Chapter Eighteen

Tangan Siapa

POV: Rania

Aku ingat.

Tidak semuanya. Malam-malam di rumah sakit itu kabur di kepalaku, seperti foto yang diambil dengan tangan gemetar. Lampu neon. Tirai hijau. Nenek di ranjang sebelah yang memanggil-manggil nama anaknya dalam bahasa Jawa. Rasa jarum infus yang ditusukkan untuk kedua kalinya karena yang pertama tidak kena.

Tapi aku ingat satu hal dengan sangat jelas.

Aku memanggil Gilang.

Aku memanggilnya dalam demam, dalam gelap, dengan seluruh sisa tenagaku. Dan seseorang menjawab. Seseorang menggenggam tanganku dan bilang ia tidak akan pergi, dan aku percaya, dan aku tertidur untuk pertama kalinya dalam tiga hari.

Tangan itu kasar. Ujung-ujung jarinya kapalan. Dan baunya, aku ingat baunya, bau yang menempel di tanganku ketika aku terbangun pagi itu: tanah, dan sabun batang.

Gilang tidak pernah berbau seperti itu. Gilang berbau parfum murah yang ia beli di minimarket dan semprotkan terlalu banyak.

Pagi itu, ketika aku bangun dan melihat laki-laki itu tertidur di kursi plastik yang terlalu pendek, kepala terkulai, dengan lengan kanan tergeletak di pangkuannya seperti benda mati, aku mengerti.

Ia menjawab sebagai Gilang. Semalaman. Ia membiarkan aku memanggilnya dengan nama laki-laki lain, dan ia menjawab dengan suara yang lembut, dan ia tidak bergerak sampai pagi.

Aku membisikkan maaf padanya. Ia tidak bangun. Atau ia pura-pura tidak bangun. Aku tidak tahu yang mana yang lebih buruk.

Di hari-hari berikutnya aku memperhatikan lengan kanannya. Ia menggerakkannya dengan hati-hati, seperti benda yang baru diperbaiki. Saat mengangkat galon di hari ketiga setelah aku pulang, wajahnya meringis sebentar, cepat sekali, lalu kembali datar. Aku pura-pura tidak melihat. Ia pura-pura tidak meringis.

Aku tahu kenapa lengannya sakit. Aku tidak tahu harus bilang apa tentang itu.


Aku pulang di hari kelima, dengan trombosit seratus dua puluh ribu, kaki yang masih lemas, dan rasa bersalah yang tidak tahu harus kuletakkan di mana.

Tapi ada rasa lain juga. Rasa yang lebih aneh, lebih hangat, yang tidak kuizinkan punya nama.

Mak ikut pulang ke Ciapus dan menginap seminggu. “Mak rék ngurus minantu Mak,” katanya pada siapa saja yang mau mendengar, termasuk tukang sayur, tukang galon, dan kucing tetangga. Mak mau mengurus menantu Mak.

Kali ini aku tidak mengunci pintu. Aku bahkan tidak menutupnya rapat. Mak masuk dan keluar kamarku sesukanya, membawa bubur, membawa jamu, membawa daun jambu rebus yang pahitnya sampai ke ubun-ubun, dan mengomeliku kalau aku tidak menghabiskannya.

“Ulah dibuang! Éta keur trombosit!”

“Pahit, Mak.”

“Hirup ogé pait. Inum!” Hidup juga pahit. Minum!

Aku meminumnya.

Setiap pagi Mak menyisir rambutku. Ia duduk di belakangku di tepi kasur dengan sisir kayu, menyisir pelan-pelan dari ujung ke pangkal, mengurai kusut-kusutnya tanpa sekali pun menjambak.

“Rambut Neng teh bagus. Hideung. Kandel. Sayang teu diurus,” gerutu Mak. Rambut Neng bagus. Hitam. Tebal. Sayang nggak diurus.

Tidak ada yang menyisir rambutku sejak Mama. Papa tidak pernah bisa; ia selalu bilang tangannya terlalu kasar untuk rambut anak perempuan. Aku duduk diam di bawah sisir Mak dan memejamkan mata, dan untuk beberapa menit setiap pagi, aku dua belas tahun lagi.

Mak duduk di tepi kasurku setiap sore dan bercerita. Tentang Cianjur, tentang tetangga-tetangganya yang menurutnya semuanya bodoh kecuali Bi Iyah, tentang padi Haji Dadang yang menurutnya ditanam terlalu rapat. Dan tentang anaknya. Selalu tentang anaknya.

“Waktu kelas tiga SD,” kata Mak suatu sore, sambil memijat telapak kakiku dengan minyak kayu putih, “Fajar pulang nyeker. Telanjang kaki. Sepatunya hilang. Mak marah. Itu sepatu satu-satunya, Mak beli dari jual ayam. Mak tanya ke mana. Dia nggak mau jawab. Seminggu dia ke sekolah nyeker, kakinya lecet-lecet, nggak mau ngaku.”

“Terus?”

“Terus Mak ketemu ibunya Ujang, temennya. Ujang yang pakai sepatu Fajar.” Mak menggeleng. “Ujang nggak punya sepatu. Mau dikeluarkan dari sekolah. Fajar kasih sepatunya. Terus dia bilang ke Ujang, jangan bilang siapa-siapa, nanti Mak marah.”

Mak tertawa, tapi matanya basah.

“Anak Mak itu, Neng, dari kecil kalau ngasih, nggak pernah bilang-bilang. Takut yang dikasih malu. Takut yang dikasih merasa utang.”

Aku memandangi langit-langit.

Takut yang dikasih merasa utang.

Sampo. Sup. Makam. Parsel. Payung kuning.


Pada hari ketiga, Mak masuk ke kamarku membawa cucian kering, dan berhenti di depan kursi tempat aku menyampirkan jaket abu-abu itu.

Mak mengangkatnya. Membaliknya. Memandangi kerahnya dari dekat.

“Ieu mah jaket jieunan Mak keur si Fajar!”

Ini jaket buatan Mak untuk Fajar!

Aku duduk tegak di kasur.

“Ieu, tingali.” Mak menunjuk kerahnya. “Miring. Mak jait peuting-peuting, make lampu cempor, panon Mak geus teu jelas. Mak inget pisan. Waktu manéhna mimiti kuliah.” Lihat. Miring. Mak jahit malam-malam pakai lampu teplok, mata Mak sudah nggak jelas. Mak ingat betul. Waktu dia pertama kuliah.

Aku memandangi jaket itu. Jaket yang kupakai sejak malam di kamar jenazah. Jaket yang kupeluk di ICU, di malam Papa meninggal. Jaket yang kupakai selama tiga puluh hari di balik pintu, yang kutarik rapat-rapat setiap kali menangis, yang tidak pernah kulepaskan bahkan saat tidur.

Kukira jaket Papa. Selama empat bulan, kukira itu jaket Papa.

Tidak berbau minyak kayu putih. Aku tahu itu sejak malam pertama. Bau sabun batang dan tanah sehabis hujan. Kerah yang dijahit miring. Aku tahu semuanya, dan aku memilih untuk tidak bertanya.

Malam di kamar jenazah itu. Seseorang menyampirkan jaket ke bahuku yang basah.

Seseorang.

“Neng?” Mak memandangku khawatir. “Naha? Pusing deui?”

“Nggak, Mak.” Suaraku aneh. “Nggak apa-apa.”

Aku mengambil jaket itu dari tangan Mak. Merogoh sakunya. Cincin tunangan dari Gilang masih ada di sana, di saku kanan, di balik ritsleting yang kututup malam itu di toilet rumah sakit. Aku mengeluarkannya. Lingkaran emas tipis dengan batu kecil, dingin di telapak tanganku.

Lalu aku melipat jaket itu. Rapi. Seperti melipat sesuatu yang berharga. Cincin Gilang kumasukkan ke kotak kecil bekas perhiasan imitasi dan kusimpan di laci, di samping foto Papa. Bukan dibuang. Disimpan. Ada bedanya, dan aku baru belajar bedanya.

Malamnya, ketika ia pulang dari lab, aku menunggunya di ruang tengah dengan jaket terlipat di pangkuanku.

“Ini,” kataku, menyodorkannya. “Punya kamu.”

Ia memandangi jaket itu. Lalu memandangku. Wajahnya tidak berubah, tapi telinganya mulai memerah.

“Iya,” katanya.

“Malam itu. Di kamar jenazah.”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang?”

Ia menerima jaket itu dengan dua tangan. “Kamu kedinginan,” katanya, seolah itu menjawab segalanya. Lalu, setelah jeda, dengan wajah datar dan suara yang sedikit terlalu cepat: “Tebak-tebakan. Jaket apa yang paling setia?”

Aku menatapnya.

“Jaket yang nggak dibalikin empat bulan.”

Itu jelek sekali. Itu salah satu lelucon terjelek yang pernah kudengar, dan aku sudah enam tahun membacakan lelucon jelek di udara.

Dari hidungku keluar bunyi. Pendek. Tidak bisa ditahan. Setengah dengusan, setengah sesuatu yang lain.

Bukan tawa. Belum tawa. Tapi lebih dekat dari yang pernah ada sejak Juni.

Ia membeku, memeluk jaket itu di dadanya, memandangku seperti orang yang baru melihat kecambah pertama menembus tanah.

Besok paginya ia memakai jaket itu ke lab. Kerahnya miring, lengannya sedikit kebesaran untuk badannya yang kurus. Ia tidak tahu aku memperhatikannya dari jendela, dan bahwa aku tiba-tiba merasa aneh melihat jaket itu di punggung orang lain, seperti melihat sesuatu milikku dipinjam. Padahal selama ini akulah yang meminjam.


Hari keenam, Mak bertekad mengajariku membuat sambal.

“Istri téh kudu bisa nyieun sambel,” katanya, menjejerkan cabai rawit di talenan seperti peluru. Istri itu harus bisa bikin sambal. “Mun teu bisa nyieun sambel, salaki kabur.”

“Kalau dia kabur gara-gara sambal, biar saja, Mak.”

Mak tertawa terbahak-bahak sampai hampir menjatuhkan cobek.

Sambal itu jadi. Merah menyala, berminyak, pedasnya bahkan membuat mataku perih hanya dari uapnya. Mak terlalu banyak memasukkan cabai karena, katanya, “orang Cianjur mah kuat”. Aku tidak berani mencicipinya.

Malamnya ia pulang dari lab dan Mak menyodorkan piring berisi nasi dan sambal itu. “Ieu sambel jieunan pamajikan manéh. Dahar!” Ini sambal buatan istrimu. Makan!

Ia memandangiku. Aku menggeleng pelan, mencoba memperingatkan. Ia tidak menangkap peringatanku, atau pura-pura tidak menangkap.

Ia makan. Satu suap. Dua suap. Wajahnya memerah, lalu memerah lebih dalam, lalu berkeringat. Matanya berair. Air mata mengalir di pipinya. Ia tetap makan.

“Pedes?” tanya Mak.

“Enak, Mak,” katanya dengan suara serak, menyeka mata dengan punggung tangan.

Ia menghabiskan semuanya. Lalu minum tiga gelas air berturut-turut dan duduk diam lama sekali dengan bibir yang bengkak.

Aku memandanginya dari seberang meja. Laki-laki ini menangis karena sambal yang aku buat, dan ia tetap memakannya, karena aku yang membuatnya.


Dua hari sebelum Mak pulang, ia memasang kawat nyamuk di semua jendela.

Bukan ia yang bilang. Mak yang bilang, sambil menyuapiku bubur. “Wengi manéhna balik ti rumah sakit, teu saré. Masangan kawat. Sadayana jandéla. Nepi ka subuh.” Malam dia pulang dari rumah sakit, nggak tidur. Pasang kawat. Semua jendela. Sampai subuh.

Aku memandang jendelaku. Kawat halus berwarna abu-abu terpasang rapi di bingkainya, dipaku dengan jarak yang sama persis di setiap sisi. Aku baru menyadarinya sekarang. Aku sudah lima hari tidur di kamar ini sejak pulang.

“Mak juga heran,” lanjut Mak, mengaduk bubur. “Anak Mak teh dari dulu memang nggak bisa tidur kalau ada yang dia jaga. Waktu Neng sebulan di kamar, dia juga nggak tidur di kamarnya. Tidur di tikar, di lantai, di depan pintu Neng. Sebulan, Neng. Tiap malam.”

Sendok di tangan Mak berhenti di udara.

Aku tidak bisa bergerak.

Tidak menangis jam dua. Laporan-laporan ke Kiki. Bunyi halaman buku yang dibalik di luar pintu. Bunyi napas yang kukira hujan.

Tikar. Di lantai. Di depan pintuku. Sebulan.

“Ah,” kata Mak, melihat wajahku. “Mak salah ngomong, nya? Ulah béja ka manéhna Mak nu ngabéjaan.” Mak salah ngomong, ya? Jangan bilang ke dia Mak yang kasih tahu.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak aku tinggal di rumah ini, aku tidur dengan pintu kamar terbuka. Bukan sedikit. Terbuka.

Aku ingin ia tahu, kalau ia lewat, bahwa ia tidak perlu tidur di lantai lagi.

Lewat tengah malam, aku mendengar langkah tanpa alas kaki di lorong. Pelan. Berhenti di depan pintuku yang terbuka. Lama. Lalu berjalan terus, ke arah ruang kerjanya, dan pintu ruang kerja itu ditutup dengan sangat hati-hati.

Aku berbaring dalam gelap, memandangi langit-langit, dan tidak tahu kenapa dadaku terasa penuh seperti ini. Seperti seseorang sudah mengisi gelas sampai bibirnya, dan aku harus diam sekali supaya isinya tidak tumpah.


Pagi terakhir Mak di Ciapus, kami sarapan bertiga. Mak bercerita tentang Haji Dadang, tentang sawah yang ditanam terlalu rapat, tentang kerbau tetangga yang masuk ke petak orang.

Lalu Mak meletakkan sendoknya dan memandangku dengan wajah serius.

“Neng,” bisiknya, mencondongkan badan. “Sawah Bapak téh—“

“Mak,” potongnya dari ujung meja. Datar. Cepat. “Sambal.”

Mak menutup mulut. Memandang anaknya. Memandangku. Lalu mengambil mangkuk sambal dan menyodorkannya padaku dengan senyum yang terlalu lebar.

“Sambel, Neng?”

Aku memandangi mereka berdua. Ibu dan anak, dengan wajah yang sama-sama terlalu tenang.

Sawah Bapak.