Chapter Thirty Seven

Ranjang Nomor Empat

POV: Rania

Rumah sakit yang sama.

Lorong yang sama, dengan lantai berpola kotak-kotak hijau dan putih. Empat puluh dua kotak dari kursi tunggu ke pintu ICU. Aku menghitungnya lagi, karena aku tidak bisa melakukan hal lain.

Dan ranjang yang sama. Ranjang nomor empat, di dekat jendela.

Perawat yang mendorongnya ke sana tidak tahu. Tidak ada yang tahu kecuali aku. Ranjang itu kosong malam itu, dan ranjang itu yang paling dekat dengan peralatan, dan mereka memindahkannya ke sana dalam keadaan tidak sadar, dengan selang di mulutnya dan perban di punggung dan lengannya, dan monitor di sampingnya mulai berbunyi.

Tit. Tit. Tit.

Aku duduk di kursi plastik di samping ranjang itu dan tidak bisa bernapas.

Luka bakar derajat dua dalam, kata dokter. Punggung kanan, dari bahu sampai pinggang. Lengan kanan, dari siku sampai pergelangan. Cedera inhalasi; ia menghirup terlalu banyak asap, saluran napasnya bengkak, jadi mereka memasang selang dan mesin untuk membantunya bernapas. Mereka membiusnya supaya ia tidak melawan selang itu. Supaya ia tidak merasakan sakitnya. Dua sampai tiga hari, kata dokter, sebelum mereka bisa mencoba melepas selangnya. Lalu cangkok kulit. Lalu berminggu-minggu.

Bekas lukanya permanen.

“Tapi beliau akan sembuh, kan, Dok?”

Dokter itu, perempuan muda dengan mata lelah, memandangku lama. “Kami lakukan yang terbaik, Bu.”

Itu bukan jawaban. Aku tahu itu bukan jawaban. Papa juga pernah mendapat jawaban yang sama.


Aku yang berteriak.

Itu yang berputar di kepalaku sepanjang malam pertama. Jurnal Papa. Aku yang berteriak. Aku yang berbalik dan memandang rumah kaca yang terbakar dan mengucapkan dua kata itu. Kalau aku diam, ia tidak akan masuk. Kalau aku tidak membawa jurnal itu ke sana, kalau aku menunggu sampai ia pulang, kalau aku tidak tidak sabar ingin bertanya, kalau aku…

Buntalan jaket abu-abu itu ada di pangkuanku. Aku belum membukanya. Jaketnya hangus di satu sisi, berlubang di beberapa tempat, berbau asap. Kerahnya yang miring masih utuh.

Dodi duduk di lantai lorong di luar ICU, kepalanya di antara lutut. Kiki di sampingnya, memegangi bahunya. Tante datang pukul sebelas malam dengan sanggul setengah jadi, seperti setahun lalu, dan duduk di sampingku tanpa bicara, menggenggam tanganku begitu keras sampai cincin perak di jariku menekan tulang.

Pukul dua dini hari, Pak Asep lewat.

Satpam yang sama. Yang menangis di akad kami, yang memakai topi untuk mengusap mata. Ia berhenti di depanku, memandangi pintu ICU, memandangiku, dan wajahnya berubah ketika ia mengerti.

“Neng,” katanya pelan. “Itu… suami Neng? Yang di dalam?”

Aku mengangguk.

Pak Asep duduk di kursi di sampingku. Lama ia tidak bicara. Lalu ia berkata, dengan suara yang sangat pelan, seperti orang yang menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia simpan:

“Neng tahu, malam itu, setahun lalu, waktu bapak Neng di dalam? Malam setelah akad?”

Aku memandangnya.

“Suami Neng berdiri di sini,” kata Pak Asep, menunjuk ke lantai di depan pintu ICU. “Di depan kaca itu. Dari jam sebelas sampai subuh. Nggak duduk. Nggak geser sejengkal. Bapak tawarin kursi, dia nggak mau. Bapak tanya kenapa nggak masuk, dia bilang, istri saya lagi sama bapaknya, Pak. Itu waktu mereka.“ Pak Asep menggeleng. “Bapak dua puluh tahun jaga di sini, Neng. Belum pernah lihat yang kayak gitu.”

Siluet di balik kaca. Berdiri saja. Tidak duduk, tidak mondar-mandir. Setiap kali aku terbangun malam itu, siluet itu masih di sana.

Kukira satpam. Kukira Pak Asep.

Aku memeluk buntalan jaket itu dan menangis sampai Pak Asep harus mengambilkan tisu dari pos satpam.


Mak datang pukul delapan pagi, naik travel paling subuh dari Cianjur, dengan kerudung yang dipakai terbalik dan sandal yang berbeda warna kiri dan kanan.

Aku melihatnya keluar dari lift, dan seluruh tubuhku membeku.

Ini dia. Ini saatnya. Aku sudah menunggunya sepanjang malam. Mak akan bertanya apa yang terjadi, dan aku akan bilang, dan Mak akan tahu bahwa anaknya berlari ke dalam api karena aku. Karena jurnal ayahku. Karena aku berteriak. Dan Mak akan memandangku seperti seharusnya orang memandang perempuan yang membuat anaknya terbakar.

Aku berdiri. Aku tidak tahu kenapa aku berdiri. Mungkin supaya aku siap.

Mak berjalan cepat menyusuri lorong, langsung ke arahku. Matanya merah. Bibirnya gemetar.

“Mak,” kataku. “Mak, maaf. Aku yang—“

Mak memelukku.

Keras. Sangat keras. Lengan kurus yang kuat itu melingkar di punggungku, kepalaku ditekan ke bahunya yang berbau kayu bakar dan minyak kelapa dan keringat perjalanan.

“Si Fajar mah ti leuleutik kitu, Neng,” bisik Mak di telingaku. Suaranya pecah. “Lamun nu dipikanyaah ceurik, manéhna lumpat.”

Fajar dari kecil memang begitu. Kalau orang yang ia sayang menangis, ia berlari.

Aku tidak bisa berdiri lagi. Mak menahanku. Kami jatuh bersama ke kursi plastik di lorong ICU, dan Mak memelukku seperti memeluk anaknya sendiri, dan menyenandungkan Ayun Ambing, pelan dan sumbang, sampai aku berhenti gemetar.


Siang itu Mak duduk di sampingku di kursi tunggu, mengupas jeruk yang tidak dimakan siapa pun.

“Neng,” kata Mak tiba-tiba. “Manéh apal teu, kamar Neng di Ciapus? Kuncina?”

“Kuncinya, Mak?”

“Kunci cadangan ogé teu dijieun,” kata Mak. “Mak nanya waktu Neng masih di kamar, bulan Juni. Mak bilang, Jar, jieun kunci cadangan, mun aya nanaon ka Neng di jero kumaha? Cenah, teu, Mak. Éta kamar Neng.“

Kunci cadangan pun tidak dibuat. Mak tanya waktu Neng masih di kamar. Mak bilang, buat kunci cadangan, kalau ada apa-apa sama Neng di dalam gimana? Katanya, nggak, Mak. Itu kamar Neng.

Kunci kuningan kecil dengan gantungan tali rafia. Satu-satunya. Ia meletakkannya di telapak tanganku di hari pertama. Kuncinya di kamu.

Tiga puluh hari, aku mengunci pintu itu dari dalam. Tiga puluh hari aku hampir tidak makan. Dan ia tidak punya cara untuk masuk, kalau terjadi sesuatu. Ia memilih untuk tidak punya cara. Ia memilih untuk percaya.


Malam kedua, Dodi menyerahkan tas punggungnya padaku. Tas yang ia bawa ke rumah kaca, yang tertinggal di bawah pohon tempat kami jatuh, basah tapi utuh.

“Mbak,” kata Dodi dengan suara serak. Wajahnya kelihatan sepuluh tahun lebih tua. “Ada yang Mbak harus baca. Gue disumpah buat diam. Tapi gue nggak peduli lagi.”

Di kantong paling dalam, ada amplop cokelat besar. Di depannya, tulisan tangan kecil yang condong ke kanan.

Untuk Ra.

Dibuka 14 Juni.

Hari ini tanggal dua belas.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada tiga hal. Sertifikat Rumah Matahari, baru, atas nama Rania Adiwijaya. Hanya namaku. Tiket pesawat, Jakarta–Amsterdam, lima September. Satu penumpang. Fajar Nugraha.

Dan selembar kertas, dilipat tiga.

Aku membukanya dengan tangan yang gemetar terlalu keras.


Ra,

Selamat hari jadi. Setahun.

Aku mau cerita sesuatu yang sudah setahun kusimpan. Malam sebelum akad, di ranjang nomor empat, Papa minta tiga hal dariku.

Satu: jangan minta kamu mencintaiku. Aku tidak pernah memintanya. Aku harap aku tidak pernah membuatmu merasa harus.

Dua: jaga kamu sampai kamu bisa tertawa lagi. Tawa yang jelek itu. Kamu sudah tertawa, Ra. Karena ayam, karena Dodi, karena aku jatuh dari kasur waktu Mak telepon. Aku dengar semuanya. Itu bunyi paling indah yang pernah kudengar, lebih indah dari enam tahun di radio.

Tiga: kalau suatu hari kamu ingin pergi, lepaskan.

Janjiku pada Papa sudah lunas. Kamu sudah bisa tertawa lagi. Jadi sekarang aku menepati yang ketiga, dengan cara yang paling tidak menyakitkan untukmu: aku yang pergi. Aku dapat S3 di Wageningen. Berangkat September. Rumah Matahari sudah atas namamu. Kursimu di Swara Pakuan masih ada. Pemanas air sudah kupasang. Nomor-nomor tukang di kulkas. Charger cadangan di laci. Catatan cara merawat bunga matahari ada di laci dapur.

Kamu tidak berutang apa-apa padaku. Tidak pernah. Semua yang kulakukan, kulakukan karena aku mau, bukan supaya kamu membalas.

Pintunya tidak pernah kukunci, Ra. Kalau kamu ingin pergi, pergilah. Kalau kamu ingin tinggal di Ciapus, tinggallah; kontraknya sudah kuperpanjang dua tahun. Kalau kamu ingin menikah lagi suatu hari dengan seseorang yang kamu pilih sendiri, aku akan mengurus semuanya dari jauh, supaya kamu tidak perlu repot.

Aku tetap mencintaimu dari jauh, tanpa minta apa-apa.

Seperti enam tahun sebelumnya.

Pak Tani


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana dengan surat itu.

Aku tetap mencintaimu.

Enam tahun. Empat puluh tujuh draf yang berhenti di sebenarnya saya. Satu tahun pernikahan tanpa sekali pun mengatakannya. Dan sekarang, di surat perpisahan, kata itu ada. Hitam di atas putih. Tulisan tangan kecil yang condong ke kanan.

Di surat perpisahan.

Pemanas air baru. Daftar nomor tukang di kulkas. Charger cadangan di laci. Kontrak rumah yang diperpanjang. Semua yang kukira kebaikan biasa, yang membuatku tersenyum dan bilang akhirnya, semuanya adalah persiapan. Ia sedang menyiapkan rumah supaya rumah itu bisa berjalan tanpa dirinya.

Ia sedang berpamitan. Selama sebulan. Di depan mataku. Dan aku tidak melihatnya.

Semua yang kucintai mati. Ia mendengar kalimat itu dan berpikir aku sedang bicara tentang Gilang. Tentang Papa. Ia tidak pernah berpikir aku sedang bicara tentang dia.

Ia tidak pernah berpikir apa pun itu tentang dia.


Tanggal tiga belas Juni, setahun Gilang pergi, Bu Ratih datang ke rumah sakit.

Ia membawa termos teh dan sekotak kue, dan ia duduk di sampingku di lorong ICU dan memegang tanganku lama tanpa bicara. Lalu ia memandang ke balik kaca, ke ranjang nomor empat.

“Ibu dengar dari Kiki,” katanya pelan. “Dia lari ke dalam api. Buat jurnal papamu.”

Aku mengangguk.

Bu Ratih memandangi laki-laki di balik kaca itu lama sekali. Laki-laki yang setiap tanggal tiga belas mencabut rumput di makam anaknya. Yang menulis kartu-kartu parsel dengan tulisan kecil dan miring.

“Gilang pasti lega, Nak,” kata Bu Ratih akhirnya. Matanya basah. “Kamu ketemu orang yang sanggup menjagamu. Lebih dari sanggup.”


Malam itu aku diizinkan duduk di samping ranjangnya. Hanya lima belas menit, setiap jam, dengan baju dan masker steril.

Ia terbaring miring karena luka di punggungnya. Wajahnya pucat, setengah tertutup selang. Matanya terpejam. Lengan kanannya dibalut perban tebal sampai ke jari. Tangan kirinya, yang tidak terluka, tergeletak di atas selimut, terbuka, seperti menunggu sesuatu.

Aku menggenggam tangan kiri itu. Hangat. Kasar. Kapalan di ujung-ujung jari.

“Mas,” bisikku. “Mas. Kamu bilang kamu nggak ke mana-mana.”

Monitor berbunyi. Tit. Tit. Tit.

“Kamu janji,” kataku. Suaraku pecah. “Di rumah sakit, waktu aku manggil Gilang. Kamu bilang janji. Kamu nggak boleh ngelanggar janji. Kamu nggak pernah ngelanggar janji. Jangan mulai sekarang.”

Aku mengangkat tanganku, dan dengan ujung jari, aku mengetuk punggung tangannya. Pelan.

Tok. Tok. Tok.

Seperti dulu, setiap pagi, di depan pintu kamarku. Tiga puluh hari. Aku di sini. Aku nggak memaksa. Aku cuma di sini.

Setiap jam malam itu, setiap lima belas menit yang diizinkan, aku kembali dan mengetuk tiga kali di punggung tangannya.


Di buku biru, di lorong ICU, dengan pulpen pinjaman dari Pak Asep:

44. Dia berdiri di depan kaca ICU semalaman, malam Papa meninggal. “Itu waktu mereka.” Pak Asep yang bilang.

45. Dia nggak pernah bikin kunci cadangan kamarku. “Itu kamar Neng.”

46. Pemanas air, nomor tukang, charger cadangan, kontrak rumah. Semuanya buat pergi. Biar aku nggak repot setelah dia nggak ada.

Empat puluh enam.

Pukul sebelas malam, setelah kunjungan terakhir, aku membuka jaket abu-abu yang hangus itu di pangkuanku. Di dalamnya, Kotak Benih Papa, utuh, tutupnya sedikit gosong di satu sudut. Dan di atasnya, Jurnal Kebun.

Sampulnya hangus di pinggir. Beberapa halaman di bagian belakang menghitam dan rapuh. Tapi sebagian besar selamat.

Aku membukanya. Daun bunga matahari kering yang kujadikan penanda masih di sana, terselip di halaman yang sama.

Empat tahun lalu.

Fajar.

Anak itu datang hari ini membawa kotak cincin.

Aku menarik napas, dan membaca sisanya.