Chapter Thirty
Lupakan
POV: Fajar
Lupakan.
Aku mencobanya. Aku sungguh-sungguh mencoba.
Aku mencoba melupakannya di lab, saat mengamplas biji-biji tua Prof yang masih belum mau tumbuh. Aku mencoba melupakannya di Si Siput, saat terjebak macet di Dramaga. Aku mencoba melupakannya setiap malam, di kasur, dengan punggung menghadap ke tengah.
Aku tidak bisa. Itu satu-satunya permintaan yang pernah ia ajukan padaku, dan aku tidak bisa memenuhinya.
Tapi aku bisa berpura-pura. Aku sudah enam tahun pandai berpura-pura.
Aku memikirkan kenapa ia melakukannya.
Bukan karena aku. Aku tahu itu. Aku tidak sebodoh itu. Perempuan yang kehilangan tunangan dan ayah dalam tiga hari, yang bersumpah tidak akan mencintai lagi, tidak tiba-tiba mencium laki-laki biasa dengan kemeja kotak-kotak pudar di bawah bianglala pasar malam karena cinta.
Karena terima kasih. Itu yang paling masuk akal. Dia baru tahu soal sawah. Dia baru berdiri di pematang dan mendengarku berpamitan pada Bapak. Dia baru tahu soal tanah di bawah jendelanya. Dia terharu. Dia merasa berutang. Dan perempuan yang merasa berutang kadang melakukan hal-hal yang tidak ia maksud.
Atau karena kasihan. Laki-laki yang kehilangan sawah bapaknya, mimpi kecilnya, berdiri di bawah lampu bianglala dengan boneka ungu jelek di tangan. Siapa yang tidak kasihan?
Kalau kamu minta, dia akan merasa berutang.
Aku tidak meminta. Tapi mungkin aku tetap membuatnya berutang. Dengan sup. Dengan sawah. Dengan semua hal yang tidak pernah ingin kuceritakan tapi akhirnya tetap ia ketahui. Mungkin setiap kebaikan yang ia temukan adalah satu utang lagi, ditumpuk di pundaknya, sampai ia merasa harus membayar dengan sesuatu.
Itu bukan yang Prof inginkan. Itu bukan yang aku inginkan.
Jadi aku melupakannya. Atau berpura-pura melupakannya. Dan aku memastikan tidak ada lagi utang yang ditumpuk.
Malam pertama setelah Cianjur, aku memungut Guling Perbatasan dari lantai.
Guling itu sudah sebulan di sana, berdebu di satu sisi, tempat ia jatuh di awal Maret dan tidak pernah dipungut siapa pun. Aku mengibaskannya, menepuk-nepuknya sampai debunya hilang, dan meletakkannya kembali di tengah kasur. Membentang dari kepala sampai kaki. Seperti tembok.
Ia keluar dari kamar mandi dan melihatnya. Berhenti di ambang pintu.
Aku tidak memandangnya. Aku sedang membereskan bantalku.
“Biar kamu nyaman,” kataku.
Ia diam lama. Lalu berbaring di sisinya, memunggungi guling itu, memunggungiku. Tidak bilang apa-apa.
Malam berikutnya, aku memindahkan bantalku kembali ke ruang kerja.
Aku melakukannya siang hari, ketika ia sedang ke pasar. Bantal, sarung, jam beker kecil. Kasur lipat yang terlalu pendek kugelar lagi di celah sempit antara meja dan dinding.
Ketika ia pulang dan melihat sisi kanan kasur yang kosong, ia tidak bertanya. Ia hanya berdiri di ambang pintu kamar lama, memegang kantong belanjaan, lalu meletakkannya di dapur. Malamnya ia masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.
Tidak dikunci. Aku tahu, karena aku tidak mendengar bunyi klik. Tapi ditutup. Untuk pertama kalinya sejak bulan Oktober, ditutup.
Aku berdiri di lorong di depan pintu itu lama sekali, dengan kaki telanjang, seperti di malam-malam pertama. Aku tidak mengetuk. Lalu aku pergi ke ruang kerja dan berbaring di kasur lipat dengan kaki mencuat keluar.
Kebiasaan-kebiasaan lain tidak berubah. Aku memastikannya.
Pukul setengah lima, air dimasak dan dituang ke ember. Teh disiapkan dengan dua pertiga air mendidih dan sepertiga air dingin. Ponselnya, yang ia tinggalkan di meja makan dengan baterai empat persen, kucas dan kukembalikan sebelum subuh. Bunga matahari dari Rumah Matahari di meja makan setiap Jumat.
Semua yang dulu kulakukan sebelum ia tahu, tetap kulakukan setelah ia tahu. Aku tidak mau ada yang berubah. Kalau berubah, ia akan berpikir itu karena ciuman itu. Karena lupakan. Ia akan merasa bersalah. Dan aku tidak mau ia merasa apa pun yang berat karena aku.
Ia juga tidak berubah. Ia tetap memasak. Tetap menyiram tomat. Tetap memberi makan Si Kaldu. Tetap duduk di teras setelah makan malam dengan dua gelas teh, walaupun sekarang kami duduk di dua ujung bangku, dan jarak di antara kami cukup untuk satu orang lagi.
Suatu malam, di teras, dia bicara tanpa memandangku.
“Mas nggak marah?”
“Marah kenapa?”
Ia tidak menjawab. Ia memandangi tehnya.
“Nggak,” kataku. “Aku nggak pernah marah sama kamu, Ra.”
Itu benar. Aku tidak tahu caranya. Dia mengangguk pelan, memandangi tehnya, dan aku melihat bahunya turun sedikit, seperti orang yang mendengar jawaban yang benar tapi bukan jawaban yang ia tunggu. Aku tidak tahu jawaban apa yang ia tunggu. Aku tidak bertanya. Aku tidak pernah bertanya.
Tapi ada satu hal baru.
Ia sering menulis.
Di meja kecil di bawah jendela kamarnya, malam-malam, dengan pintu kamar yang sekarang ditutup tapi tidak rapat, aku melihatnya dari lorong: membungkuk di atas sebuah buku bersampul biru, pulpen di tangan, menulis dengan cepat, kadang berhenti lama, kadang menutup buku itu tiba-tiba dan menyimpannya di laci ketika mendengar langkahku.
Buku siarannya. Aku mengenalinya. Buku yang kupindahkan ke tas kecilnya di hari terakhir di Rumah Matahari, setengah terisi catatan-catatan rundown lama.
Dia menulis lagi.
Mungkin naskah siaran. Mungkin daftar lagu. Mungkin catatan-catatan untuk Pagi Riang, untuk suatu hari nanti ketika ia siap kembali ke kursi yang dijaga Pak Bonar. Aku tidak tahu. Aku tidak mau bertanya. Tapi itu pertanda baik. Perempuan yang bersumpah tidak akan pernah memegang mikrofon lagi, menulis di buku rundown siarannya setiap malam.
Suatu siang, ketika ia sedang di halaman, aku melihat buku itu tergeletak di meja makan sebentar, tertutup. Aku tidak membukanya. Aku hanya memperhatikan halaman-halamannya dari samping. Hampir penuh. Mungkin tinggal beberapa lembar kosong.
Sore itu aku ke toko alat tulis di dekat kampus dan mencari buku yang sama persis. Sampul biru, tebal, bergaris. Tidak ada yang berlogo Swara Pakuan, tentu saja; itu merchandise radio. Tapi ada yang biru dengan ukuran sama dan kertas yang sama.
Aku meletakkannya di meja kecil di bawah jendela kamarnya, di samping foto Prof, tanpa kata. Seperti karet rambut. Seperti semua hal lain.
Aku tidak tahu apa yang akan ia tulis di dalamnya. Aku tidak perlu tahu. Yang penting ia terus menulis.
Esok paginya, aku melihat buku biru baru itu di tangannya, di meja makan, saat sarapan. Ia memegangnya dengan dua tangan, membolak-balik sampulnya, lalu memandangku dari seberang meja. Lama.
Aku menyendok nasi dan pura-pura sibuk dengan tempe.
“Mas,” katanya.
“Hm?”
Ia membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Lalu memasukkan buku itu ke pangkuannya, di bawah meja, dan tidak bilang apa-apa lagi.
Aku tidak tahu apa artinya pandangan itu. Aku tidak berani menebak.
Aku menghitung.
Malam-malam di kasur lipat, dengan kaki mencuat keluar, aku menghitung tiga hal yang diminta Prof di ranjang nomor empat.
Satu. Jangan minta dia mencintaimu.
Aku tidak pernah meminta. Tapi aku bertanya boleh di teras. Dan ia mencium aku di bawah bianglala. Dan sekarang ia menutup pintu kamarnya. Mungkin aku sudah melanggar yang pertama, tanpa sadar, dengan cara yang tidak kumengerti.
Dua. Jaga dia sampai dia bisa tertawa lagi.
Sudah. Si Kaldu. Bulan Februari. Tawa yang jelek itu, keras sampai ia harus berpegangan di kusen pintu. Dan sejak itu, berkali-kali. Di dapur. Di teras. Di bawah selimut ketika Mak menelepon pukul enam pagi.
Sudah. Syarat kedua sudah terpenuhi.
Tiga. Kalau suatu hari dia ingin pergi, lepaskan.
Aku memandangi langit-langit ruang kerja yang retak di sudutnya. Aku memikirkan pintu kamarnya yang ditutup. Guling Perbatasan. Lupakan.
Belum. Dia belum bilang ingin pergi.
Tapi aku mulai bertanya-tanya apakah ia akan pernah mengatakannya, atau apakah ia akan terlalu baik untuk mengatakannya. Perempuan yang merasa berutang tidak akan pergi. Perempuan yang merasa berutang akan tinggal, dan tersenyum, dan memasak, dan duduk di ujung bangku teras dengan teh hangat, seumur hidup, membayar sesuatu yang tidak pernah kuminta.
Itu yang paling kutakutkan. Bukan ia pergi. Ia tinggal karena utang.
Suatu malam di akhir April, aku tidak pulang langsung dari lab.
Aku duduk di rumah kaca riset, di antara rak-rak bibit dan kotak-kotak benih, dengan Kotak Benih Prof di pangkuanku. Lampu tanam berwarna ungu-merah menyala di atas kepala. Pemanas tua di pojok berdengung pelan.
Aku membuka kotak itu. Amplop-amplop berlabel tulisan tangan Prof. Tahun demi tahun. Dan di dasarnya, amplop paling tua, kertasnya kecokelatan dan rapuh.
Bunga pertama Laras. Jangan dibuang.
Prof memberikan biji-biji ini pada perempuan yang menganggapnya terlalu pendiam. Tanpa surat. Tanpa kata. Dan perempuan itu menanamnya, dan ketika bunganya mekar, ia akhirnya mau melihat wajah Prof.
Dia menceritakannya padaku. Bulan lalu, di teras. Papa bilang, kadang yang paling sabar itu yang paling lama dilihat.
Aku sudah sabar. Sembilan bulan. Enam tahun. Aku tidak keberatan sabar seumur hidup.
Tapi bagaimana kalau kesabaranku justru yang membuatnya terjebak?
Aku memeluk Kotak Benih itu dan menunduk, dan untuk pertama kalinya sejak Bapak meninggal, aku menangis dengan suara. Di rumah kaca yang kosong, di antara benih-benih yang tidur, tidak ada yang mendengar.
Pintu rumah kaca berderit.
Aku buru-buru mengusap mata dengan lengan kemeja. Di ambang pintu, dua sosok membeku dalam cahaya lampu tanam yang ungu.
Dodi. Dan Kiki.
Bergandengan tangan.
Kami bertiga saling memandang dalam diam yang sangat panjang. Pemanas tua berdengung. Di luar, jangkrik berbunyi.
Kiki yang pertama melepaskan tangan Dodi, cepat sekali, seperti memegang setrika panas. “Ini bukan seperti yang lo kira.”
“Kita lagi… riset,” kata Dodi.
“Riset apa?” tanyaku.
“Riset… fotosintesis,” kata Kiki. “Malam-malam.”
“Fotosintesis butuh cahaya matahari.”
“Lampu tanam!” Dodi menunjuk ke atas dengan putus asa. “Lampu tanam, Jar! Ini kan fungsinya!”
Aku memandangi mereka. Dodi dengan kemeja yang kancingnya salah pasang. Kiki dengan lipstik yang sedikit miring. Lalu aku memandang Kotak Benih di pangkuanku, dan mataku yang masih basah, dan menyadari mereka juga memandangi mataku.
“Lo nangis, Jar?” tanya Dodi pelan.
“Lampu tanam,” kataku. “Silau.”
Kiki memandangiku lama. Ia tidak percaya. Tapi ia tidak bertanya. Ia malah duduk di bangku di sebelahku dan menyenggol bahuku pelan.
“Jangan bilang Rania,” bisiknya. “Soal kita. Belum. Gue mau bilang sendiri.”
“Jangan bilang Mbak Rania juga soal lo nangis,” kata Dodi. “Gue tahu lo nggak mau.”
Kami bertiga duduk diam di rumah kaca itu, di bawah lampu tanam ungu, masing-masing menyimpan rahasia yang lain.
Awal Mei, pagi hari, aku membaca prakiraan cuaca di ponsel sebelum berangkat. Badai. Angin kencang. Hujan deras mulai sore sampai malam. Ada peringatan dini untuk wilayah Bogor.
Rumah kaca riset bocor di dua tempat sejak bulan lalu. Kalau badai datang, atapnya mungkin tidak kuat. Dan di dalamnya, di rak paling atas, Kotak Benih Prof.
Aku memasukkan ponsel ke saku dan berangkat ke lab tanpa memeriksa baterainya. Di layar, sebelum mati karena ditekan saku, angka di pojok kanan atas menunjukkan tiga persen.
Semalam aku lupa mengecasnya. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku memikirkan baterai ponselku sendiri. Aku ingat mengecas ponselnya. Aku lupa ponselku sendiri.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan reading
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh