnya yang berdetak cepat dan tidak teratur, sangat berbeda dengan wajahnya yang selalu tenang.


Ketika akhirnya aku melepaskan diri, ia basah kuyup. Rambutnya menempel di dahi. Air menetes dari ujung hidungnya, dari dagunya, dari kemejanya yang sekarang sepenuhnya gelap. Ia kelihatan seperti kucing yang kecemplung got.

Payung di tangannya masih tegak di atasku. Aku sama sekali tidak basah.

Aku memandanginya. Dan sesuatu di kepalaku tersambung, seperti dua ujung kabel yang akhirnya bersentuhan.

Pemakaman Gilang. Bulan Juni. Gerimis. Aku berdiri di tepi liang lahat tanpa payung, karena semua orang sibuk memayungi Bu Ratih. Lalu tiba-tiba hujan berhenti jatuh di kepalaku. Ada payung di atasku. Seseorang memegangnya dari belakang. Aku tidak menoleh. Aku tidak peduli siapa.

“Waktu itu,” kataku. Suaraku serak dan habis. “Di pemakaman. Payungnya. Juga kamu?”

Ia diam. Air hujan menetes dari bulu matanya.

Lalu ia mengangguk.

Aku menutup mata.

“Kenapa?” tanyaku. “Kenapa kamu kasih rekaman ini? Kamu tahu ini bikin aku makin ingat dia. Kamu tahu aku bakal nangis kayak gini. Kamu tahu aku…” Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku.

Ia memandangku lama, dengan wajah yang basah dan tenang.

“Karena itu milikmu,” katanya. “Dan dia pantas didengar.”

Hanya itu. Bukan karena aku ingin kamu bahagia. Bukan karena aku peduli. Bukan apa pun tentang dirinya sendiri.

Karena itu milikku. Dan Gilang pantas didengar.


Aku kembali ke makam itu sekali lagi sebelum kami pergi. Sendirian. Ia menunggu di gerbang, di samping Si Siput, menggigil dalam kemeja basah.

Aku berlutut dan menempelkan telapak tangan di nisan yang dingin.

“Aku dengar, Lang,” bisikku. “Lancar banget. Sekali tarikan napas. Kamu hebat.”

Hujan menipis.

“Aku janji. Aku bakal ketawa lagi. Nggak sekarang. Tapi nanti. Aku janji.” Aku menarik napas yang gemetar. “Makasih udah sayang sama aku. Makasih udah telat terus. Makasih udah bikin aku ketawa empat tahun.”

Aku mencium ujung jariku dan menempelkannya di nisan.

“Pergi yang tenang, ya.”

Itu pertama kalinya aku berpamitan pada Gilang. Tujuh bulan setelah ia pergi. Aku tidak tahu kenapa butuh selama itu. Mungkin karena aku tidak pernah mendengar suaranya bilang selamat tinggal. Sekarang aku sudah mendengarnya, walaupun yang ia katakan bukan selamat tinggal, tapi sampai hari Minggu.

Itu cukup. Itu sangat Gilang.

Aku berdiri dan berbalik. Di gerbang, ia masih menunggu di samping Si Siput, basah kuyup, memeluk dirinya sendiri karena kedinginan. Ia tidak memandang ke arahku. Ia memandang ke tanah, memberiku ruang, seperti di pemakaman pertama, seperti di empat puluh hari, seperti setiap kali.

Aku berjalan ke arahnya. Di tengah jalan setapak, aku sadar langkahku lebih ringan dari waktu datang tadi. Bukan karena dukanya hilang. Duka itu masih ada, besar dan berat. Tapi sekarang aku tahu di mana harus meletakkannya.


Di mobil, aku mengeluarkan handuk kecil dari tas, handuk yang sekarang selalu kubawa, dan menyodorkannya padanya. Kali ini ia memakainya. Mengeringkan rambutnya dengan gerakan yang canggung, lalu melipatnya lagi menjadi empat, rapi sekali.

Kami pulang tanpa bicara. Tiga puluh kilometer per jam. Lewat Parung.

Di tengah jalan, ia bersin. Sekali. Lalu dua kali. Lalu tiga kali berturut-turut, sampai Si Siput sedikit oleng.

“Kamu masuk angin,” kataku.

“Nggak apa-apa.”

Bibirnya pucat. Tangannya di kemudi sedikit gemetar. Kemejanya masih lembap, menempel di punggung. Ia berdiri di bawah hujan hampir satu jam, memayungi aku, dan baru sekarang tubuhnya menagih.

Sampai di rumah, aku menyuruhnya mandi air hangat. Ia bilang nanti. Aku bilang sekarang. Ia memandangku dengan wajah kaget, seperti tidak pernah diperintah seseorang dengan nada seperti itu, lalu menurut.

Sementara ia mandi, aku memarut jahe di dapur. Jahe merah, banyak, dengan gula aren dan sebatang serai yang dipukul. Resep Bi Imas, pengasuhku dulu, yang selalu ia buat setiap kali Papa pulang kehujanan. Aku menuangnya ke gelas besar, lalu, setelah ragu sebentar, menambahkan sedikit air dingin, sampai hangatnya pas di punggung tanganku.

Ketika ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan kaus yang bersih, wedang jahe itu sudah menunggu di meja makan.

Ia memandangi gelas itu. Lalu memandangku. Lama.

“Buat kamu,” kataku. “Minum.”

Ia duduk dan memegang gelas itu dengan dua tangan, tidak langsung meminumnya. Hanya memegangnya, seperti memegang sesuatu yang belum pernah ia terima sebelumnya dan tidak tahu harus diapakan.

“Terima kasih,” katanya. Suaranya serak. Mungkin karena masuk angin.

Malam itu juga aku menelepon Bu Ratih dan mengirim rekaman itu padanya. Bu Ratih tidak bicara apa-apa selama rekaman diputar. Setelah selesai, aku mendengar ia memutarnya lagi. Dan lagi. Lalu suaranya, pecah: “Dia berhasil, ya, Nia. Sekali tarikan napas.” Aku bilang iya. Kami menangis bersama lewat telepon, dua perempuan yang mencintai laki-laki yang sama dengan cara yang berbeda, dan untuk pertama kalinya tangisan itu tidak terasa seperti tenggelam.

Malam itu aku menulis di buku biru dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

14. Dia memayungi aku di pemakaman Gilang. Dari belakang. Aku nggak pernah noleh.

15. Dia nyelamatin suara Gilang. Lima bulan. Nggak bilang berapa bayarnya. Raknya setengah kosong.

16. Dia bilang: karena itu milikmu, dan dia pantas didengar.

Aku tidur pukul sepuluh.

Dan untuk pertama kalinya sejak bulan Juni, aku tidak terbangun pukul dua pagi.