Chapter Five
Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
POV: Fajar
Kami memakamkan Prof di samping Bu Hartono, di bawah pohon kamboja tua.
Hari itu tidak hujan. Langit Bogor biru, terang, kejam dalam terangnya. Banyak sekali yang datang: dosen, mahasiswa tiga angkatan, petani binaan dari Cibungbulang yang naik pikap sejak subuh. Mereka menyalami dia satu per satu. Dia membalas setiap jabatan dengan anggukan yang sama, wajah yang sama, seperti boneka yang talinya ditarik orang lain.
Setelah semua pergi, aku berlutut di samping gundukan tanah yang masih basah air mawar.
“Papa,” bisikku.
Delapan tahun aku memanggilnya Prof. Sejak kemarin malam aku berhak memanggilnya Papa, dan aku tidak sempat mengucapkannya sekali pun selagi ia bisa mendengar.
Aku ingin bilang terima kasih. Untuk sepatu bolong yang tidak pernah ia komentari. Untuk nasi di meja makannya setiap Kamis. Untuk tiga permintaan yang akan kujaga sampai mati. Tapi yang keluar hanya satu kata itu, berulang-ulang, sampai Dodi menarik bahuku dan bilang orang-orang sudah menunggu di mobil.
Aku menancapkan setangkai bunga matahari dari halaman Rumah Matahari di kepala makam. Kelopaknya menghadap ke timur.
Tahlilan diadakan di Rumah Matahari. Tante Ratna mengatur semuanya dengan efisiensi seorang jenderal dan lidah setajam pisau dapur.
“Kamu,” katanya padaku di malam pertama, menyerahkan nampan berisi tiga puluh gelas teh. “Antar. Jangan tumpah.”
Tidak tumpah.
Di malam kedua, ia menarikku ke dapur. “Saya mau tanya, dan kamu jawab jujur. Kamu tahu rumah ini harganya berapa?”
“Tidak, Bu.”
“Rumah tua di tengah kota, tanahnya hampir seribu meter. Rania anak tunggal.” Ia memandangku dari atas kacamata. “Saya tidak bodoh, Nak.”
Aku tidak membela diri. Tidak ada kalimat yang akan membuat Tante Ratna percaya padaku malam itu.
“Saya mengerti, Bu. Ibu boleh terus mengawasi saya.”
Tante Ratna memicingkan mata, seolah jawaban itu justru membuatnya makin curiga.
Dia tidak keluar kamar selama tahlilan. Di malam ketiga, aku melihatnya berdiri di depan pintu, memandangi sepasang sandal kulit cokelat di rak sepatu. Sandal Prof, ujungnya masih sedikit berlumpur dari kebun. Dia berdiri di sana lama sekali, lalu berbalik naik ke kamarnya. Aku mendengar pintu dikunci.
Esoknya, saat sarapan yang tidak disentuh siapa pun, Tante Ratna mengumumkan keputusannya. “Rania ikut suaminya. Rumah ini terlalu banyak papamu. Kamu tidak akan sembuh di sini.”
Dia tidak membantah. Dia tidak mengatakan apa-apa.
Tante Ratna mengemasi barang-barangnya ke dalam dua koper dan satu kardus. Di atas kardus ada buku catatan bersampul biru berlogo Swara Pakuan, setengah terisi tulisan tangan yang besar dan miring. Aku tidak membacanya. Aku hanya memindahkannya ke tas kecil yang akan dia bawa sendiri, bersama sebatang pulpen.
Mungkin suatu hari dia ingin menulis lagi.
Malam-malam itu, setelah rumah sepi, aku duduk di garasi dengan ponsel dan selembar kertas.
Daftar vendor pernikahan yang kuminta dari Tante Ratna. Gedung, katering, dekorasi, rias, dokumentasi, organ tunggal, tenda, undangan, suvenir. Enam belas nama. Dia tidak perlu menjelaskan kepada enam belas orang asing kenapa pernikahannya batal.
Jadi aku yang menelepon. “Selamat malam, Bu. Saya mewakili keluarga Ibu Rania Adiwijaya. Mohon maaf mengganggu…”
Sebagian besar sudah mendengar kabarnya. Kota ini kecil, dan suara dia dikenal semua orang. Pemilik katering menangis dan berjanji mengembalikan uang muka. Tukang dekorasi menolak menerima apa pun. Percetakan bertanya apakah undangan yang sudah jadi mau diambil. Aku bilang iya, lalu menyimpan lima kotak undangan itu di rak paling atas garasi, di belakang kaleng-kaleng cat Prof. Di tempat yang tidak akan pernah dia lihat, kecuali dia sendiri yang mencarinya.
Bu Lilis, penjahit kebayanya, menangis paling lama. “Kebayanya sudah jadi, Nak. Pinggangnya sudah Ibu kecilkan dua senti. Ibu harus bagaimana?”
Aku memikirkannya. Membuangnya terasa salah. Menjualnya juga.
“Tolong disimpan dulu, Bu. Sisa ongkosnya biar saya yang bayar. Nanti, kalau dia sudah sanggup, dia yang memutuskan.”
Pengelola gedung tidak mau mengembalikan uang muka. Sudah tertulis di kontrak, katanya.
“Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih sudah menyiapkan.”
Aku menutup telepon terakhir pukul dua pagi. Dari kamar di atas garasi, aku mendengar dia menangis. Pelan. Tertahan. Seperti seseorang yang menekan wajahnya ke bantal supaya tidak ada yang tahu.
Aku tidak naik. Itu belum tempatku.
Aku mengontrak rumah kecil di Ciapus, di kaki Gunung Salak. Dua kamar, halaman yang lebih luas dari rumahnya sendiri, penuh polybag bibit cabai, tomat, dan terong yang kujual untuk menambal uang beasiswa. Dua hari sebelum membawanya pulang, aku membersihkan rumah itu bersama Dodi.
“Lo serius kasih dia kamar utama?” Dodi mengepel sambil menggerutu. “Terus lo tidur di mana? Ruang kerja lo sempitnya kayak kandang ayam.”
“Muat.”
“Lo tidur sama mikroskop.”
“Mikroskopnya nggak ngorok. Nggak kayak kamu.”
Dodi melempar lap pel ke arahku.
“Satu lagi,” kata Dodi, mendadak serius. “Lo yakin dia mau tinggal di sini? Ini rumah, Jar, bukan persemaian. Nggak semua yang lo bawa pulang bisa lo siram terus tumbuh.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak yakin. Aku hanya tahu aku akan menyiramnya tetap.
Kamar utama punya kamar mandi sendiri. Itu penting. Aku menduga dia tidak akan mau keluar untuk waktu yang lama, dan aku ingin semua yang ia butuhkan ada di balik pintu itu.
Di atas lemari tergantung jam dinding murah yang detaknya keras. Tak, tak, tak. Teratur, tidak berhenti. Mirip sekali dengan monitor di samping ranjang nomor empat. Aku mencopotnya, mengeluarkan baterainya, dan membawanya ke ruang kerjaku.
Engsel pintunya berderit. Aku meminyakinya sampai tidak bersuara. Kalau suatu malam dia ingin keluar mengambil air, atau sekadar berdiri di dapur, aku tidak mau pintu itu mengumumkannya ke seisi rumah.
Pemanas air di kamar mandi dalam ternyata korslet, dan unit penggantinya belum ada. Aku membeli termos besar. Setiap pagi akan kuisi air panas.
Sorenya aku menelepon nomor yang kudapat dari Pak Bonar di Swara Pakuan.
“Halo, Kiki? Saya Fajar. Suaminya Rania.”
Hening tiga detik.
“OH. Lo. Yang nikahin Rania di ICU.” Suara Kiki naik satu oktaf. “Lo siapa sih sebenernya? Kenapa Rania nggak pernah cerita? Lo dukun?”
“Bukan. Saya mau tanya. Rania pakai sampo apa?”
Hening lagi, lebih panjang. “…Hah?”
“Sampo. Sabun juga. Biar di rumah baunya nggak asing buat dia.”
Lama Kiki tidak menjawab. Ketika akhirnya bicara, suaranya berubah pelan.
“Botol hijau, wangi teh hijau. Sabun batang kuning, wangi jeruk. Sikat giginya yang bulunya lembut, gusinya gampang berdarah. Terus dia tidur pakai kaus kaki. Selalu. Pas kemarau juga.” Kiki menarik napas. “Fajar. Jagain dia, ya.”
“Iya.”
Hari itu juga aku membeli semuanya. Sampo botol hijau, sabun kuning, sikat gigi berbulu lembut, enam pasang kaus kaki, dan selimut tebal. Ciapus dingin di malam hari, jauh lebih dingin dari Bogor Tengah.
Malamnya, video call. Mak.
Layar langsung dipenuhi lubang hidung.
“Mak, kameranya ke atas sedikit.”
“Ieu? Kieu?” Kamera berputar ke langit-langit, lengkap dengan sarang laba-laba di pojok. “Jar! Naon ieu béja ti Bi Iyah? Manéh nikah?!”
Kabar dari Bi Iyah, tetangga sebelah, rupanya sampai ke Cianjur lebih cepat dari travel.
“Iya, Mak. Maaf, mendadak. Mertua saya sakit…”
“JEUNG SAHA?!” Sama siapa?!
Aku menjelaskan, pelan dan singkat. Mak menangis bahagia karena anak laki-lakinya akhirnya menikah. Lalu menangis sedih karena besannya meninggal. Lalu marah.
“Naha Mak teu diondang?! Ka ICU ogé Mak bisa datang, naék travel!” Kenapa Mak nggak diundang? Ke ICU pun Mak bisa datang!
Aku membiarkan Mak marah sampai capek. Setelah tenang, dengan kamera yang kini mengarah ke dagunya, Mak bertanya pelan.
“Geulis, Jar?” Cantik?
Aku diam sebentar. “Geulis, Mak.”
“Sabaraha geulisna?” Seberapa cantik?
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu bagaimana mengukurnya. Mak tertawa di seberang, tawa yang lama tidak kudengar sejak Bapak meninggal.
“Bawa ka dieu, nya. Mun geus siap,” kata Mak sebelum menutup telepon. Bawa ke sini, ya. Kalau dia sudah siap. “Mak moal nanya nanaon. Mak ngan hayang ningali.” Mak nggak akan tanya apa-apa. Mak cuma mau lihat. Lalu, setelah jeda: “Mak ogé rék ngirim labu siam.” Mak juga mau kirim labu siam. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Rabu, delapan belas Juni, aku membawanya pulang.
Dia duduk di jok depan mobil Prof yang dipinjamkan Tante Ratna, memeluk tas kecil dan jaket abu-abuku yang belum juga ia lepaskan. Aku menyetir pelan sekali. Sepanjang jalan dia tidak bicara, tidak menoleh ke jendela, tidak bertanya ke mana kami pergi.
Di gerbang, Dodi sudah menempelkan kertas bertuliskan SELAMAT DATANG dengan spidol warna-warni. Aku mencopotnya sebelum mobil berhenti. Dia tidak butuh disambut. Dia butuh tidak ditonton.
Di depan rumah, dia memandangi halaman penuh polybag itu tanpa ekspresi. Matahari sore jatuh di wajahnya. Bahkan dalam keadaan seperti itu, kurus, pucat, matanya tidak lagi menyala, dia membuat cahaya sore di halamanku kelihatan biasa saja.
Aku mengantarnya ke kamar. Membuka pintu yang sudah tidak berderit. Menunjukkan kamar mandi, termos, selimut, kaus kaki di atas kasur, sampo botol hijau di rak.
Dia tidak berkata apa-apa.
Aku mengeluarkan satu-satunya kunci kamar itu dari saku, kunci kuningan kecil bergantungan tali rafia. Aku tidak membuat duplikatnya. Aku tidak akan pernah membuat duplikatnya.
Aku meletakkannya di telapak tangannya.
“Kuncinya di kamu,” kataku. “Kamar ini punya kamu. Aku tidak akan masuk kalau tidak kamu izinkan.”
Dia memandangi kunci itu. Lalu memandangku sebentar, dengan mata yang kosong. Lalu masuk dan menutup pintu.
Klik.
Aku berdiri di depan pintu itu lama sekali. Lalu aku sadar aku tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku. Jadi aku pergi ke dapur dan menanak nasi. Nasi pertama untuk dua orang di rumah ini.
Hasilnya keras.
Malam itu hujan lagi.
Aku membuka sebungkus biji bunga matahari dari toples di ruang kerja Prof, hasil panen halaman Rumah Matahari musim lalu. Waktu aku minta izin mengambilnya, Tante Ratna memandangku curiga, lalu bilang, “Ambil saja.”
Jendela kamar itu menghadap barat, ke halaman samping. Bunga matahari selalu menoleh ke timur, ke arah datangnya pagi. Kalau kutanam di halaman samping, di depan jendela itu, setiap pagi mereka akan menoleh ke timur, tepat ke arah jendela dia.
Aku memakai jas hujan dan keluar. Menggali dua belas lubang kecil di tanah yang lembek, menjatuhkan dua biji di setiap lubang, menutupnya. Tanah dingin di bawah kuku. Butuh tiga bulan sampai mereka mekar. Aku tidak tahu apakah dia masih di sini tiga bulan lagi. Aku menanamnya tetap.
Pukul dua dini hari, aku terbangun di ruang kerjaku yang sempit. Aku mendengarnya lagi. Tangis yang ditekan ke bantal.
Aku keluar tanpa alas kaki supaya langkahku tidak terdengar, lalu duduk di lantai di depan pintunya, bersandar ke dinding. Tidak mengetuk. Tidak bicara. Hanya duduk di sana, supaya di sisi lain pintu, kalau dia bertanya-tanya apakah dunia sudah meninggalkannya sendirian, jawabannya tidak.
Enam tahun aku mendengar tawanya setiap pagi lewat radio, seperti separuh kota ini. Malam ini aku mendengar tangisnya dari jarak satu pintu. Aku tidak tahu mana yang lebih jauh.
Tangisnya berhenti pukul tiga lewat sedikit. Aku tetap duduk sampai azan subuh.
Prof benar. Aku tidak akan pernah memintanya mencintaiku. Aku hanya meminta satu hal, pada Tuhan, pada hujan, pada dua belas lubang di bawah jendela itu:
Biarkan dia tetap bernapas.
Besok pagi, aku akan mengetuk pintu itu tiga kali.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit reading
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh