Chapter One
Request dari Pak Tani
POV: Rania
Jam di dinding studio menunjuk 05.58, dan Kiki sudah menangis.
“Belum juga mulai, Ki.”
“Gue latihan,” katanya sambil menyedot ingus dengan tisu yang ia ambil segepok dari meja Pak Bonar. “Minggu depan gue siaran sendirian. Lo tahu gue nggak bisa siaran sendirian. Kalau sendirian, gue ngomongnya sama mixer.”
“Dua minggu doang.”
“Dua minggu itu empat belas pagi, Ran. Empat belas!”
Lampu ON AIR menyala merah. Aku memasang headphone, mendekatkan mulut ke mikrofon, dan seperti setiap pagi selama enam tahun terakhir, Bogor bangun mendengar suaraku.
“Selamat pagiii, Kota Hujan! Masih di Swara Pakuan sembilan delapan koma tujuh, ini Pagi Riang, dan aku Rania, yang hari ini bangun tanpa alarm karena kebanyakan mikirin catering.” Kiki tertawa basah di sebelahku. “Di sebelahku ada Kiki, yang lagi nangis karena alasan pribadi.”
“Bukan pribadi! Ini menyangkut kepentingan publik!”
Begitulah. Aku mengumumkan di udara bahwa Minggu depan, tanggal lima belas, aku menikah, dan mulai Senin berikutnya aku cuti dua minggu. Dalam sepuluh menit layar WhatsApp pendengar penuh. Ibu-ibu Pasar Bogor mendoakan sakinah. Bapak-bapak ojek di Baranangsiang minta jatah nasi kotak. Seorang anak SMA mengaku patah hati: Kak, jangan nikah dulu, aku baru kelas sebelas. Pak Bonar, station manager kami yang badannya sebesar lemari dan hatinya selembut bolu kukus, berdiri di balik kaca sambil mengelap mata dengan ujung dasi.
Aku membacakan semuanya sambil tertawa. Tawaku memang keras. Gilang bilang bunyinya seperti kambing keselek. Pendengar bilang itu ciri khas. Aku tidak pernah berusaha mengecilkannya. Papa suka mendengarnya dari dapur setiap pagi.
Sebenarnya itulah alasannya. Waktu Mama meninggal, aku dua belas tahun, dan rumah kami mendadak sangat sunyi. Papa memasak tanpa bicara, menyiram tanpa bicara, menulis di ruang kerjanya sampai larut tanpa bicara. Suatu pagi aku tertawa keras karena kartun di televisi, dan dari dapur Papa ikut tertawa. Pelan sekali, tapi tertawa. Sejak itu aku memutuskan, dengan logika anak dua belas tahun, bahwa kalau aku tertawa cukup keras, Papa tidak akan mendengar sunyinya. Empat belas tahun kemudian aku masih tertawa sekeras itu. Bedanya, sekarang satu kota ikut mendengar.
Pukul tujuh lewat sedikit, ponsel jadul di ujung meja berbunyi tit-tit. Bukan WhatsApp. SMS biasa, ke nomor lama studio yang sudah dilupakan semua orang.
Kiki menoleh. Aku menoleh. Kami berdua tahu siapa.
“Pak Tani,” bisik Kiki khidmat, seperti menyebut nama wali.
Pak Tani adalah pendengar paling setia Pagi Riang, dan satu-satunya yang masih mengirim SMS biasa. Ia tidak pernah menelepon. Nomornya tidak pernah mau diangkat kalau kami telepon balik. Setiap pagi, selama enam tahun, ia mengirim satu request lagu lawas dan satu lelucon. Leluconnya selalu garing. Konsisten garing. Garing yang terencana.
Aku membacanya di udara.
“Dari Pak Tani, nomor favorit kita semua. Selamat pagi, Mbak. Request lagu lawas Chrisye, yang mana saja. Lelucon hari ini: Hujan di Bogor itu kayak saya. Datang tiap sore, nggak pernah diundang.“
Hening dua detik. Kiki menggigit bibir.
“Pak Tani,” kataku pelan ke mikrofon, “aku harus jujur. Itu tiga dari sepuluh.”
Kiki terbahak.
“Tiga, Pak Tani! Tiga! Masih kalah jauh sama lelucon pertama Bapak enam tahun lalu, yang sampai sekarang jadi legenda studio ini. Pendengar baru mungkin belum tahu. Ki?”
Kiki memasang suara narator film. “Kenapa padi selalu menunduk?“
“Karena lagi cari sinyal,“ kataku bersamaan dengannya, dan kami tertawa sampai Pak Bonar mengetuk kaca.
Lelucon itu masuk suatu malam, enam tahun lalu, waktu aku masih penyiar junior yang kebagian jam sepi. Garingnya luar biasa sampai aku membacanya tiga kali di udara. Sejak itu, setiap pagi, Pak Tani tidak pernah absen. Aku tidak tahu wajahnya. Di kepalaku ia bapak-bapak lima puluhan, berkumis, bercaping, mengetik SMS di pematang sambil menunggu air irigasi.
Aku memutar lagunya. Di luar jendela studio, Bogor masih abu-abu.
Gilang telat empat puluh menit ke fitting.
Itu rekor yang lumayan untuk ukuran Gilang. Aku sudah selesai dipasangi kebaya, sudah berdiri di depan cermin besar butik Bu Lilis, dan sudah mendengar Bu Lilis mengulang kalimat yang sama lima kali.
“Aduh, Neng. Ini mah calon pengantin paling geulis yang pernah Ibu jahit. Kulitnya, ya Allah. Lesung pipinya. Ibu sampai salah ukur pinggang dua kali.”
Aku tertawa, lalu menatap cermin. Kebaya putih gading, payet kecil di bagian dada, rambutku yang biasanya diikat asal kini disanggul sementara oleh asisten Bu Lilis. Aku tidak biasa melihat diriku begini. Rapi. Seperti perempuan di majalah ruang tunggu dokter gigi.
Pintu butik terbuka. Gilang masuk dengan kemeja kerja kusut, rambut basah, napas terengah, dan wajah orang yang sudah menyiapkan alasan.
“Nia, sebelum kamu marah—“
“Aku nggak marah.”
“Ada kucing nyangkut di tiang proyek.”
Aku menatapnya.
“Serius! Anak kucing, di tiang besi lantai tiga. Nangis terus. Tukang-tukang takut naik, jadi aku yang naik. Turunnya susah. Terus kucingnya nyakar.” Ia menunjukkan punggung tangan kanannya. Tiga garis merah. “Terus kucingnya kabur. Nggak bilang makasih.”
Bu Lilis tertawa sampai jarum pentulnya jatuh.
Gilang berhenti bicara. Ia baru benar-benar melihatku. Matanya membesar, mulutnya sedikit terbuka, dan untuk pertama kalinya hari itu ia diam.
“Nia,” katanya akhirnya. “Kamu… ya ampun.”
“Ya ampun apa?”
“Ya ampun aja. Aku nggak punya kalimat lain. Aku insinyur sipil.”
Aku tertawa. Keras. Bu Lilis berjengit.
Gilang menunjukku. “Nah. Tetap kayak kambing keselek. Untung. Tadi aku sempat takut kebayanya bikin kamu jadi orang lain.”
Aku memukul lengannya. Ia mengaduh berlebihan.
Sementara Bu Lilis menyemat jarum di pinggangku, Gilang duduk di kursi rotan dan membacakan daftar yang belum beres dari ponselnya. Suvenir sudah. Tenda sudah. Organ tunggal sudah, walaupun penyanyinya minta jatah lagu dangdut minimal tiga.
“Satu lagi,” katanya. “Hari Minggu nanti, aku janji nggak telat.”
“Kamu? Nggak telat? Di nikahan sendiri?”
“Aku berangkat dari Sabtu malam. Tidur di masjid kompleksmu.”
Aku tertawa lagi. Bu Lilis menyerah dan menunggu tawaku selesai sebelum menyemat lagi. Gilang memandangiku dengan wajah yang selalu ia pasang kalau aku tertawa: seperti orang yang baru menang undian dan masih tidak percaya.
Di cermin, kami kelihatan seperti dua orang yang punya waktu seumur hidup.
Rumah Matahari berdiri di ujung jalan kecil di Bogor Tengah, rumah tua peninggalan Belanda dengan jendela tinggi dan lantai tegel yang dingin. Orang kompleks menyebutnya begitu karena halamannya. Sejak Mama meninggal empat belas tahun lalu, Papa menanam bunga matahari di setiap jengkal tanah yang tersisa. Di musim mekar, rumah kami seperti dikepung ratusan wajah kuning yang semuanya menoleh ke timur.
Sore itu Papa sedang menyiram ketika aku pulang. Celana kain digulung sampai betis, kaus oblong bertuliskan nama seminar tahun 2009, dan selang air yang bocor di tengah.
“Gimana kebayanya, Neng?”
“Bu Lilis bilang aku paling geulis.”
“Bu Lilis bilang begitu ke semua orang.”
“Papa!”
Papa tertawa pelan, tidak sepertiku. Ia mematikan keran, mengelap tangan di celana, lalu masuk mendahuluiku. Di meja ruang tengah tergeletak amplop cokelat berlogo bank. Papa mengambilnya terlalu cepat, melipatnya, dan memasukkannya ke saku.
“Apa itu, Pa?”
“Urusan kantor.”
Aku tidak bertanya lagi. Papa menuang air hangat, lalu menelan sebutir obat putih dari strip yang langsung ia sembunyikan di laci. “Vitamin,” katanya, sebelum aku sempat bertanya. Papa adalah satu-satunya orang di dunia yang menjawab pertanyaan yang belum ditanyakan.
Kami makan malam lebih awal, berdua, seperti biasa. Sayur asem, tempe goreng, dan sambal yang Papa buat terlalu pedas, karena Papa selalu lupa aku tidak tahan pedas.
“Nanti malam Fajar ke sini antar berkas,” kata Papa sambil menyendok nasi. “Kalau Papa lagi di kamar mandi, suruh masuk.”
“Fajar yang mana, Pa?”
“Murid Papa. Yang paling bagus.”
“Yang suka bawa pisang?”
“Itu Pak Darto. Tukang pisang.”
“Oh.” Aku berpikir keras. “Yang kacamata?”
“Itu Dodi. Temannya.”
“Pa, murid Papa ada dua ratus. Mukanya sama semua. Kemejanya kotak-kotak semua.”
Papa memandangku lama dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, lalu menghela napas dan kembali makan. “Nanti juga kamu tahu,” katanya. Hanya itu.
Selesai makan, seperti biasa, Papa duduk di ruang kerjanya menulis di Jurnal Kebun, buku tebal bersampul kulit yang sudah ia isi sejak sebelum aku lahir. Catatan tanaman, cuaca, dan hal-hal yang menurut Papa layak diingat. Aku tidak pernah membacanya. Kata Papa, aku boleh membacanya kalau sudah tua.
“Papa nyatet apa hari ini?”
“Bunga matahari di pojok timur kena ulat. Dan anak Papa cantik pakai kebaya.”
“Papa kan nggak lihat aku pakai kebaya.”
“Papa lihat dari mukamu waktu pulang.”
Di rak belakangnya, di samping foto Mama, ada kotak kayu kecil yang kukenal sejak kecil: Kotak Benih Hartono. Isinya biji-biji koleksi Papa selama tiga puluh tahun. Di dasar kotak itu, kata Papa, ada amplop paling tua: biji bunga matahari pertama yang ditanam Mama.
“Sudah tiga puluh tahun lebih,” katanya, mengikuti arah mataku. “Mungkin sudah tidak bisa tumbuh. Tapi Papa tidak sanggup membuangnya.”
Ia menatap foto Mama lama. Lalu menatapku.
“Papa cuma mau lihat kamu bahagia, Neng. Itu saja. Sisanya bonus.”
Aku memeluk lehernya dari belakang. Papa berbau minyak kayu putih dan tanah basah.
Hujan turun pukul tujuh malam, deras, seperti biasa di kota ini.
Bel pintu berbunyi. Papa berteriak dari ruang kerja, “Neng, itu Fajar, bawa berkas!”
Aku sedang menonton tutorial merias sendiri dengan muka penuh masker. Aku membuka pintu tanpa benar-benar melihat. Di teras berdiri laki-laki kurus berkemeja kotak-kotak yang menempel di badan karena basah. Air menetes dari rambutnya, dari ujung hidungnya, dari map plastik yang ia peluk di dada seperti bayi.
Aku tahu dia. Murid Papa. Yang sering datang. Yang itu.
Aku menarik handuk dari jemuran dalam di samping pintu dan melemparnya tanpa mengalihkan mata dari ponsel.
“Mas Farid, ya? Handuk.”
Ia menangkapnya. Diam sebentar.
“…Fajar.”
“Oh. Maaf. Mas Fajar. Masuk, Mas, Papa di dalam.”
Dari ruang kerja, Papa tertawa sampai terbatuk.
Laki-laki itu tidak langsung memakai handuknya. Ia memegangnya dengan dua tangan, lama, seperti sedang memastikan sesuatu. Lalu ia mengusap rambutnya pelan sekali, melipat handuk itu rapi menjadi empat, dan meletakkannya di sandaran kursi teras. Orang aneh, pikirku, lalu kembali ke tutorialku.
Ia hanya sepuluh menit di dalam. Aku mendengar suara Papa, lalu bunyi motor tua yang dinyalakan dengan susah payah di bawah hujan.
Malam itu aku naik ke kamar. Hujan menghantam genteng seperti mau masuk. Biasanya, di malam seperti ini, aku harus menaruh ember di bawah jendela karena talang di atasnya bocor sejak aku SMA.
Malam itu lantai kamarku kering.
Aku turun lagi. “Pa! Talang kamarku udah nggak bocor!”
Papa berdiri di depan jendela ruang tengah. Ia tidak menoleh.
“Fajar yang naik ke genteng minggu lalu.”
“Fajar siapa?”
“Yang tadi kamu kasih handuk.”
“Oh! Mas Farid.”
Papa menghela napas panjang sekali.
Aku naik lagi sambil tertawa. Dari ujung tangga aku masih bisa melihat Papa di jendela itu, memandangi jalan basah tempat lampu motor tadi menghilang ke dalam hujan, dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Wajah orang yang sedang memikirkan sesuatu yang sangat jauh.
- 1 Request dari Pak Tani reading
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh