Chapter Thirty Two

Janji Ketiga

POV: Fajar

Semua yang kucintai mati, Mas. Semuanya.

Aku berdiri di depan pintu kamarnya malam itu, lama sekali, dengan tangan terangkat. Aku tidak mengetuk.

Aku mengerti apa yang ia katakan. Aku sudah mendengarnya sejak bulan Juni, di setiap tangis pukul dua pagi, di setiap malam ia mengunci pintu, di setiap kali ia menyebut nama Gilang dalam tidur. Ia mencintai Gilang. Ia mencintai Prof. Ia mencintai Bu Laras. Dan mereka semua pergi.

Malam ini ia mengatakannya dengan keras, di bawah hujan, di depanku. Bahwa duka itu masih di sana. Bahwa sebelas bulan tidak menghapusnya. Bahwa semua kebaikan yang kulakukan hanya menjadi utang yang tidak bisa ia bayar.

Aku nggak bisa bayar semua ini, Mas.

Berhenti baik sama aku.

Aku menurunkan tanganku dan pergi ke ruang kerja.


Selama seminggu setelah badai, aku memperhatikannya.

Ia tidak bicara banyak. Ia memasak, menyiram tomat, memberi makan Si Kaldu, seperti biasa. Tapi ia menghindari mataku. Di teras setelah makan malam, ia duduk di ujung bangku yang paling jauh. Kadang ia membuka mulut seperti mau mengatakan sesuatu, lalu menutupnya lagi dan memandangi teh.

Aku tahu artinya. Atau kupikir aku tahu.

Ia merasa terjebak. Terjebak dalam pernikahan yang tidak ia pilih, dengan laki-laki yang terus menumpuk kebaikan di pundaknya sampai ia tidak bisa bernapas. Ia ingin pergi, tapi ia terlalu baik untuk pergi. Ia tidak akan pernah meninggalkan laki-laki yang sudah menjual sawah bapaknya untuk rumah Papa. Itu bukan sifatnya.

Jadi ia akan tinggal. Dan tersenyum. Dan membayar, seumur hidup, sesuatu yang tidak pernah kuminta.

Kalau kamu minta, dia akan merasa berutang.

Aku tidak meminta. Tapi Prof benar. Ia tetap merasa berutang.


Seminggu sebelum surel itu datang, sesuatu terjadi di lab.

Pagi itu aku membuka lemari pendingin seperti biasa, mengeluarkan nampan cawan petri, dan memeriksanya satu per satu di bawah lampu. Nol. Nol. Nol. Sebelas bulan, ratusan biji, dan setiap pagi angka yang sama.

Lalu cawan nomor dua ratus empat belas.

Di atas kertas saring yang lembap, dari biji bunga matahari bergaris hitam-putih yang kulitnya sudah kuamplas tipis-tipis, ada sesuatu yang putih. Kecil sekali. Lebih kecil dari ujung bulu mata. Akar pertama, menembus kulit biji, melengkung mencari ke bawah.

Labelnya, tulisan tangan Prof: H. annuus, Rumah Matahari, 1998.

Dua puluh delapan tahun tertidur.

Aku memeriksa cawan-cawan di sebelahnya. Dua ratus lima belas: satu lagi. Dua ratus tujuh belas: satu lagi.

Tiga.

Aku duduk di lantai lab, bersandar ke lemari pendingin, memegang cawan petri itu dengan dua tangan seperti memegang sesuatu yang bisa terbang, dan tidak bisa berhenti tertawa. Mahasiswa S1 yang lewat memandangiku dengan wajah takut.

Aku pulang pukul dua siang, lebih cepat dari biasanya, dengan cawan nomor dua ratus empat belas di dalam kotak styrofoam. Dia sedang menjemur cucian di halaman.

“Ra,” kataku. Suaraku tidak bisa kuatur. “Ra. Biji Papa. Tumbuh.”

Dia menjatuhkan jemuran.

Aku membuka kotak itu dan menunjukkannya. Dia membungkuk di atas cawan itu lama sekali, memandangi akar putih yang sangat kecil, lalu menutup mulut dengan dua tangan dan menangis. Dia masuk ke kamar, mengambil foto Prof dari meja, dan membawanya keluar, dan mengangkatnya di depan cawan itu seperti menunjukkan sesuatu pada Prof.

“Pa,” bisiknya. “Pa, lihat. Bangun.”

Aku berdiri di sampingnya. Untuk satu sore itu, aku lupa semua yang lain. Aku lupa tiga syarat. Aku lupa pintu yang ditutup. Aku lupa semua yang kucintai mati. Yang ada hanya perempuan di sampingku yang menangis bahagia di depan sebuah cawan petri, dan foto Prof yang tersenyum di tangannya, dan tiga akar putih kecil yang memutuskan, setelah dua puluh delapan tahun, untuk bangun.


Surel itu datang pada hari Selasa.

Profesor de Vries. Calon promotorku dulu. Yang memandangku lewat kamera di seminar bulan Desember dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

Ada posisi yang dibuka ulang. Mahasiswa yang menggantikanku tahun lalu mengundurkan diri karena alasan keluarga. Pendanaannya masih ada. Intake September. Dan surat rekomendasi Profesor Hartono, tulis de Vries, masih menjadi yang terkuat yang pernah ia baca, dan ia akan sangat menyesal kalau tidak memberiku kesempatan kedua.

Please let me know by the end of May.

Aku membaca surel itu berkali-kali di ruang kerja, dengan radio Bapak di samping layar dan bingkai kecil berisi kata Makasih.

Tiga. Kalau suatu hari dia ingin pergi, lepaskan.

Prof tidak bilang apa yang harus kulakukan kalau ia ingin pergi tapi tidak bisa. Kalau ia terlalu baik untuk pergi. Kalau pintunya tidak dikunci tapi ia tetap tidak keluar, karena ia merasa berutang pada orang yang membukakannya.

Mungkin jawabannya sederhana. Kalau ia tidak bisa pergi, aku yang pergi.

Aku yang pergi, dan dia tetap di sini. Di rumah yang aman. Dengan Rumah Matahari yang sudah lunas, atas namanya sendiri. Dengan kursi di Swara Pakuan yang dijaga Pak Bonar. Dengan Kiki, Tante, Bu Ratih, Mak. Tanpa laki-laki yang setiap hari menambah utang di pundaknya.

Ia bisa bebas tanpa harus merasa bersalah. Karena bukan ia yang meninggalkan. Aku yang pergi sekolah.

Itu masuk akal. Itu sangat masuk akal.

Aku membalas surel itu malam itu juga. Yes. I accept.


Mak menelepon dua hari kemudian, video call, pukul tujuh malam.

Aku tidak bermaksud memberitahu Mak. Tapi Mak memandangi wajahku di layar selama lima detik, lalu bilang, “Aya naon?” Ada apa?, dan aku tidak pernah bisa berbohong pada Mak.

Aku menceritakannya. Surel. Belanda. September. Aku menceritakannya dengan suara tenang, seperti menjelaskan hasil penelitian.

Mak tidak menyela. Mak mendengarkan sampai selesai. Lalu wajahnya, yang terlalu dekat dengan kamera seperti biasa, berubah merah.

“BODO, JAR!”

Aku menjauhkan ponsel dari telinga.

“Bodo! Bodo pisan! Manéh téh rék indit ninggalkeun pamajikan? Ka Walanda? Sorangan?!” Bodoh! Bodoh sekali! Kamu mau pergi ninggalin istri? Ke Belanda? Sendirian?!

“Mak, ini supaya dia bebas—“

“Bebas tina naon?! Manéh téh pernah nanya teu ka si Neng, hayang naon?!”

Bebas dari apa?! Kamu pernah tanya nggak ke Neng, dia maunya apa?!

Aku diam.

“Pernah?!” desak Mak.

Aku tidak menjawab. Mak tahu jawabannya. Mak selalu tahu.

“Ti leutik,” kata Mak, suaranya turun, pecah. “Ti leutik manéh kitu. Mikir sorangan, mutuskeun sorangan, méré sorangan. Teu pernah nanya. Teu pernah ménta. Bapak ogé kitu. Mak geus capé.” Dari kecil kamu begitu. Mikir sendiri, mutusin sendiri, ngasih sendiri. Nggak pernah tanya. Nggak pernah minta. Bapakmu juga begitu. Mak sudah capek.

Di belakangku, di halaman, Si Kaldu berkotek keras sekali.

Mak berhenti. Memicingkan mata. “Éta Si Kaldu? Masih hirup kénéh?”

“Masih, Mak.”

“Hayam nu kudu jadi kaldu masih hirup, tapi manéh rék maéhan kawin manéh sorangan.” Ayam yang harusnya jadi kaldu masih hidup, tapi kamu mau membunuh pernikahanmu sendiri.

Mak menutup telepon.

Lima menit kemudian, Mak menelepon lagi.

“Jeung deui,” katanya, tanpa salam. Satu lagi. “Mun manéh indit, saha nu rék ngecas HP si Neng?” Kalau kamu pergi, siapa yang mau ngecas HP Neng?

Aku tidak tahu Mak tahu soal itu. Mak selalu tahu.

Mak menutup telepon lagi sebelum aku sempat menjawab.


Dodi lebih buruk.

Ia tahu dari aku sendiri, karena aku butuh seseorang untuk mengurus Si Kaldu dan halaman selama aku pergi, sampai Rania menemukan orang lain. Kami di lab, malam hari. Dodi berhenti mengetik laporan dan memutar kursinya menghadapku.

“Lo apa?”

“Aku ambil S3. September.”

“Dan Mbak Rania?”

“Dia tetap di sini. Rumahnya aman. Kerjanya aman. Dia bebas.”

“Dia tahu?”

“Belum. Nanti. Di hari jadi.”

Dodi memandangku lama sekali. Lalu ia berdiri, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku melihat Dodi benar-benar marah.

“Lo itu nggak pernah nanya, Jar.” Suaranya rendah. “Lo nggak pernah nanya. Lo cuma ngasih. Lo ngasih sup, lo ngasih payung, lo ngasih sawah, lo ngasih semuanya, dan lo nggak pernah sekali pun nanya ke dia, dia maunya apa. Dan sekarang lo mau ngasih dia satu hal lagi, kebebasan, tanpa nanya dia mau atau nggak?”

“Dia bilang semua yang dia cintai mati, Dod.”

“Terus?!”

“Terus aku bukan salah satunya. Aku cuma… yang tersisa.”

Dodi memandangku seperti memandang orang yang paling bodoh di dunia.

“Jar,” katanya. “Lo pinter banget soal benih. Lo bodoh banget soal yang lain.”

Lalu ia mengambil tasnya dan pergi, dan membanting pintu lab begitu keras sampai cawan-cawan petri di rak bergetar.

Lima menit kemudian, ia kembali, wajahnya masih merah. “Tesis gue disetujui tadi siang,” katanya, cepat dan ketus. “Revisi enam belas. Nggak usah ucapin selamat. Gue lagi marah sama lo.”

Lalu ia pergi lagi.

Aku duduk sendirian di lab, di antara cawan-cawan petri yang masih bergetar, dan tersenyum untuk Dodi. Delapan tahun. Ia akhirnya lulus.


Aku mulai menyiapkan.

Bukan koper. Itu nanti. Aku menyiapkan rumah. Supaya rumah ini berjalan tanpa aku.

Pemanas air yang baru. Aku membelinya di toko bangunan di Jalan Pajajaran, memasangnya sendiri di kamar mandi belakang dengan bantuan video tutorial dan Dodi yang masih marah tapi tetap datang dengan kunci inggris. Tidak ada lagi panci air mendidih pukul setengah lima. Cukup tekan tombol.

Sekring di dapur kulabeli satu-satu dengan spidol. KAMAR. DAPUR. POMPA AIR. JANGAN DIMATIKAN KALAU HUJAN.

Di pintu kulkas, kutempel daftar nomor telepon. Tukang listrik. Tukang ledeng. Tukang genteng. Bengkel yang bisa memperbaiki Si Siput kalau mogok. Dokter di puskesmas. Pak Wawan untuk bibit. Nomor Dodi, ditulis paling besar.

Di laci meja makan, kuletakkan charger cadangan. Dua. Satu untuk ponselnya, satu lagi untuk berjaga-jaga.

Aku tidak tahu siapa yang akan mengecas ponselnya setiap malam setelah aku pergi. Kuharap ia belajar. Kuharap ia tidak membutuhkannya.


Akhir Mei, Sabtu pagi, aku pulang dari pasar membawa sayur dan berhenti di ambang pintu belakang.

Dari dapur terdengar sesuatu.

Senandung.

Bukan lagu. Melodi pendek, lima nada, naik-turun, ceria, yang kukenal lebih baik dari suaraku sendiri. Yang selama enam tahun kudengar setiap pagi pukul enam tepat dari radio Bapak.

Swara Pakuan, sembilan delapan koma tujuh. Pagi Riang.

Jingle radionya.

Ia berdiri di depan kompor, membelakangiku, mengaduk sesuatu di panci. Rambutnya diikat dengan karet kain kuning. Ia menyenandungkan jingle itu, pelan, berulang-ulang, seperti orang yang sedang melamun dan tidak sadar mulutnya sedang bernyanyi.

Aku berdiri di ambang pintu dengan kantong sayur di tangan dan tidak bergerak.

Setahun. Hampir setahun sejak terakhir kali ia menyanyikannya. Hari Jumat itu, di studio, sebelum telepon pukul lima lewat dua belas.

Dia sudah tertawa lagi. Dia sudah menyanyi lagi. Dia sudah sembuh.

Prof, syarat kedua sudah lunas. Lebih dari lunas. Bunganya sudah mekar lagi, Prof.

Aku meletakkan kantong sayur di lantai, pelan, tanpa suara, dan mundur keluar ke halaman. Aku berdiri di samping kandang Si Kaldu, membelakangi rumah, dan memandangi dua belas batang bunga matahari muda di bawah jendela kamarnya.

Waktunya aku pergi. Sebelum aku tidak sanggup lagi.