Chapter Eight

Mak Datang Membawa Labu Siam

POV: Rania

Hari ketiga belas dimulai dengan bunyi karung jatuh.

Lalu suara perempuan, keras dan cempreng, dalam bahasa Sunda yang cepat sekali, seperti radio yang diputar dua kali lipat kecepatannya. Lalu suara laki-laki yang suka bernyanyi dangdut, menjerit kecil. Lalu suara dia, rendah dan pelan. “Mak, pelan-pelan, Mak—“

“Pelan-pelan kumaha?! Ieu labu siam dua puluh kilo, Jar! Mak mawa ti Cianjur, naék travel, diuk gigireun hayam!”

Pelan-pelan gimana? Ini labu siam dua puluh kilo! Mak bawa dari Cianjur naik travel, duduk di sebelah ayam!

Mak. Ibunya.

Aku duduk di kasur dengan jantung berdebar, dan aku tidak tahu kenapa. Lalu ada ketukan di pintu. Bukan tiga. Bukan pelan.

Dok-dok-dok-dok-dok.

“Neng? Neng geulis? Ieu Mak. Mak-na si Fajar.”

Aku membeku.

“Mak moal maksa. Mak ngan hayang ngobrol. Meunang?” Mak nggak akan maksa. Mak cuma mau ngobrol. Boleh?

Aku tidak menjawab.

“Teu ngajawab, hartina meunang,” kata Mak, puas. Nggak jawab, artinya boleh.

Bangku kayu di depan pintu berderit keras ketika ia duduk. “Ieu bangku atawa kurupuk? Ngarérét kitu,” gerutunya. Lalu ia mulai bicara, dan tidak berhenti selama satu jam.


“Mak téh ibunya Fajar. Euis. Panggil Mak saja. Semua orang di kampung panggil Mak, sampai kepala desa juga.”

Suaranya berubah lebih pelan. Bahasa Indonesianya kental Sunda, naik-turun seperti jalan di Puncak.

“Neng, Mak téh nggak tahu harus ngomong apa sama orang yang lagi berduka. Mak juga pernah. Waktu bapaknya Fajar meninggal, Mak tiga minggu nggak masak. Tetangga yang kirim nasi. Jadi Mak nggak akan bilang sabar, nggak akan bilang ikhlas. Mak benci kalau orang bilang begitu.”

Aku menarik selimut sampai ke dagu. Aku tidak mau mendengarkan. Aku ingin dia pergi. Tapi suaranya, suara perempuan tua yang kasar dan hangat seperti tangan yang mengusap punggung terlalu keras, membuatku tidak sanggup menutup telinga.

“Mak dengar kabar nikahnya dari Bi Iyah. Bi Iyah dengar dari anaknya. Anaknya dengar dari radio!” Suaranya naik lagi. “Radio, Neng! Mak tahu anak Mak nikah dari radio! Mak téh ceurik tilu poé. Poé kahiji bungah, poé kadua sedih, poé katilu ambek.” Mak nangis tiga hari. Hari pertama bahagia, hari kedua sedih, hari ketiga marah.

“Bapaknya Fajar namanya Ahmad. Orang paling keras kepala se-Cianjur. Kalau nanam padi, dia ngobrol sama padinya. Katanya biar padinya nggak kesepian. Mak bilang, ‘Kang, padi mah teu boga ceuli.’ Padi nggak punya kuping. Dia jawab, ‘Tapi boga haté, Euis.’ Tapi punya hati.” Mak tertawa kecil, lalu tawanya patah di tengah. “Fajar mirip bapaknya. Persis. Diam-diam keras kepala, diam-diam ngobrol sama tanaman.”

Aku teringat catatan-catatan di laci. Tebak-tebakan tentang bayam dan tomat.

“Dari kecil Fajar téh nggak pernah minta apa-apa. Lebaran, anak lain minta baju baru, sepatu baru. Dia mah minta… nggak ada. Mak tanya, ‘Jar, hayang naon?’ Dia jawab, ‘Mak sehat wé.’ Mak sehat saja. Umur tujuh tahun, Neng. Tujuh tahun ngomong begitu. Mak sampai bingung, ini anak atau orang tua yang nyasar ke badan anak kecil.”

Di luar, aku mendengar seseorang tersedak tawa. Laki-laki yang suka bernyanyi dangdut itu, rupanya ikut menguping dari dapur.

“Si Lele, ulah ngadéngékeun!” bentak Mak. Si Lele, jangan nguping!

“Saya nggak nguping, Mak! Saya lagi ngupas labu!”

“Kupas nu bener, ulah kandel teuing!” Kupas yang bener, jangan ketebelan!

Beberapa menit kemudian terdengar jeritan lagi.

“Mak! Tangan saya lengket! Ini getahnya kenapa kayak lem?”

“Éta mah getah labu siam, Lele. Kudu diminyakan heula leungeunna.” Itu getah labu siam. Tangannya diolesi minyak dulu.

“Kenapa nggak bilang dari tadi, Mak?”

“Mak hayang nempo manéh nyaho sorangan.” Mak pengin lihat kamu tahu sendiri.

Dari dapur terdengar tawa pendek. Rendah, sekali saja, cepat-cepat ditahan. Aku belum pernah mendengar tawa itu. Butuh beberapa detik sampai aku sadar itu tawanya.

Mak kembali bicara padaku, dan suaranya merendah lagi.

“Bapaknya meninggal waktu Fajar tujuh belas. Jatuh di sawah. Jantung, kata dokter puskesmas. Fajar yang bawa pakai pikap tetangga.” Mak diam lama. “Telat. Sejak itu Fajar berhenti sekolah dulu. Jadi kenek angkot, kuli pasar, buruh tani di sawah orang. Empat tahun, Neng. Empat tahun nabung receh di kaleng biskuit. Baru dia berani daftar kuliah.”

Aku tidak tahu satu pun dari semua itu. Enam tahun murid Papa datang ke rumahku setiap minggu, dan aku tidak pernah tahu dia pernah jadi kenek angkot.

“Terus dia ketemu bapakmu.” Suara Mak berubah. “Profesor Hartono. Bapakmu yang terima anak Mak padahal nilainya pas-pasan. Bapakmu yang kasih kerjaan. Bapakmu yang tiap Lebaran telepon Mak, bilang, ‘Bu Euis, anak Ibu baik sekali.’ Tiap Lebaran, Neng. Delapan tahun. Mak belum pernah ketemu orangnya, tapi Mak hafal suaranya.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Papa tidak pernah cerita. Papa menelepon ibu seorang mahasiswa di Cianjur setiap Lebaran selama delapan tahun, dan tidak pernah cerita padaku.

“Neng, Fajar téh sok ngaganggu teu?” tanya Mak tiba-tiba. Fajar suka ganggu nggak? “Mun ngaganggu, béjakeun ka Mak. Ku Mak dijewer.” Kalau ganggu, bilang ke Mak. Mak jewer.

Dari dapur terdengar suara gelas diletakkan agak terlalu keras.

“Bapakmu sudah nolong anak Mak,” kata Mak, pelan lagi. “Sekarang giliran anak Mak yang nolong anaknya. Hidup teh gantian, Neng. Begitu.”


Sebelum berdiri, Mak menyelipkan sesuatu di bawah pintu.

“Ieu poto si Fajar keur leutik. Supaya Neng apal, salaki Neng mah ti leutik ogé geus kotor ku leutak.” Ini foto Fajar waktu kecil. Biar Neng tahu, suami Neng dari kecil memang sudah belepotan lumpur.

Aku menunggu langkahnya menjauh. Lalu aku turun dari kasur, berlutut, dan memungutnya.

Foto lama, warnanya sudah kekuningan, ujungnya melengkung. Seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun berdiri di tengah sawah dengan lumpur sampai ke lutut. Dua gigi depannya ompong. Ia mengangkat sebatang bibit padi tinggi-tinggi, seperti mengangkat piala. Di belakangnya, seorang laki-laki bercaping tertawa lebar, satu tangannya di bahu anak itu.

Di balik foto ada tulisan pensil yang besar-besar: Jar & Bapak, tandur, 2004.

Aku memandangi wajah laki-laki bercaping itu lama sekali. Ia tidak mirip Papa. Kulitnya gelap, giginya tidak rata, dan capingnya bolong di pinggir. Tapi cara tangannya memegang bahu anak itu, cara ia tertawa melihat anaknya bangga dengan sebatang bibit, persis Papa.

Dua bapak. Dua-duanya sudah tidak ada.

Aku meletakkan foto itu di meja, bersandar ke gelas bunga matahari. Anak kecil berlumpur itu tersenyum ompong ke arah kasurku. Aku membiarkannya.

Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku bersandar ke pintu, menempelkan dahi ke kayu yang dingin, dan dengan suara yang serak karena tiga belas hari tidak dipakai, aku berkata:

“Makasih, Mak.”

Di luar, ada bunyi napas yang tertarik tajam. Lalu sunyi. Lalu:

“Alhamdulillah! Manéhna nyarita! JAR! JAR! Manéhna nyarita!” Dia ngomong! Jar! Dia ngomong!

Langkah kaki berlari. Sesuatu jatuh di dapur, kedengarannya seperti satu karung labu siam, disusul jeritan Si Lele.


Mak menginap empat hari.

Selama empat hari itu, nampan di depan pintuku berubah. Bukan lagi nasi dan lauk sederhana, tapi masakan Mak: sayur labu siam, tumis labu siam, labu siam rebus dengan sambal terasi, oseng labu siam campur teri, dan pada hari ketiga, entah bagaimana caranya, kolak labu siam.

Aku makan lebih banyak dari biasanya. Bukan karena lapar. Karena aku tidak tega mengembalikan piring berisi labu siam ke perempuan yang membawanya dua puluh kilo dari Cianjur sambil duduk di sebelah ayam.

Tapi tehnya masih teh yang sama. Hangatnya masih pas. Padahal dari balik dinding aku mendengar Mak mengomel bahwa teh harus diseduh air mendidih, “mun teu panas, lain téh, éta mah cai kotor!” Kalau nggak panas, itu bukan teh, itu air kotor. Teh di nampanku tetap tidak pernah panas.

Mak mengomeli segalanya. Dinding rumah ini, “ipis siga kurupuk”. Masakan anaknya, “asa nginum cai kobokan”, kayak minum air kobokan. Pintuku.

Mak juga memberi makan Si Lele tiga kali lipat porsi orang normal, dan Si Lele menerimanya dengan rasa syukur seorang pengungsi.

“Mak,” kudengar ia berkata dengan mulut penuh, “angkat saya jadi anak, Mak.”

“Moal. Manéh loba teuing dahar.” Nggak. Kamu kebanyakan makan.

Pada hari kedua, aku mendengarnya mendorong pintu itu pelan-pelan dengan bahu. Daun pintunya bergetar.

“Mak ngan nguji,” katanya keras-keras pada siapa pun yang mendengar. “Saeutik wungkul. Pantona kuat henteu.” Mak cuma ngetes. Sedikit saja. Pintunya kuat atau nggak.

Lalu suaranya. Rendah, tenang, tidak marah.

“Mak. Kuncinya di dia.”

Dorongan di pintu berhenti.

“Nya, nya,” gerutu Mak. “Kuncina di manéhna. Mak ogé apal.”

Aku duduk diam di kasur dengan kunci kuningan itu di genggamanku, tali rafianya melilit jari. Kunci itu sudah ada di tanganku sejak hari pertama. Selama tiga belas hari, aku tidak pernah sekali pun bertanya-tanya apakah dia punya kunci yang lain.

Malam kedua Mak di sana, aku terbangun pukul dua dan menangis seperti biasa, wajah ditekan ke bantal. Di tengah tangis itu aku mendengar sesuatu dari balik pintu. Senandung. Suara perempuan tua, pelan dan sumbang, menyenandungkan lagu yang tidak kukenal kata-katanya tapi kukenal iramanya. Lagu nina bobo Sunda yang dulu juga disenandungkan Bi Imas, pengasuhku waktu kecil. Ayun Ambing.

Aku berhenti menangis untuk mendengarkan. Mak menyenandungkannya berulang-ulang, sampai suaranya serak, sampai aku tertidur. Aku tidak tahu Mak tidur di mana malam itu. Aku tidak tahu di mana semua orang di rumah ini tidur. Aku tidak pernah bertanya.

Siang harinya, Mak duduk lagi di bangku depan pintu. Kali ini ia tidak bicara tentang Fajar. Ia bicara tentang dirinya sendiri.

“Mak ogé dijodohkeun, Neng.” Mak juga dijodohkan. “Umur sembilan belas. Mak nggak suka Bapak. Bapak kebanyakan diam. Ngobrolnya sama padi, bukan sama Mak. Malam pertama, Mak nangis di dapur sampai subuh. Bapak nggak maksa. Bapak cuma duduk di luar, bikin kopi dua gelas. Satu buat dia, satu buat Mak. Tiap malam. Kopinya dingin terus, Mak nggak pernah keluar.”

Mak tertawa kecil.

“Lima tahun kemudian, kalau ada yang tanya siapa laki-laki yang paling Mak sayang, Mak jawab Bapak. Nggak pakai mikir.”

Aku memandangi pintu yang memisahkan kami. Aku bukan Mak, kataku dalam hati. Ini bukan cerita yang sama. Aku tidak akan pernah sampai di ujung cerita itu.

Tapi malam itu, entah kenapa, aku teringat segelas teh yang setiap pagi hangatnya selalu pas, dan aku tidak bisa tidur sampai subuh.


Malam terakhir Mak di sana, aku mendengar mereka bicara di dapur. Dindingnya memang setipis kerupuk.

“Jar.” Suara Mak pelan, tidak cempreng lagi. “Manéh téh bagja?”

Kamu bahagia, Jar?

Aku menahan napas. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak peduli jawabannya. Aku tidak peduli apa pun.

Dari dapur, tidak ada suara. Lalu ketel berbunyi melengking panjang, nyaring sekali, menutupi semuanya. Ketika ketel itu akhirnya berhenti, yang terdengar adalah Mak tertawa karena sesuatu yang dikatakan Si Lele.

Aku tidak pernah mendengar jawabannya.

Dan aku kesal, karena ternyata aku ingin mendengarnya.


Mak pulang pagi hari ketujuh belas. Aku mendengar karung-karung diangkat, Si Lele mengeluh punggungnya patah, Mak berpesan panjang tentang cara menyimpan labu siam supaya tidak bertunas.

Lalu langkahnya mendekat ke pintuku. Kali ini ia tidak mengetuk. Ia hanya berbisik, dekat sekali dengan kayu, sampai aku bisa mendengar napasnya.

“Neng. Anak Mak itu orang paling sabar sedunia.” Ia diam sebentar. “Tapi ulah lila teuing, nya.”

Tapi jangan lama-lama, ya.