Chapter Nineteen
Tiga Puluh Kilometer per Jam
POV: Rania
Awal November, Dodi ikut menumpang Si Siput ke kampus.
Ia duduk di jok belakang dengan ransel penuh draf tesis dan wajah orang yang akan menghadapi regu tembak. Seminar hasil penelitiannya dijadwalkan pukul sepuluh. Ini percobaan keempat. Revisi keempat belas.
Aku ikut karena hari itu aku harus mengurus berkas pensiun Papa di kantor kepegawaian kampus, dan karena di luar hujan.
Si Siput keluar dari gang, berbelok ke jalan raya, dan melaju dengan kecepatan yang membuat sepeda ontel bapak-bapak tua di sebelah kami perlahan-lahan menyalip.
Dodi memandang ke luar jendela. Memandang spidometer. Memandang sepeda ontel yang sekarang sudah jauh di depan.
“Jar.”
“Hm.”
“Gue telat.”
“Masih satu jam.”
“Dengan kecepatan segini, satu jam itu kurang, Jar. Dengan kecepatan segini, gue sampai kampus pas gue udah pensiun.”
Ia tidak menjawab. Ia tetap menyetir. Tiga puluh.
Dodi menghela napas panjang dan bersandar ke jok dengan dramatis. “Lo tahu nggak, Mbak,” katanya padaku, “kalau berdua sama gue, dia nyetir kayak pembalap reli. Serius. Minggu lalu gue sampai pegangan ke handle pintu sambil baca Ayat Kursi. Tapi kalau ada Mbak…” Ia menunjuk spidometer dengan dagu. “Kayak bawa telur sekeranjang. Telur sekeranjang yang lagi tidur. Telur sekeranjang yang lagi tidur dan punya penyakit jantung.”
“Dod,” katanya.
“Gue cuma ngasih data, Jar. Lo sendiri yang bilang data itu suci.”
Aku memandang spidometer. Tiga puluh. Aku memandang tangannya di kemudi, sepuluh dan dua, persis seperti di buku panduan mengemudi. Aku memandang wajahnya yang datar, telinganya yang mulai memerah.
Lalu, di persimpangan, ia berbelok ke kiri.
Dodi menegakkan badan. “Jar. Lo lewat Parung lagi? Tol lebih cepet, Jar! Tol! Jalan yang dibangun pemerintah supaya orang cepet sampai!”
Ia tidak menjawab.
Dan aku, akhirnya, mengerti.
Tol Jagorawi. Jalan tercepat dari Bogor ke mana pun. Jalan tempat sebuah truk kehilangan kendali di aspal licin, pukul lima sore lewat sedikit, tiga belas Juni.
Sejak aku tinggal di rumahnya, aku tidak pernah sekali pun melewati tol itu. Ke makam Gilang, lewat Parung. Ke Rumah Matahari, lewat jalan kampung. Ke rumah sakit, malam itu, lewat jalan yang tidak kukenal. Empat puluh menit lebih jauh, setiap kali. Setiap kali.
Dan tiga puluh kilometer per jam. Bukan karena Si Siput tua. Bukan karena ia penakut. Karena aku ada di dalam mobil.
Aku memalingkan wajah ke jendela. Hujan menetes di kaca. Aku tidak mau ia melihat wajahku sekarang.
Di tengah perjalanan, petir menyambar.
Dekat sekali. Cahayanya putih menyilaukan, dan bunyinya datang hampir bersamaan, seperti langit robek tepat di atas kepala kami. Si Siput bergetar. Dodi menjerit. Aku tidak menjerit. Tanganku hanya bergerak sendiri, mencengkeram sesuatu.
Lengan bajunya. Kemeja kotak-kotak, di bagian siku. Aku menggenggamnya erat, jari-jariku menggulung kain itu.
Ia tidak menoleh. Ia tidak bilang apa-apa. Ia hanya memelankan mobil lagi, dari tiga puluh menjadi dua puluh, dan membiarkan tanganku di lengannya.
Tidak ada yang bicara. Bahkan Dodi diam. Hujan turun makin deras, dan petir menyambar dua kali lagi, lebih jauh, dan setiap kali, genggamanku mengencang, dan setiap kali, ia memelankan mobil sedikit lagi.
Ketika kami tiba di kampus, aku melepaskan lengan bajunya. Kainnya kusut di bagian yang tadi kugenggam. Ia tidak merapikannya.
Seminar Dodi gagal lagi.
Kami tahu sebelum ia keluar dari ruangan, karena kami mendengar suaranya dari lorong, memohon dengan nada tinggi, “Tapi, Prof, saya sudah pakai tiga metode statistik!”
Revisi kelima belas.
Dodi keluar dari ruang seminar dengan wajah pucat dan tumpukan kertas penuh coretan merah. Ia duduk di bangku lorong, menatap kosong ke dinding, dan ponselnya berdering. Video call. Kiki Pagi Riang.
Rupanya ia sudah memberi tahu Kiki soal seminar itu. Rupanya mereka sudah bertukar nomor. Aku tidak tahu kapan itu terjadi. Belakangan Dodi mengaku, dengan wajah merah, bahwa Kiki memintanya di tahlilan empat puluh hari Papa “untuk keperluan menagih risoles”. Kiki mengaku hal yang sama, dengan alasan yang sama, dan dengan wajah yang sama merahnya.
“Gimana?” Wajah Kiki memenuhi layar, latar belakangnya studio Swara Pakuan.
“Gagal.”
“HAH! Udah gue bilang!” Kiki terbahak, lalu menoleh ke samping. “Pak Bonar! Pak! Dodi gagal lagi! Revisi kelima belas!”
Dari luar layar terdengar suara bariton Pak Bonar: “Kasihan kali kau, Lae!”
“Kamu nelepon cuma buat ngetawain?” Dodi memelototi layar.
“Gue nelepon buat ngasih dukungan moral. Ketawa itu dukungan moral. Lo kurang piknik.”
Mereka bertengkar sampai Si Siput tiba di gerbang rumah. Tentang statistik. Tentang siapa yang lebih sering gagal dalam hidup. Tentang apakah penyiar radio termasuk profesi atau hobi yang dibayar. Aku duduk di jok depan mendengarkan, dan ia menyetir, tiga puluh kilometer per jam, dan sesekali, di kaca spion, aku melihat sudut bibirnya bergerak.
Setelah hari itu, aku mulai melihat.
Bukan mencari. Melihat. Seperti seseorang yang baru memakai kacamata setelah bertahun-tahun rabun, dan baru sadar bahwa dunia selama ini penuh garis-garis tajam.
Lampu di lorong antara kamarku dan dapur selalu menyala di malam hari. Tidak pernah sekali pun mati. Dulu kupikir lupa dimatikan. Sekarang aku tahu: aku sering ke dapur pukul dua pagi mengambil air, dan lorong itu gelap tanpa jendela.
Ada keset karet di depan kamar mandi belakang. Baru. Aku pernah hampir terpeleset di sana di minggu pertama keluar kamar. Aku tidak cerita pada siapa pun. Dua hari kemudian keset itu ada.
Tehku selalu hangat. Tidak pernah panas. Empat bulan, ratusan gelas, tidak satu pun yang membuat lidahku melepuh. Aku tidak pernah bilang padanya bahwa aku tidak tahan minuman panas. Aku tidak pernah bilang padanya apa pun.
Lalu kenapa ia tahu?
Ulang tahunku jatuh pada tanggal dua puluh satu November.
Seminggu sebelumnya, Kiki bertanya lewat pesan apakah aku mau dirayakan. Aku bilang tidak. Tidak ada kue, tidak ada lagu, tidak ada lilin. Aku tidak mau ada yang menyanyikan selamat ulang tahun untuk perempuan yang kehilangan dua orang dalam tiga hari. Aku tidak sanggup.
Aku tidak tahu Kiki meneruskan pesan itu ke siapa.
Tengah malam tanggal dua puluh satu, ponselku bergetar sekali. Pesan dari Kiki: Gue nggak bilang apa-apa. Sesuai perintah. Tapi gue sayang lo. Itu bukan ucapan ulang tahun. Itu fakta umum.
Pagi tanggal dua puluh satu, aku keluar kamar dan menemukan meja makan sudah tertata. Tidak ada kue. Tidak ada lilin. Tidak ada balon atau tulisan apa pun.
Hanya sepiring kecil nasi kuning.
Bukan nasi kuning tumpeng yang tinggi dan megah. Nasi kuning sederhana, dicetak bulat dengan mangkuk, ditaburi bawang goreng dan irisan telur dadar tipis yang digulung. Di sampingnya, sambal goreng kentang dengan kentang dipotong dadu kecil-kecil, dan sepotong ayam goreng bumbu kuning.
Aku mengenali piring itu. Bukan piringnya; isinya. Mama membuatnya setiap ulang tahunku, sampai aku dua belas tahun. Kentang dadu kecil-kecil karena aku tidak suka potongan besar. Telur dadar digulung karena aku suka bentuknya seperti pita.
Ia duduk di seberang meja, tidak makan, hanya minum kopi.
“Tante yang kasih resepnya,” katanya, sebelum aku bertanya. “Aku nggak tahu enak atau nggak.”
Aku duduk. Aku memandangi nasi kuning itu lama sekali.
“Kamu tahu dari mana,” tanyaku pelan, “hari ini ulang tahunku?”
“Formulir KUA.”
Ia mendorong sesuatu di atas meja ke arahku. Sebuah amplop kertas cokelat kecil, seukuran telapak tangan. Di atasnya, dengan tulisan tangan yang kecil dan condong ke kanan:
Rania, 27.
Tanam kalau sudah mau.
Aku membukanya. Di dalamnya ada biji-biji bunga matahari, gemuk, bergaris hitam-putih. Masih hangat oleh matahari.
“Dari dua belas bunga di bawah jendelamu,” katanya. “Panen pertama.”
“Dan selamat ulang tahun?” tanyaku. Suaraku bergetar.
“Kamu bilang ke Kiki nggak mau ada yang bilang,” katanya. “Jadi aku nggak bilang.”
Aku makan nasi kuning itu pelan-pelan. Rasanya tidak persis seperti buatan Mama. Kentangnya sedikit terlalu matang. Telur dadarnya sedikit terlalu tebal. Tapi di suapan kelima, aku harus berhenti dan menunduk, karena air mataku jatuh ke nasi, dan aku tidak mau ia melihatnya.
Ia tidak melihat. Ia sudah bangun dan pergi ke dapur, pura-pura mencuci cangkir kopi yang sudah bersih, membelakangiku.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku duduk di meja kecil di bawah jendela. Di luar, dua belas bunga matahari sudah mulai mengering, kepala-kepalanya merunduk berat oleh biji. Di meja, foto Papa, foto anak kecil berlumpur dengan dua gigi ompong, dan amplop cokelat kecil berisi biji.
Aku mengeluarkan buku catatan biru dari laci. Buku rundown siaranku, sampulnya berlogo Swara Pakuan, setengah terisi catatan-catatan lama: urutan lagu, nama-nama pendengar, lelucon yang ingin kubacakan. Aku tidak ingat pernah membawanya dari Rumah Matahari. Ia ada di tas kecilku begitu saja, sejak hari pertama.
Aku membaliknya, dan membukanya dari halaman paling belakang.
Di halaman kosong itu, dengan huruf-huruf besar yang selalu Bu Ratih bilang seperti tulisan anak SD, aku menulis judul:
Hal-Hal yang Tidak Kulihat
Lalu, di bawahnya:
1. Dia menyetir 30 km/jam kalau ada aku. Kalau nggak ada aku, kata Dodi, dia kayak pembalap.
2. Dia nggak pernah lewat Jagorawi. Empat puluh menit lebih jauh, tiap kali.
3. Dia ke makam Gilang tiap bulan. Bu Ratih yang bilang.
4. Dia kirim buah ke Bu Ratih atas namaku. Tulisannya kecil dan miring.
5. Dia tidur di tikar depan pintuku tiga puluh malam. Mak yang bilang.
6. Jaket abu-abu itu jaketnya. Jahitan Mak. Kerahnya miring.
7. Tehku nggak pernah panas. Aku nggak pernah bilang.
Aku berhenti di nomor tujuh. Aku tahu masih ada yang lain. Sambal yang ia makan sambil menangis karena aku yang membuatnya. Kawat nyamuk di jendela. Lengannya yang kebas sampai pagi. Lampu lorong. Nasi kuning. Banyak. Tapi tanganku gemetar, dan aku tidak tahu kenapa aku menulis semua ini, dan aku takut kalau aku terus menulis, daftar ini akan menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi kupura-purakan tidak ada.
Aku menutup buku itu dan menyimpannya di laci, di bawah tumpukan kaus kaki yang sudah tidak pernah lagi kusetrika.
Pagi berikutnya, saat sarapan, ia memandang ke luar jendela, ke langit yang mendung, dan berkata dengan wajah sangat datar:
“Kenapa hujan di Bogor nggak pernah telat?”
Aku menunggu.
“Karena dia nggak punya alasan kucing.”
Hening. Bahkan ayam tetangga berhenti berkokok.
Itu jelek. Itu jelek sekali. Itu lelucon yang bahkan Dodi pun tidak akan tertawakan. Dan sebelum aku sempat berpikir, sebelum aku sempat mengingat bahwa aku sudah tidak tertawa lagi, bahwa aku tidak boleh, bahwa perempuan yang dulu menilai lelucon di udara sudah meninggal di kamar jenazah bulan Juni, mulutku bergerak sendiri.
“Itu jelek banget,” kataku. “Dua dari sepuluh.”
Sendok di tangannya berhenti di udara.
Ia membeku. Seluruh tubuhnya, seperti patung. Matanya terpaku padaku, dan di dalamnya ada sesuatu yang belum pernah kulihat di wajah siapa pun. Seperti seseorang yang mendengar lagu yang sudah lama sekali hilang, diputar lagi, tiba-tiba, di radio yang salah.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam reading
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh