Chapter Twenty Seven
Surat dari Wageningen
POV: Rania
Aku tidak bermaksud membacanya.
Mejanya berantakan, seperti biasa, dan aku sedang memisahkan map-map menurut warna karena kalau tidak, ia akan menghabiskan setengah jam setiap pagi mencari laporan yang benar. Lalu aku menemukan map biru tua di laci paling bawah, terselip di bawah tumpukan jurnal, dengan label yang tidak bisa kubaca.
Wageningen University & Research. Toelating.
Di dalamnya ada surat berkop resmi, dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggrisku cukup untuk membacanya. Penerimaan program doktoral. Beasiswa penuh. Biaya kuliah, biaya hidup, tiket pesawat. Mulai September tahun lalu.
Tanggalnya membuatku berhenti bernapas. Seminggu setelah Papa meninggal.
Di bawah surat itu ada lembaran lain. Cetakan email. Balasannya. Satu kalimat dalam bahasa Indonesia, lalu terjemahannya dalam bahasa Inggris.
Dengan berat hati, saya mengundurkan diri.
Di bawahnya lagi, terselip, sepucuk surat rekomendasi. Kertas putih dengan kop fakultas. Tanda tangan Papa di bagian bawah, besar dan miring.
Aku membaca kalimat terakhirnya dua kali.
He is, without question, the best student I have had in thirty years of teaching.
Aku mendengar langkah kaki di ambang pintu. Tanpa sandal. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
“Ini apa?”
Aku mengangkat map itu. Ia berdiri di ambang pintu, tas punggung masih di bahu, wajahnya pucat.
“Surat lama,” katanya.
“Kamu diterima S3. Di Belanda. Beasiswa penuh.”
“Iya.”
“Dan kamu tolak.”
“Iya.”
“Seminggu setelah Papa meninggal.” Suaraku naik. “Seminggu setelah kita nikah.”
Ia diam.
“Kenapa?”
Ia memandangi lantai. Lalu, dengan wajah yang sangat datar dan suara yang terlalu cepat, seperti orang yang sudah menyiapkan jawaban ini sejak lama:
“Belanda dingin. Kamu nggak suka dingin.”
Aku menatapnya.
“Kamu nggak tahu aku suka dingin atau nggak!”
“Kamu selalu pakai kaus kaki tidur,” katanya. “Bahkan pas kemarau.”
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Itu benar. Aku selalu pakai kaus kaki tidur. Sejak kecil, sejak Mama masih ada. Bahkan di bulan Agustus, ketika Bogor panas dan lembap dan Papa tidur dengan kipas angin menghadap wajahnya. Aku tidak pernah bilang padanya. Tapi kaus kaki di lemari kamarku, enam pasang yang baru di hari pertama, ukurannya pas.
Ia tahu aku pakai kaus kaki tidur. Ia tahu aku tidak tahan pedas. Ia tahu aku lidah kucing. Ia tahu sampoku, sabunku, sikat gigiku. Ia tahu intro lagu pernikahanku. Ia tahu tanggal handuk yang aku sendiri sudah lupa.
Dan aku? Apa yang aku tahu tentang dia?
Bahwa ia anak petani dari Cianjur. Bahwa bapaknya meninggal waktu ia tujuh belas. Bahwa ia suka kemeja kotak-kotak, atau mungkin hanya itu yang ia punya. Bahwa ia Pak Tani. Semuanya kudapat dari orang lain. Dari Mak, dari Kiki, dari Dodi, dari Bu Ratih, dari laci dan lemari yang kubongkar diam-diam.
Sembilan bulan menikah, dan aku tidak tahu apa makanan kesukaannya.
“Kamu masih mau ke sana?” tanyaku. “Belanda.”
“Sudah lewat,” katanya. “Programnya mulai September tahun lalu.”
“Kalau dibuka lagi?”
Ia memandangiku lama. Lalu ia mengambil map biru itu dari tanganku, pelan, menutupnya, dan memasukkannya kembali ke laci paling bawah.
“Sudah lewat, Ra.”
Ia tidak menjawab pertanyaanku. Aku mulai hafal caranya.
Malam itu aku memutuskan sesuatu.
Ia sedang mencuci piring ketika aku masuk ke dapur membawa sendok sayur. Aku berdiri di depannya, memegang sendok itu di depan mulutku seperti mikrofon, dan berkata dengan suara penyiar:
“Selamat malam, Bogor. Masih di Swara Ciapus, nol koma nol frekuensi, ini acara Malam Kepo, dan aku Rania. Malam ini kita kedatangan bintang tamu spesial.”
Ia memandangiku dengan tangan penuh busa sabun.
“Bapak Fajar Nugraha. Asisten riset. Penjual bibit. Mantan Pak Tani.” Aku menyodorkan sendok sayur ke arah mulutnya. “Selamat malam, Pak Fajar. Silakan perkenalkan diri.”
Ia memandangi sendok itu. Lalu aku. Lalu sendok itu lagi.
“…Selamat malam,” katanya ke sendok sayur.
“Suaranya kurang semangat, Pak. Pendengar kita sudah bangun dari jam enam. Ulangi.”
Ia memandangiku seperti memandang orang gila. Lalu, entah kenapa, menurut. “Selamat malam,” katanya lagi, sedikit lebih keras, ke sendok sayur yang masih meneteskan kuah sop.
“Lebih baik. Nilainya tiga.”
“Tiga?”
“Kamu bukan penyiar, Pak. Tiga itu sudah dermawan.”
“Pertanyaan pertama. Makanan kesukaan?”
“Apa saja.”
“Itu bukan jawaban. Pertanyaan diulang. Makanan kesukaan?”
Ia berpikir lama sekali, seperti sedang mengerjakan ujian akhir. “Nasi liwet Mak. Pakai ikan asin. Sama sambal oncom.”
Aku mengangguk dan menyimpannya di kepala. Nasi liwet. Ikan asin. Sambal oncom. Tiga hal. Pertama kalinya aku tahu tiga hal tentang dia yang kudapat langsung dari mulutnya.
“Warna kesukaan?”
“Hijau.”
“Hijau apa?”
“Hijau daun padi. Umur tiga minggu.”
“Itu spesifik banget, Pak.”
“Itu warna paling bagus.”
“Mantan pacar?”
“Nggak ada.”
Aku menurunkan sendok sayur sedikit. “Sama sekali?”
“Nggak ada.”
“Kenapa?”
Ia tidak menjawab. Ia mengambil gelas berikutnya dari bak cuci piring dan menggosoknya dengan sangat serius, padahal gelas itu sudah bersih. Telinganya merah sampai ke ujung.
Aku tidak mendesak. Aku menyimpan jawaban yang tidak ia berikan itu di tempat yang sama dengan semua jawaban lain yang tidak pernah ia berikan.
Aku menahan senyum. “Lagu kesukaan?”
Ia ragu. Lalu: “Lagu yang dulu diputar di Pagi Riang, tiap Senin, jam tujuh lewat sepuluh.”
“Itu lagu yang kamu request sendiri.”
“Iya.”
“Takut apa?”
Ia diam lama. Air dari keran menetes ke busa sabun.
“Ular,” katanya akhirnya.
Aku menurunkan sendok sayur. “Ular?”
“Ular sawah. Waktu kecil digigit di kaki. Sampai sekarang.”
Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Laki-laki ini memasak air setiap pukul setengah lima selama delapan bulan, menunggu di depan pintu kamarku tiga puluh malam, berdiri di bawah hujan memayungiku sampai basah kuyup, dan ia takut ular sawah.
Ia memandangku tertawa dengan wajah yang sangat serius, seperti tidak mengerti apa yang lucu, dan itu membuatku tertawa lebih keras.
“Pertanyaan terakhir,” kataku, ketika tawaku sudah reda. Aku mengangkat sendok sayur lagi. “Sebut tiga hal yang kamu mau. Apa saja. Untuk dirimu sendiri.”
Ia membuka mulut. Lalu menutupnya.
Aku menunggu.
“Kamu sehat,” katanya.
Aku mengangkat satu jari.
“Kamu ketawa.”
Dua jari.
Lalu ia diam. Lama. Ia memandang ke busa sabun di bak cuci piring, ke gelas yang setengah dicuci, ke jendela dapur yang gelap. Aku melihat bibirnya bergerak sedikit, seperti orang yang mencari kata di dalam kepalanya dan tidak menemukannya.
Ia tidak menyebut yang ketiga.
Aku menurunkan sendok sayur pelan-pelan.
“Itu buat aku,” kataku. Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. “Itu bukan buat kamu. Aku minta yang buat kamu.”
Ia memandangku. Matanya tenang dan basah dan sangat jujur.
“…Itu buat aku,” katanya.
Aku tidak bisa bicara.
Laki-laki ini tidak punya keinginan untuk dirinya sendiri. Atau mungkin punya, tapi semuanya sudah ia ubah bentuknya menjadi keinginan untuk orang lain, begitu lama, begitu sering, sampai ia tidak ingat lagi di mana batasnya.
Mak tanya, ‘Jar, hayang naon?’ Dia jawab, ‘Mak sehat wé.’ Umur tujuh tahun, Neng.
Umur tujuh tahun. Dan dua puluh tiga tahun kemudian, jawabannya masih sama. Hanya namanya yang berganti.
Besoknya aku menelepon Kiki.
“Ki. Gimana caranya kenal sama suami sendiri?”
Hening di seberang. Lalu Kiki tertawa begitu keras sampai aku harus menjauhkan ponsel dari telinga.
“Lo nanya ke gue? Ran. Gue aja pacaran sama—“ Kiki berhenti mendadak. “Gue nggak pacaran sama siapa-siapa.”
“Ki?”
“Gue jomblo. Jomblo abadi. Jomblo bersertifikat. Pokoknya gitu. Kenapa lo nanya?”
Aku memicingkan mata ke arah ponsel. Tapi aku punya masalah yang lebih besar dari kehidupan cinta Kiki.
“Aku baru sadar aku nggak tahu apa-apa tentang dia,” kataku. “Dia tahu semua tentang aku. Aku nggak tahu dia takut ular.”
“Dia takut ular?”
“Ular sawah.”
Kiki diam sebentar. “Ran,” katanya akhirnya, dengan suara yang tidak tertawa sama sekali. “Lo sadar nggak, lo baru aja cerita soal laki lo kayak orang cerita soal gebetan?”
Aku menutup telepon. Lalu aku duduk lama di kursi teras, memandangi ponsel yang sudah gelap, dan tidak berani memikirkan apakah Kiki benar.
Setelah wawancara itu, aku mulai memperhatikan dengan cara yang berbeda. Bukan mencari kebaikan-kebaikannya; kebaikan-kebaikan itu sekarang datang sendiri, seperti burung-burung yang hinggap di halaman setelah seseorang rutin menabur beras. Aku mencari dirinya. Laki-laki di balik semua kebaikan itu.
Di kalender dapur, aku akhirnya memperhatikan titik-titik pensil itu.
Aku mengambil kalender dari paku dan membawanya ke meja makan, membaliknya bulan demi bulan. Juli: dua titik, tanggal dua puluh dua dan dua puluh empat. Empat puluh hari Gilang. Empat puluh hari Papa. September: dua puluh, seratus hari Gilang. Oktober: satu titik, tanggal sembilan, yang tidak kukenali, lalu aku ingat. Hari wafat Mama. Desember: satu titik di tanggal dua belas. Ulang tahun Gilang. Aku tidak pernah bilang padanya. Ia pasti membacanya di nisan.
Dan November. Tanggal dua puluh satu. Bukan titik. Lingkaran kecil, digambar dengan sangat hati-hati.
Semua titik di kalender itu adalah hari-hariku. Hari-hari yang berat untukku. Tidak ada satu pun hari miliknya sendiri.
Aku mencari tanggal ulang tahunnya di kalender itu. Tidak ada.
Malam itu, di teras, aku bertanya.
“Ulang tahunmu kapan?”
Ia sedang mengupas kuaci. “Sudah lewat.”
“Kapan?”
“Tahun lalu.”
“Tanggal berapa, Mas.”
Ia diam terlalu lama. Kuaci di tangannya tidak dikupas.
“Dua Oktober,” katanya.
Aku menghitung. Dua Oktober. Aku dirawat dari tanggal satu. Malam kedua di rumah sakit. Malam ketiga aku mengigau, memanggil Gilang, dan ia menggenggam tanganku sampai pagi.
Ulang tahunnya yang ketiga puluh, ia habiskan di kursi plastik rumah sakit, di samping istri yang tidak tahu namanya pun hampir.
“Kamu ngerayain di mana?” tanyaku. Suaraku bergetar.
“Lobi rumah sakit.” Ia mengupas kuaci itu akhirnya. “Ada mesin roti. Rotinya cokelat.”
Aku berdiri dari bangku dan masuk ke dalam rumah, cepat, sebelum ia sempat melihat wajahku. Aku berdiri di kamar mandi dengan pintu tertutup dan air keran menyala, dan menangis tanpa suara sampai airnya dingin.
Malam itu buku biru penuh lebih cepat dari biasanya.
24. Dia nolak S3 di Belanda. Beasiswa penuh. Seminggu setelah Papa meninggal. Alasannya: aku nggak suka dingin.
25. Dia tahu aku tidur pakai kaus kaki.
26. Di ICU, dia beliin aku nasi bungkus. Sambalnya dipisah. Aku nggak pernah makan. Dia nggak pernah bilang.
27. Kalender di dapur. Semua titiknya hari-hariku. Ulang tahunku dilingkari.
28. Ulang tahunnya dua Oktober. Dia habisin di kursi plastik rumah sakit. Roti cokelat dari mesin.
29. Karet rambut kuning. Nggak nyabut rambut. Dia nggak bilang apa-apa.
Aku memandangi nomor dua puluh sembilan. Lalu aku menambahkan satu baris kecil di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil, seperti bisikan:
Tiga hal yang dia mau: aku sehat, aku ketawa. Yang ketiga dia nggak tahu.
Ponselku berdering ketika aku sedang menutup buku itu. Tante Ratna.
“Rania.” Suara Tante tidak seperti biasanya. Tidak tajam. Tidak ketus. Suara orang yang baru saja menangis. “Saya perlu bicara sama kamu. Besok. Di Rumah Matahari.”
“Soal apa, Tante?”
Hening lama di seberang.
“Soal rumah,” kata Tante. “Dan soal suamimu.”
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen reading
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh