Chapter Eleven
Istri yang Baik, Versi Robot
POV: Rania
Aku menyetrika kaus kaki.
Itu terjadi di malam ketiga setelah aku keluar kamar. Aku tidak bisa tidur, seperti biasa, dan pukul satu dini hari aku menemukan diriku di ruang tengah dengan setrika panas dan keranjang cucian kering yang menggunung. Kemeja kotak-kotak. Celana bahan yang lututnya sudah mengilap. Sarung. Sapu tangan. Jas lab putih dengan noda tanah di saku. Lalu, karena semua itu sudah habis dan tanganku masih butuh sesuatu untuk dikerjakan, kaus kaki.
Dua belas pasang. Licin, rapi, terlipat seperti kertas origami.
Pukul setengah lima ia keluar dari ruang kerjanya dan berhenti di ambang pintu ruang tengah. Matanya pindah dari tumpukan pakaian ke wajahku, lalu ke tumpukan kaus kaki, lalu kembali ke wajahku.
“Terima kasih,” katanya.
Hanya itu. Ia tidak bertanya kenapa aku menyetrika kaus kaki pukul satu pagi. Ia tidak bilang aku tidak perlu melakukannya. Ia mengambil sepasang dari tumpukan, memakainya, dan berangkat ke lab dengan kaus kaki yang kaku seperti kerupuk.
Siangnya Dodi datang, membuka sepatu di teras, dan menjerit kecil. “Jar, kaus kaki lo kenapa berdiri sendiri?”
Itulah aku di minggu-minggu pertama di luar kamar. Istri yang baik. Aku sudah berjanji, dan aku menepati janji dengan cara satu-satunya yang kutahu: mengerjakan semuanya, sesempurna mungkin, tanpa merasakan apa pun.
Aku mengepel lantai dua kali sehari. Aku mencuci gorden. Aku menggosok kerak di pojok kamar mandi belakang dengan sikat gigi bekas sampai jariku lecet. Aku menulis label di setiap toples di dapur dengan huruf kapital yang rapi: GULA, GARAM, KOPI, MERICA, KETUMBAR, TERASI (JANGAN DIBUKA DI DEKAT DODI). Yang terakhir itu satu-satunya label yang tidak sepenuhnya robot. Dodi sudah dua kali membukanya dan pingsan secara dramatis di lantai dapur.
Aku memasak sarapan. Aku memasak makan malam. Rasanya biasa saja; Mama tidak sempat mengajariku banyak hal, dan Papa lebih pandai menanam sayur daripada memasaknya. Ia makan semuanya, setiap butir, tidak pernah mengomentari asin atau hambar.
“Terima kasih,” katanya, setiap kali.
Setiap kali. Untuk sepiring nasi goreng yang terlalu kering. Untuk kemeja yang kusetrika dengan lipatan miring. Untuk segelas air putih yang kuletakkan di meja tanpa ditanya. Aku tidak tahu ada laki-laki yang bisa mengucapkan dua kata itu sebanyak itu tanpa terdengar dibuat-buat.
Suatu malam aku bertanya, dengan nada sekretaris yang mencatat agenda, “Besok mau makan apa?”
Ia mengangkat wajah dari piring. “Apa saja yang kamu mau.”
“Aku nggak mau apa-apa.”
Ia berpikir lama sekali, seperti sedang memecahkan soal ujian. “Kalau begitu… tempe.”
“Tempe apa?”
“Tempe… yang ada.”
Besoknya aku membuat tempe goreng. Ia makan tujuh potong dan bilang terima kasih tujuh kali.
Ketika menyetrika jas labnya, aku menemukan secarik kertas terlipat di saku dada. Tulisan tangannya, rapi dan kecil: 150 ml mendidih + 50 ml dingin. Gula 1½ sdt. Cek di punggung tangan. Kukira catatan eksperimen. Orang lab memang aneh; mereka mencatat segalanya, bahkan larutan. Aku melipatnya kembali dan memasukkannya ke saku yang sama.
Aku memanggilnya kamu. Tidak pernah dengan nama. Bukan karena aku lupa namanya; kali ini aku tidak lupa. Tapi menyebut nama seseorang berarti mengakui ia ada, dan aku belum siap mengakui apa pun.
Ada hal-hal kecil di rumah ini yang tidak kupikirkan.
Air di kamar mandi belakang selalu hangat setiap pagi. Pemanas di kamar mandi dalam kamarku masih rusak, jadi aku mandi di belakang, dan setiap pukul enam, ember besar di sana sudah terisi air yang hangatnya pas. Kukira pemanas di kamar mandi belakang berfungsi. Aku tidak pernah mencari tombolnya.
Ponselku akhirnya kucas di hari pertama aku keluar kamar. Sejak itu aku sering lupa ia ada. Aku meninggalkannya di meja makan, di kursi teras, di samping rice cooker, dengan baterai tiga persen. Paginya, selalu, ponsel itu ada di tempat yang sama, layar menghadap ke bawah seperti yang kutinggalkan, dengan baterai penuh. Kukira ponselku memang awet.
Di dapur ada radio kecil yang biasa ia nyalakan sambil memasak. Bukan Swara Pakuan; stasiun lain, lagu-lagu lawas dan dangdut yang membuat Dodi bergoyang sambil mengupas bawang. Dua kali dalam seminggu itu, aku melihatnya melompat dari kompor ke radio dan memutar kenopnya dengan tergesa-gesa, tepat ketika denting piano tertentu mulai terdengar. Aku tidak sempat mendengar lagunya. Kukira ia tidak suka lagu itu. Ada orang-orang yang alergi lagu tertentu.
Di dinding kamarku, di atas lemari, ada sebatang paku yang tidak menggantung apa-apa. Aku baru benar-benar melihatnya minggu itu, saat mengelap debu. Pasti dulu ada sesuatu di sana. Aku tidak bertanya apa.
Di samping kulkas tergantung kalender dari toko pupuk, dengan gambar petani tersenyum memeluk karung. Di beberapa tanggal ada titik pensil kecil, nyaris tidak terlihat. Kukira jadwal lab.
Aku melihat semuanya. Aku tidak bertanya apa pun. Robot tidak bertanya.
Hari Sabtu, Bu RT datang mengantarkan undangan arisan. Undangan itu sebenarnya bisa dititipkan lewat pagar, tapi Bu RT memilih mengetuk pintu, masuk, duduk, dan memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan mata berbinar.
“Ini Neng yang penyiar radio itu, ya? Yang Pagi Riang? Yang nikahnya di ICU?” Ia menepuk dadanya sendiri. “Aduh, masyaallah. Aslinya lebih geulis dari suaranya. Ibu kira penyiar radio mah mukanya biasa saja, makanya kerjanya di radio.”
“Terima kasih, Bu,” kataku. Datar.
“Bulan madunya ke mana, Neng?”
Dari dapur terdengar sesuatu jatuh. Dodi, yang sedang mencuci piring, tersedak air liurnya sendiri.
“Belum, Bu,” kataku. Masih datar. Bu RT mengangguk-angguk penuh pengertian, menghabiskan dua gelas teh dan sepiring pisang goreng, lalu pulang membawa bahan gosip untuk satu kompleks selama sebulan.
Cincin itu jatuh pada hari Rabu.
Aku sedang mencuci muka di wastafel kamar mandi dalam. Sabun di tanganku, air mengalir, dan cincin perak yang longgar itu meluncur dari jari manisku seperti ikan kecil yang akhirnya menemukan jalan pulang. Bunyinya ting sekali di porselen, berputar dua kali di sekitar lubang saluran, lalu hilang.
Aku memandangi lubang itu lama sekali.
Aku tidak menangis. Aku hanya berdiri di sana dengan wajah penuh sabun, dan di dalam diriku ada sesuatu yang jatuh juga, lebih dalam dari saluran air itu. Cincin itu tidak berarti apa-apa bagiku. Aku tidak mencintai laki-laki yang memasangkannya. Tapi cincin itu satu-satunya benda yang menandai bahwa malam di ICU itu benar-benar terjadi, bahwa Papa benar-benar ada di sana, tertawa untuk terakhir kalinya.
Lalu aku teringat catatan di hari kedua. Kalau butuh apa-apa, ketuk dinding. Aku dengar.
Aku mengangkat tangan dan mengetuk dinding kamar mandi. Tiga kali.
Tidak sampai sepuluh detik kemudian, ada ketukan di pintu kamarku. “Ra? Ada apa?”
Aku membuka pintu dengan wajah masih basah. “Cincinnya jatuh,” kataku. “Ke saluran.”
Ia tidak bilang kok bisa, tidak bilang hati-hati makanya. Ia hanya mengangguk, pergi, dan kembali lima menit kemudian membawa kunci inggris, ember, senter, dan Dodi.
“Gue lagi makan, Jar,” keluh Dodi, masih mengunyah.
“Pegang senternya.”
Mereka membongkar pipa di bawah wastafel sambil berbaring telentang di lantai kamar mandi, kaki mencuat keluar pintu. Dodi menyorotkan senter ke segala arah kecuali ke tempat yang dibutuhkan. Air kotor menetes ke kacamatanya. Ia mengeluh soal bau, soal gelap, soal nasib laki-laki lajang yang harus membongkar pipa di rumah tangga orang.
“Gue kan saksi nikah, Jar, bukan tukang ledeng.”
“Senternya, Dod. Ke kiri.”
“Ini kiri.”
“Itu kirimu. Kiriku.”
Butuh empat puluh menit. Lalu ia keluar dari bawah wastafel dengan rambut basah dan kemeja kotor, dan di telapak tangannya, di antara gumpalan rambut dan lendir abu-abu, ada lingkaran perak kecil.
Ia mencucinya di keran dapur dengan sabun, lama sekali, menggosok setiap lekuknya dengan ibu jari. Mengeringkannya dengan ujung kausnya sendiri. Lalu menyerahkannya padaku.
Jari-jari kami bersentuhan. Hanya sebentar. Tangannya dingin karena air, kasar di ujung-ujung jari. Aku menarik tanganku lebih cepat dari yang perlu.
“Mau dikecilkan?” tanyanya. “Biar nggak jatuh lagi. Ada tukang perak di Pasar Bogor.”
Aku memandangi cincin itu di telapak tanganku. Lingkaran polos, tanpa batu, sedikit tergores sekarang.
“Nggak usah,” kataku.
Aku tidak tahu kenapa aku menolak. Seharusnya mudah. Seharusnya aku bilang iya dan selesai. Tapi kalau cincin itu dikecilkan, ia akan pas, dan kalau ia pas, ia akan tinggal di jariku seolah memang tempatnya di sana.
Ia mengangguk. Tidak bertanya lagi.
“Terima kasih,” kataku. Itu pertama kalinya aku mengucapkannya padanya dengan suara, bukan dengan tulisan di balik kertas.
Ia diam sebentar, seperti tidak yakin mendengar dengan benar. “Sama-sama, Ra.”
Dari kamar mandi, Dodi berteriak, “Gue juga, kan? Gue juga dapet makasih, kan?”
“Makasih, Dodi,” kataku.
Dodi keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, kacamata berembun, dan wajah paling bahagia yang pernah kulihat sejak Juni. Malam itu, kata dia keesokan harinya, ia mengumumkannya di grup WhatsApp lab. Tiga puluh dua orang membalas dengan emoji tepuk tangan, dan satu orang bertanya apa hubungannya pipa wastafel dengan riset benih.
Sore itu, untuk pertama kalinya, aku berjalan mengelilingi halaman.
Halamannya lebih luas dari yang kukira. Polybag hitam berbaris rapi di atas rak bambu, ratusan jumlahnya, masing-masing berisi tanaman muda dengan daun yang berkilat sehabis disiram. Di setiap barisan ada papan kayu kecil dengan tulisan tangan yang kukenal: huruf-huruf kecil yang condong ke kanan.
Aku membaca papan-papan itu satu per satu.
CABE PAGI RIANG.
TOMAT KABAR KOTA.
TERONG LAGU LAWAS.
KANGKUNG SAPA PENDENGAR.
Aku berhenti. Itu nama-nama segmen acaraku. Pagi Riang, Kabar Kota, Lagu Lawas, Sapa Pendengar. Ia menamai cabai dan tomatnya dengan nama-nama segmen siaranku.
Aku berdiri di sana lama, menunggu sesuatu di kepalaku tersambung. Lalu aku menggeleng. Semua orang di Bogor mendengar Swara Pakuan. Tukang ojek, ibu-ibu pasar, satpam bank. Mungkin ia hanya kehabisan ide nama. Mungkin itu strategi dagang: orang Bogor lebih suka membeli cabai yang namanya akrab di telinga.
Ya. Pasti itu.
Dalam perjalanan kembali ke dalam, aku lewat di depan ruang kerjanya. Pintunya terbuka setengah. Aku belum pernah melihat ke dalam.
Ruangan itu sempit sekali. Lebih sempit dari kamar kos mana pun yang pernah kulihat. Meja penuh tumpukan kertas dan cawan petri. Rak berisi kotak-kotak benih berlabel. Sebuah mikroskop tua. Dan di lantai, di celah sempit antara meja dan dinding, sebuah kasur lipat tipis, warnanya pudar, dengan bantal yang kempis dan sarung terlipat di ujungnya. Kasur itu terlalu pendek. Kalau ia berbaring di sana, kakinya pasti mencuat keluar.
Aku berdiri di ambang pintu itu, memandangi kasur yang terlalu pendek itu, sementara di kamarku ada kasur besar dengan seprai biru yang masih kaku karena baru.
Sesuatu bergerak di dadaku. Kecil. Seperti seseorang mengetuk pintu dari dalam, sekali saja, terlalu pelan untuk benar-benar didengar.
Aku menutup pintu ruang kerja itu pelan-pelan, dan berjalan pergi.
Malamnya ponselku berdering. Nama di layar membuatku menegakkan punggung.
Tante Ratna.
“Rania.” Suara Tante terdengar lelah. “Minggu depan empat puluh hari papamu. Dua hari sebelumnya empat puluh hari Gilang. Kamu harus datang. Dua-duanya.”
Aku menggenggam ponsel itu erat-erat, sampai ujung jariku memutih.
“Dan ada yang harus Tante bicarakan,” lanjut Tante, lebih pelan. “Soal rumah.”
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot reading
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh