Chapter Twenty Five

Ketukan dari Arah Sebaliknya

POV: Rania

Mimpinya selalu sama.

Jalan tol. Hujan. Wiper yang berdecit, ngiik, ngiik. Aku duduk di jok penumpang, dan di sampingku ada seseorang yang menyetir, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya. Di depan, sebuah truk. Rodanya berputar terlalu cepat. Bunyinya makin keras, makin dekat, dan aku ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar.

Lalu bunyi itu berubah. Bukan truk lagi. Tit. Tit. Tit. Monitor di samping ranjang nomor empat. Makin pelan. Makin pelan. Lalu satu nada panjang yang tidak berhenti.

Aku terbangun dengan napas tersengal dan wajah basah. Pukul dua lewat sepuluh. Di luar, badai masih belum reda. Petir menyambar, dan kamarku terang sesaat, lalu gelap lagi, dan dalam gelap itu aku merasa sangat, sangat sendirian.

Aku duduk di tepi kasur lama sekali. Lalu aku berdiri.

Lorong di luar kamarku terang. Lampunya selalu menyala. Lantai tegel dingin di bawah kakiku yang hanya berbalut kaus kaki. Aku berjalan melewati dapur, melewati meja makan, sampai ke pintu ruang kerjanya.

Pintunya tertutup. Tidak dikunci; aku tahu itu sekarang. Tidak pernah dikunci.

Aku mengangkat tangan dan mengetuk.

Tok. Tok. Tok.


Pintunya terbuka dalam tiga detik. Seolah ia tidak tidur. Seolah ia sudah duduk di balik pintu itu, menunggu.

Rambutnya berantakan. Ia memakai kaus oblong yang sudah melar di leher dan sarung kotak-kotak. Matanya langsung membaca wajahku, mata yang basah, napas yang belum teratur.

“Mimpi buruk?”

Aku mengangguk.

Ia membuka pintu lebih lebar. Tidak bertanya apa-apa lagi.

“Boleh aku tidur di sini?” Suaraku keluar kecil, seperti suara anak kecil. “Cuma tidur.”

Ia memandangiku sebentar. Lalu ia mengangguk, berbalik, dan mulai menggelar sarung di lantai di samping kasur lipat.

“Kamu tidur di kasur,” katanya. “Aku di bawah.”

“Lantainya dingin.”

“Aku biasa.”

Aku tahu ia biasa. Tiga puluh malam di atas tikar di depan pintuku. Aku tahu.

“Di sini aja,” kataku, menunjuk kasur lipat yang terlalu pendek dan terlalu sempit. “Punggung ke punggung.”

Ia membeku dengan sarung setengah tergelar.


Kasur lipat itu benar-benar terlalu sempit. Kami berbaring saling memunggungi, dan bahkan dengan posisi itu, punggungku menyentuh punggungnya di sepanjang tulang belakang. Hangat. Kaku. Ia tidak bergerak sama sekali, bahkan napasnya pun terasa seperti ditahan, seperti orang yang takut kalau ia bernapas terlalu dalam, aku akan menghilang.

Kakinya mencuat keluar dari ujung kasur. Aku bisa merasakan kakinya di ujung kakiku, kaku dan dingin.

“Kakimu keluar,” bisikku.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu nggak nanya aku mimpi apa,” kataku.

“Kamu mau cerita?”

Aku diam lama. Lalu aku menceritakannya. Jalan tol. Wiper. Truk yang rodanya berputar terlalu cepat. Monitor yang berubah menjadi satu nada panjang. Seseorang di kursi sopir yang wajahnya tidak bisa kulihat.

Ia mendengarkan tanpa memotong. Ketika aku selesai, ia tidak bilang itu cuma mimpi. Ia tidak bilang jangan dipikirkan.

“Aku nggak pernah lewat tol,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

“Dan aku nyetir tiga puluh.”

“Aku tahu,” kataku lagi, dan suaraku pecah sedikit di tengah. “Aku tahu, Mas.”

Di luar, petir menyambar lagi. Aku tersentak. Tanpa sadar, tanganku bergerak ke belakang, mencari, dan menemukan ujung kausnya. Aku menggenggamnya. Kain katun yang tipis dan sudah melar.

Ia tidak bergerak. Tapi aku merasakan punggungnya sedikit rileks. Lalu sedikit lagi.

“Ra,” bisiknya dalam gelap.

“Hm?”

“Nggak apa-apa. Aku di sini.”

Ia tidak bilang kalimat yang lain. Aku tahu kalimat yang lain, kalimat yang ia ucapkan di rumah sakit ketika aku memanggil nama yang salah, kalimat yang ia ucapkan di pagi hari ketiga puluh. Tapi malam itu ia hanya bilang aku di sini, dan itu cukup.

Aku tertidur dengan ujung kausnya di genggamanku. Petir masih menyambar beberapa kali setelah itu. Aku tidak mendengarnya.


Aku terbangun sebelum subuh.

Kasur di belakangku kosong. Hangatnya masih ada, tapi orangnya tidak. Dari luar terdengar bunyi pelan: kompor gas dinyalakan. Air mendidih di panci besar. Langkah kaki di lantai tegel, tanpa alas kaki, nyaris tidak terdengar.

Aku bangun dan berdiri di ambang pintu ruang kerja, di balik bayangan, memandang ke dapur.

Ia di sana. Pukul empat lewat tiga puluh. Mengangkat panci besar berisi air mendidih dari kompor dengan dua lap di tangan, uapnya mengepul ke wajahnya. Ia berjalan pelan ke kamar mandi belakang, menuangkannya ke ember besar di sana, lalu kembali ke dapur, mengisi panci lagi, menyalakan kompor lagi.

Dua kali. Tiga kali. Sampai ember di kamar mandi belakang penuh.

Lalu ia memasukkan tangannya ke ember itu, memeriksa suhunya dengan punggung tangan, menambahkan segayung air dingin dari bak, memeriksanya lagi.

Aku berdiri diam di balik bayangan, dengan tangan menempel di kusen pintu.

Air hangat di kamar mandi belakang. Setiap pagi. Pukul enam, ember itu selalu sudah penuh, hangatnya selalu pas. Kukira ada pemanas air di sana. Delapan bulan aku mandi dengan air itu, dan tidak sekali pun aku mencari tombol pemanasnya.

Tidak ada pemanas. Tidak pernah ada.

Ada laki-laki yang bangun pukul setengah lima, setiap pagi, selama delapan bulan, memasak air dengan panci dan menuangkannya ke ember, supaya perempuan yang tidak mencintainya tidak kedinginan saat mandi.

Ia kembali ke dapur. Aku buru-buru mundur ke dalam ruang kerja, berbaring lagi di kasur lipat, dan pura-pura tidur. Jantungku berdetak terlalu keras.


Pagi itu, ketika aku keluar dari ruang kerjanya, aku memperhatikan pintunya. Pintu ruang kerja itu berderit keras setiap kali dibuka. Kriiieet. Bunyinya memenuhi seluruh lorong.

Pintu kamarku tidak pernah berbunyi. Delapan bulan. Tidak sekali pun. Bahkan di malam-malam pertama, ketika aku membuka pintu sedikit untuk menarik nampan, atau untuk menaruh nampan kosong di bangku, pintu itu selalu diam.

Aku kembali ke kamarku dan membuka-tutup pintunya, pelan, lalu cepat. Tidak ada bunyi. Aku berjongkok dan memandangi engselnya. Ada sisa minyak yang sudah mengering di sela-selanya, hitam dan tipis.

Hari pertama. Sebelum aku datang. Ia meminyaki engsel ini supaya aku bisa keluar kamar di malam hari tanpa merasa ketahuan. Supaya pintu ini tidak mengumumkan kepergianku ke seisi rumah.

Dan pintunya sendiri ia biarkan berderit.


Siang itu aku memindahkan barang-barangnya.

Bukan banyak. Bantalnya yang kempis. Sarungnya. Jam beker kecil di samping kasur lipat. Ia sedang di lab. Aku membawa semuanya ke kamarku, ke kamar utama dengan kasur besar dan seprai biru, dan meletakkan bantalnya di sisi kanan kasur, sisi yang dekat dengan pintu.

Di tengah kasur, aku meletakkan guling. Satu guling panjang, membentang dari kepala sampai kaki, seperti tembok.

Dodi datang sore itu, melihat pemandangan itu dari ambang pintu kamar yang terbuka, dan berdiri diam lama sekali.

“Mbak,” katanya akhirnya. “Ini apa?”

“Kamarnya kecil. Kasurnya kependekan. Kakinya keluar.”

“Terus gulingnya?”

“Pembatas.”

Dodi memandangi guling itu dengan hormat yang dalam, seperti memandangi monumen nasional.

Lalu ia mengeluarkan ponsel dan memotretnya. Lima menit kemudian, ponselku bergetar. Kiki: RAN. GULING PERBATASAN?? Dodi kirim foto. Gue lagi siaran. Gue ketawa di udara. Pendengar nanya kenapa. Gue bilang ada berita perbatasan negara.

“Guling Perbatasan,” bisiknya. “Gue kasih nama Guling Perbatasan.”

Ketika ia pulang dari lab dan melihat bantalnya di kasurku, ia berdiri di ambang pintu kamar selama hampir satu menit tanpa bergerak, tas punggung masih di bahu.

“Ra,” katanya. “Ini…”

“Kasur lipatmu kependekan,” kataku, tanpa memandangnya. Aku sedang melipat baju. “Cuma tidur. Ada gulingnya.”

Ia memandangi guling itu. Lalu memandangiku. Telinganya merah sampai ke leher.

“Terima kasih,” katanya.


Malam pertama di kamar yang sama, kami berbaring di dua sisi Guling Perbatasan, sama-sama memandangi langit-langit, sama-sama terlalu kaku untuk tidur.

“Mas.”

“Hm?”

“Pintu ruang kerjamu bunyi.”

Hening.

“Pintu kamarku nggak pernah bunyi.”

Hening lebih lama.

“Engselnya kamu minyakin. Hari pertama.”

“…Iya.”

“Kenapa pintumu sendiri nggak?”

Ia diam lama. Lalu menjawab dengan suara pelan, seperti mengakui sesuatu yang memalukan. “Biar kalau kamu butuh, kamu dengar aku datang. Biar kamu nggak kaget.”

Aku memejamkan mata.

“Dan pintunya nggak pernah kamu kunci.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Biar kalau kamu butuh,” katanya, “kamu nggak usah nunggu.”

Aku tidak bertanya apa-apa lagi malam itu. Aku tidak bisa. Aku membalik badan, memunggunginya, dan memeluk Guling Perbatasan erat-erat, dan menggigit bibirku sampai sakit.


Pukul enam pagi, ponselnya berdering. Video call. Mak.

Ia mengangkatnya setengah tidur, tanpa berpikir, tanpa sadar di mana ia berada.

Layar dipenuhi wajah Mak, seperti biasa, terlalu dekat. Mak membuka mulut untuk mengomel sesuatu, lalu matanya bergerak, melewati bahu anaknya, ke belakang. Ke bantal di sebelahnya. Ke guling di tengah. Ke aku, yang baru terbangun dengan rambut kusut dan wajah bantal, di sisi lain Guling Perbatasan.

Hening tiga detik.

“ALHAMDULILLAH!” Mak menjerit begitu keras sampai Si Kaldu di halaman ikut berkotek. “ALHAMDULILLAH YA ALLAH! JAR! INCU! INCU IRAHA?! SAPULUH BULAN DEUI?! MAK RÉK NGAJAIT BAJU BAYI!”

Cucu! Cucu kapan?! Sepuluh bulan lagi?! Mak mau jahit baju bayi!

Ia jatuh dari kasur.

Aku menarik selimut sampai ke kepala, dan di bawah selimut itu, untuk kedua kalinya minggu itu, aku tertawa sampai perutku sakit.

Ia bangkit dari lantai dengan wajah merah padam, memungut ponselnya yang masih menjerit, dan berkata dengan suara yang sangat tenang, sangat sopan, sangat tidak meyakinkan: “Mak. Ini bukan seperti yang Mak kira. Ada guling.”

“GULING?!”

“Guling perbatasan, Mak.”

“NAON DEUI ÉTA?!” Apa lagi itu?!

Ia menutup telepon. Lalu menyalakannya lagi, karena Mak pasti akan menelepon tiga puluh kali kalau tidak diangkat. Lalu menyerah dan duduk di lantai di samping kasur, memegangi kepalanya dengan dua tangan, sementara Mak menjelaskan lewat speaker tentang ukuran baju bayi.


Malam-malam berikutnya kami tidur dengan Guling Perbatasan di tengah. Punggung ke punggung. Aku belajar suara napasnya ketika tidur: pelan, teratur, sesekali tersendat seperti sedang memimpikan sesuatu. Ia mungkin belajar suara napasku juga.

Di buku biru, malam itu, aku menulis:

20. Engsel pintu kamarku dia minyakin sebelum aku datang. Pintunya sendiri dia biarin bunyi. Biar aku dengar dia datang.

21. Pintunya nggak pernah dikunci. Biar kalau aku butuh, aku nggak usah nunggu.

22. Nggak ada pemanas air. Dia masak air tiap jam setengah lima. Delapan bulan.

23. Dia jalan tanpa sandal tiap malam. Biar langkahnya nggak kedengeran.

Aku menutup buku itu, menyimpannya di laci, dan kembali ke kasur. Ia sudah tidur, menghadap ke pintu, seperti penjaga.

Aku berbaring di sisiku. Guling Perbatasan di antara kami, panjang dan empuk dan sangat jelas batasnya.

Suatu malam di awal Maret, aku terbangun karena udara dingin. Aku meraba ke tengah kasur, mencari guling itu untuk dipeluk.

Tidak ada.

Guling Perbatasan sudah jatuh ke lantai. Entah kapan. Entah siapa yang menendangnya.

Aku memandangi guling itu di lantai, dalam cahaya samar dari lorong yang lampunya selalu menyala. Lalu aku memandang punggungnya, hanya sejengkal dariku sekarang, naik turun dengan napas yang pelan.

Aku tidak memungutnya. Aku menarik selimut, memejamkan mata, dan tidur lagi.

Pagi harinya, guling itu masih di lantai. Ia juga tidak memungutnya.