Chapter Four

Akad di Ruang ICU

POV: Rania

Penghulu datang pukul delapan malam, membawa map biru, peci yang sedikit kebesaran, dan wajah orang yang belum pernah menikahkan siapa pun di depan monitor jantung.

“Saya sudah dua puluh tahun bertugas,” katanya pada Tante Ratna di lorong, setengah berbisik. “Ini yang pertama di ICU.”

“Ini juga yang pertama buat kami, Pak,” jawab Tante, ketus, karena Tante selalu ketus kalau sedang takut.

Aku duduk di kursi tunggu dan memandangi lantai. Lantainya berpola kotak-kotak hijau dan putih. Aku menghitungnya. Empat puluh dua kotak dari kursi ke pintu ICU. Kemarin pagi aku masih memikirkan warna pita untuk suvenir.

Seseorang telah mengurus semuanya. Penghulu dari KUA, izin rumah sakit, dua saksi, berkas-berkas yang entah bagaimana sudah lengkap dalam beberapa jam. Aku tidak tahu siapa. Aku tidak bertanya. Aku hanya diberi satu kertas untuk ditandatangani, dan aku menandatanganinya.

Tante Ratna datang membawa kantong kain. Dari dalamnya ia mengeluarkan kerudung putih panjang yang sudah menguning di lipatannya.

“Punya mamamu,” katanya. Suaranya pecah di tengah. “Dipakai waktu akad sama papamu. Tante simpan.”

Aku memandangi kerudung itu lama. Kebaya putih gading jahitan Bu Lilis masih tergantung di butik, dengan pinggang yang sudah dikecilkan dua senti. Kebaya itu untuk Gilang. Kebaya itu tidak akan pernah dipakai.

Tante memasangkan kerudung Mama di kepalaku. Tangannya gemetar.

Cincin tunangan dari Gilang masih di jari manisku. Di toilet rumah sakit, sebelum akad, aku melepasnya. Butuh sabun, air, dan waktu yang lama, karena jariku bengkak oleh tangis. Aku memasukkannya ke saku jaket abu-abu itu dan menutup ritsletingnya.

Kiki datang setengah jam sebelum akad, masih memakai kaus siaran, maskaranya sudah luntur sejak di angkot. Ia memelukku lama sekali tanpa bicara, hal yang belum pernah Kiki lakukan seumur hidupnya.

Lalu ia melepaskanku dan berbisik, “Ran. Yang mana orangnya?”

Aku menunjuk dengan dagu ke ujung lorong, tempat seorang laki-laki berkemeja putih sedang bicara dengan petugas KUA.

Kiki memandanginya lama. “Itu?”

“Itu.”

“Yang… itu?” Kiki memiringkan kepala. “Ran, dia kayak guru les fisika.”

Aku tidak menjawab. Kiki menggigit bibir, menyesal, lalu memelukku lagi. “Maaf. Gue ngomong apa sih. Maaf.”

Aku tidak merasakan apa-apa. Itu yang paling menakutkan.


Kami masuk ke ICU dengan izin khusus. Perawat jaga menggeser tirai, mematikan satu lampu yang terlalu terang, dan memandangi kami dengan wajah yang tidak tahu harus tersenyum atau berduka.

Papa sudah duduk setengah berbaring. Seseorang telah menyisir rambutnya dan memakaikannya peci hitam, miring sedikit ke kiri, peci yang biasa Papa pakai ke masjid kompleks. Papa melihatku masuk dengan kerudung Mama, dan matanya basah.

“Cantik,” katanya. “Persis.”

Aku tidak bisa menjawab.

Saksinya dua orang. Yang pertama laki-laki gempal berkacamata yang memakai batik bergambar ikan lele, banyak sekali ikan lele, berenang ke segala arah. Dodi, katanya, teman lab. Yang kedua Pak Asep, satpam rumah sakit yang kebetulan berjaga di lorong dan, menurut Dodi, “satu-satunya laki-laki dewasa di lantai ini yang nggak lagi diinfus.”

Pak Asep sudah menangis sebelum acara dimulai.

“Punten, Neng,” katanya sambil mengusap mata dengan topi. “Bapak mah gampang terharu. Anak Bapak juga nikah bulan kemarin.”

Tante Ratna memandangi batik Dodi dari atas kacamata. “Kamu mau jadi saksi atau mau jualan pecel lele?”

Dodi menunduk. “Dua-duanya bisa, Tante.”

Penghulu meminta semua yang hadir mematikan ponsel. Pak Asep mematikan HT-nya. Dodi mematikan ponselnya, lalu menyalakannya lagi untuk memotret, lalu dipelototi Tante sampai ia mematikannya lagi.

Lalu laki-laki itu masuk. Murid Papa. Yang tadi pagi menggendong Papa dari pemakaman. Yang Senin lalu kulempar handuk dan kupanggil dengan nama yang salah.

Ia memakai kemeja putih yang kelihatan baru dibeli, masih ada bekas lipatan plastik di dadanya. Rambutnya disisir basah. Wajahnya biasa saja, wajah yang kalau berpapasan di pasar tidak akan diingat siapa pun. Tapi tenang. Sangat tenang. Seperti air di kolam yang dalam.

Penghulu membuka map. Petugas di sampingnya menanyakan data terakhir untuk dicatat.

“Nama mempelai pria?” tanyanya padaku, karena aku duduk paling dekat.

Aku membuka mulut dan menjawab otomatis. “Farid.”

Penghulu mengangguk, menulis, lalu berdeham dan membaca dengan suara resmi, “Baik. Saudara Farid—“

Dari ranjangnya, Papa tertawa.

Tawanya pendek dan lemah, lebih mirip batuk. Tapi itu tawa. Papa tertawa sampai matanya berair dan monitor di sampingnya berbunyi sedikit lebih cepat.

“Fajar, Pak,” kata Papa, terengah. “Fajar Nugraha. Anak saya ini memang begitu. Sudah enam tahun, masih salah.”

Laki-laki itu tidak tersinggung. Ia menunduk, dan sudut bibirnya naik sedikit sekali.

Aku tidak tahu, saat itu, bahwa itu tawa terakhir Papa.


“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Fajar Nugraha bin Ahmad Sudrajat, dengan putri kandung saya, Rania Adiwijaya binti Hartono Adiwijaya, dengan mas kawin sebuah cincin perak dan uang tunai sebesar tiga ratus dua belas ribu rupiah, dibayar tunai.”

Suara Papa bergetar. Ia berhenti dua kali untuk menarik napas. Tapi ia menyelesaikannya.

Dodi berbisik pada Pak Asep, cukup keras untuk kudengar, “Itu isi dompetnya semua. Tadi gue lihat.”

Pak Asep menangis lebih keras.

Laki-laki itu menjabat tangan Papa. Tangan Papa gemetar. Tangannya tidak. Ia menggenggam tangan Papa seperti menggenggam sesuatu yang mudah pecah, mantap tapi lembut, dan menunggu dengan sabar sampai Papa siap. Lalu, tanpa jeda, tanpa gugup, dalam satu tarikan napas:

“Saya terima nikah dan kawinnya Rania Adiwijaya binti Hartono Adiwijaya dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Satu tarikan napas. Lancar. Tidak ada satu suku kata pun yang tersandung.

Kemarin sore, di jalan tol yang licin, Gilang belepotan di nama yang sama. Kenapa sih nama kalian panjang-panjang? Ia berjanji akan berlatih sampai rumah. Ia tidak pernah sampai rumah.

Laki-laki di depanku mengucapkannya seolah sudah ribuan kali. Seolah nama itu sudah lama sekali ia hafal.

“Sah?” tanya penghulu.

“Sah,” kata Dodi.

“SAH,” kata Pak Asep, terisak.

Begitu saja. Dua menit. Hidupku berpindah tangan dalam dua menit, di ruangan berbau alkohol, disaksikan seorang satpam yang menangis dan seorang laki-laki berbatik lele.

Ia mengeluarkan kotak kecil warna biru dari saku. Di dalamnya, cincin perak sederhana tanpa batu, lingkaran polos yang memantulkan lampu neon. Ia memasangkannya di jari manisku dengan sangat hati-hati, seolah jariku terbuat dari kaca.

Cincin itu longgar. Turun sampai ke pangkal jari, lalu berputar sendiri.

“Maaf,” katanya pelan. Kata pertamanya padaku sebagai suami. “Nanti bisa dikecilkan.”

Aku tidak menjawab. Aku mengambil tangannya untuk salim, karena begitulah yang seharusnya dilakukan seorang istri. Tangannya kasar, hangat, berbau sabun batang. Jariku pasti dingin sekali, karena aku merasakan ia sedikit tersentak. Tapi ia tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jariku yang dingin menempel di punggung tangannya, sampai aku sendiri yang melepaskan.

Papa memandangi kami dari ranjangnya. Wajahnya tenang, lebih tenang dari sejak kemarin.

“Alhamdulillah,” bisiknya.

Lalu Papa mengulurkan tangan ke arah laki-laki itu. “Jar. Mulai sekarang jangan Prof lagi. Panggil Papa.”

Ia membuka mulut. Sebelum suaranya keluar, Papa terbatuk, keras, berkali-kali, dan monitor berbunyi nyaring. Perawat bergegas masuk dan meminta semua orang keluar. Di lorong, aku melihatnya berdiri memandangi pintu ICU yang tertutup, mulutnya masih sedikit terbuka, seperti seseorang yang kalimatnya tertinggal di dalam.


Malam itu aku tidak pulang. Aku tidur di kursi lipat di samping ranjang nomor empat, masih memakai kerudung Mama, memeluk jaket abu-abu yang sejak kemarin tidak kulepaskan.

Sekitar pukul dua, Papa bangun.

“Neng.”

“Papa, istirahat.”

“Senyum dulu, Neng.”

Aku mencoba. Sungguh-sungguh mencoba. Bibirku tidak mau bergerak, seolah otot-otot di wajahku lupa caranya.

Papa mengangguk pelan, seperti mengerti.

“Nggak apa-apa. Nanti,” katanya. “Nanti juga bisa lagi.”

Ia memandangi langit-langit, lalu tersenyum sendiri.

“Mamamu dulu juga nggak suka Papa, tahu?”

“Masa?”

“Tiga bulan nggak mau lihat muka Papa. Papa terlalu pendiam, katanya. Terlalu membosankan.” Papa terkekeh pelan. “Terus Papa kasih dia sebungkus biji bunga matahari. Nggak pakai surat. Nggak pakai apa-apa. Dia tanam di pot depan kosnya. Waktu bunganya mekar, baru dia mau lihat muka Papa.”

“Itu yang di dasar Kotak Benih?”

“Itu.” Mata Papa basah. “Kadang yang paling sabar itu yang paling lama dilihat, Neng.”

Ia diam lama. Kukira ia tertidur. Lalu ia berbisik lagi, matanya terpejam.

“Bunga matahari Papa. Jangan lupa disiram.”

“Iya, Pa.”

“Dan, Neng.” Ia membuka mata sedikit. “Dia anak baik. Kamu nggak harus percaya Papa sekarang. Nanti kamu lihat sendiri.”

Aku tidak mengerti. Aku tidak berusaha mengerti.

Aku menggenggam tangan Papa dan menghitung bunyi monitor. Empat belas tahun lalu aku duduk di kursi yang mirip, di rumah sakit yang lain, menggenggam tangan Mama. Waktu itu Papa berdiri di belakangku sepanjang malam, memegangi bahuku. Malam ini Papa di ranjang dan aku di kursi, dan tidak ada orang ketiga di dunia ini yang akan berdiri di belakangku.

Begitu yang kupikir.

Di balik kaca pintu ICU, ada siluet seseorang di lorong. Berdiri saja. Tidak duduk, tidak mondar-mandir. Setiap kali aku terbangun malam itu, siluet itu masih di sana. Kukira satpam. Kukira Pak Asep.


Pukul lima lewat empat puluh.

Azan subuh sudah lewat. Langit di jendela berubah dari hitam ke biru kelabu. Aku terbangun karena bunyi monitor berubah. Bunyi tit, tit, tit yang menemaniku semalaman menjadi satu nada panjang yang tidak berhenti.

Aku tidak ingat berteriak. Kata Tante, aku berteriak. Kata Tante, aku berteriak sampai perawat dari ruangan lain berdatangan.

Dokter. Perawat. Tirai yang ditarik. Tangan-tangan yang menarikku mundur. Seseorang menyebutkan waktu dengan suara datar, untuk dicatat.

Laki-laki itu berdiri di ujung ranjang. Ia tidak menyentuhku. Ia hanya menundukkan kepala ke arah Papa, lama sekali, seperti murid yang berpamitan pada gurunya.

Tante Ratna merosot ke lantai di sampingku, sanggulnya lepas. Untuk pertama kalinya aku melihat Tante menangis seperti anak kecil, memanggil “Mas, Mas” berulang-ulang.

Lalu sunyi.

Hari itu Minggu, lima belas Juni. Hari ini seharusnya aku menikah. Seharusnya aku duduk di depan cermin dengan kebaya putih gading, menunggu Gilang yang pasti telat, mendengar Papa memberi sambutan yang terlalu panjang dan terlalu banyak menyebut bunga matahari.

Aku sudah menikah. Dengan orang lain. Dan Papa pergi tepat di pagi yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku.

Setelah itu, seseorang mengurus semuanya. Surat kematian. Ambulans. Kabar ke masjid kompleks. Aku hanya diminta menandatangani satu kertas, dan aku menandatanganinya dengan tangan yang tidak terasa seperti tanganku.

Kiki menelepon Pak Bonar. Pukul tujuh pagi, di jam Pagi Riang, Pak Bonar mengumumkannya di udara dengan suara pecah. Kata Kiki, setelah itu telepon studio tidak berhenti berdering sampai siang. Hanya ponsel jadul di ujung meja yang tidak berbunyi sama sekali.

Aku duduk di lantai lorong, bersandar ke dinding. Kakiku telanjang; entah kapan sandalku lepas. Seseorang berjongkok dan memasangkannya kembali, satu per satu, lalu pergi sebelum aku sempat mengangkat kepala.

Aku memandangi tanganku sendiri. Cincin perak itu berputar longgar di jari manisku. Berputar dan berputar, tidak mau diam.

Aku menikah dengan laki-laki yang namanya dua kali salah kusebut.

Dan aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk menceritakannya.