Chapter Thirty Three

Bunga Matahari di Rumah Papa

POV: Rania

“Lo takut kehilangan dia?”

Kiki duduk di seberangku di warung bakso dekat studio, sendok menggantung di udara, menatapku dengan mata yang tidak sedang bercanda.

Aku sudah menceritakan semuanya. Badai. Ponsel yang mati. Teriakan di bawah hujan. Semua yang kucintai mati. Handuk. Pintu yang kututup. Langkah kaki yang berhenti di depannya dan tidak mengetuk.

“Iya,” kataku.

“Ran.” Kiki meletakkan sendoknya. “Lo udah kehilangan dia kalau lo diem terus.”

Aku memandangi kuah bakso yang mulai dingin.

“Lo pikir dia ngerti maksud lo? Semua yang kucintai mati?“ Kiki menggeleng. “Laki lo itu pinter, Ran, tapi dia bego. Dia pasti mikir lo lagi ngomongin Gilang. Atau bokap lo. Dia nggak bakal mikir itu tentang dia. Dia nggak pernah mikir apa pun itu tentang dia.”

Aku tahu Kiki benar. Aku melihat wajahnya di bawah hujan malam itu. Wajah seseorang yang baru mendengar konfirmasi atas sesuatu yang sudah lama ia takutkan. Bukan wajah seseorang yang baru saja mendengar pengakuan cinta.

“Terus aku harus gimana, Ki?”

“Bilang.”

“Aku nggak bisa.” Suaraku pecah. “Tiap aku mau bilang, mulutku berhenti. Kayak… kayak draf SMS yang nggak pernah selesai.”

Kiki memandangku lama. Lalu matanya melebar, pelan, seperti lampu yang dinyalakan satu per satu.

“Ran,” katanya. “Kalau lo nggak bisa bilang langsung… bilang dengan cara dia bilang ke lo.”

Aku tidak mengerti.

“Enam tahun dia ngomong sama lo lewat radio.” Kiki mencondongkan badan. “Sekarang giliran lo.”


Tante Ratna setuju. Lebih dari setuju.

“Akhirnya,” katanya di telepon, dengan nada orang yang sudah menunggu bertahun-tahun. “Akhirnya ada yang punya otak di rumah tangga kalian.”

Rencananya sederhana. Tanggal empat belas Juni, setahun pernikahan kami. Pagi Riang kembali untuk satu pagi saja. Pukul enam sampai sembilan. Aku di kursi itu, kursi yang dijaga Pak Bonar selama setahun, di depan mikrofon. Dan aku akan bicara pada Pak Tani, di udara, di depan seluruh kota. Dengan cara yang sama ia bicara padaku selama enam tahun.

Ia selalu mendengarkan. Setiap pagi, dengan earphone, di ruang kerja. Ia akan mendengarkan pagi itu juga.

“Pak Bonar harus setuju dulu,” kata Kiki.

Pak Bonar setuju dalam tiga detik, lalu menangis selama sepuluh menit.

Ia duduk di ruangannya di Swara Pakuan, di balik meja yang penuh tumpukan kertas, memandangiku dengan mata merah, mengelap kacamata dengan ujung dasi untuk kesekian kalinya.

“Kursimu,” katanya, suaranya serak. “Kursimu nggak pernah saya kasih orang, Rania. Direktur sudah tiga kali minta. Saya bilang rusak.”

“Aku tahu, Pak. Kiki cerita. Makasih.”

Pak Bonar menggeleng. “Bukan saya yang harus kau terima kasihi.” Ia meletakkan kacamatanya di meja. “Suamimu datang ke sini, bulan Juni tahun lalu. Waktu kau masih di kamar, belum keluar. Dia berdiri di depan meja ini, pakai kemeja kotak-kotak, mukanya kayak orang belum tidur seminggu. Dia minta tolong. Katanya, jangan berikan kursinya ke orang lain, Pak. Kalau suatu hari dia siap, dia butuh tempat untuk pulang.“

Aku menutup mulut dengan tangan.

Bulan Juni. Seminggu setelah akad. Ketika aku masih berbaring menghadap dinding di kamar tanpa jam, dan tidak tahu apakah akan pernah keluar lagi. Ia sudah memikirkan tempat untukku pulang. Ia sudah menjaganya.

“Itu yang bikin saya nangis kelima kalinya bulan itu,” kata Pak Bonar. “Dan sekarang keenam.”


Aku mulai pergi ke Rumah Matahari setiap hari.

Bukan untuk bersedih. Untuk bekerja. Rumah itu sekarang atas namaku, lunas, milikku, dan aku ingin ia hidup lagi. Aku membuka jendela-jendelanya. Aku menyapu lantai tegelnya. Aku mencuci gorden-gorden Mama yang sudah setahun berdebu.

Tante datang di hari kedua, membawa kemoceng dan wajah yang pura-pura galak.

“Kamu nyapu kayak orang nulis surat cinta,” katanya. “Pelan-pelan. Sudut-sudutnya dilewatin.”

Lalu ia mengambil sapu dari tanganku dan menyapu sendiri, dan setelah selesai, ia berdiri di tengah ruang tamu, memandangi sandal Papa yang masih di rak, dan berkata pelan, “Papamu pasti senang lihat rumah ini dibuka lagi.”

Ia datang setiap hari setelah itu. Kadang menyapu, kadang hanya duduk di teras mengomentari cara Pak Jaja memangkas rumput. Aku tidak pernah memintanya. Ia juga tidak pernah bilang kenapa ia datang.

Dan aku menanam.

Di halaman depan, di antara barisan bunga matahari Papa, ada satu petak tanah kosong, bekas bunga-bunga yang sudah dipanen. Aku mengambil amplop cokelat kecil dari tas. Rania, 27. Tanam kalau sudah mau.

Aku sudah mau.

Pak Jaja, tukang kebun langganan Papa dulu, yang sekarang kubayar seminggu sekali untuk membantu, memperhatikanku menggali lubang-lubang kecil dengan sekop.

“Neng mau bunganya menghadap ke mana?”

“Ke rumah,” kataku. “Biar kalau aku di teras, aku lihat mukanya.”

Pak Jaja menggeleng sambil tersenyum. “Atuh jangan di sini, Neng. Di sini mah sebelah timur rumah. Bunga matahari mah selalu menoleh ke timur, ke arah matahari terbit. Kalau ditanam di timur rumah, Neng bakal lihat punggungnya terus.” Ia menunjuk ke sisi lain halaman. “Kalau mau bunganya menghadap rumah, tanamnya di sebelah barat. Biar pas menoleh ke timur, mukanya pas ke arah Neng.”

Aku membeku dengan sekop di tangan.

Jendela kamarku di Ciapus menghadap barat. Ke halaman samping. Dua belas bunga matahari ditanam di bawahnya, di malam pertama, di bawah hujan.

Dan setiap pagi, ketika aku membuka gorden, mereka menghadap ke arahku.

Pasti kebetulan.

Bukan kebetulan. Tidak pernah kebetulan. Ia anak petani yang mengerti tanaman lebih baik dari ia mengerti manusia. Ia tahu ke mana bunga matahari menoleh. Ia memilih tempatnya, di malam pertama, ketika aku baru saja mengunci pintu di depan wajahnya.

Supaya setiap pagi, ketika aku membuka mata, ada sesuatu yang memandangku.

Pak Jaja memandangiku dengan heran ketika aku duduk di tanah dan menangis sambil memeluk sekop.


Aku punya rencana lain. Rencana yang hanya diketahui Tante, Dodi, dan Pak Jaja.

Halaman belakang Rumah Matahari luas, lebih luas dari halaman depan. Dulu Papa menanam sayur di sana. Sekarang kosong, ditumbuhi rumput liar setinggi lutut.

Aku menggambar denahnya di kertas, sambil mengingat cerita Mak di balai-balai bambu di Cianjur. Di sini pembibitan. Di sini rumah kaca kecil. Di sini saung buat Mak.

Tante menyumbang uang tabungan pensiunnya, lebih banyak dari yang seharusnya, dan tidak mau menerima penolakan. Aku menyumbang gaji siaranku yang tidak terpakai selama setahun, ditambah perhiasan Mama yang selama ini kusimpan di lemari. Dodi menyumbang tenaga, dan jaringan tukang yang ia kenal di kampus.

Dan Pak Jaja membuat papan kayu. Papan sederhana, dicat hijau, hijau daun padi umur tiga minggu, dengan tulisan putih yang kupilih sendiri:

KEBUN BENIH DUA BAPAK.

Dodi membantu memasang rangka rumah kaca kecil di sudut halaman. Ia bekerja keras, lebih keras dari yang pernah kulihat, tapi wajahnya aneh. Setiap kali aku menyebut hari jadi atau kejutan, ia memalingkan muka dan sibuk dengan baut.

“Dod, kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa, Mbak. Capek.”

“Kamu kayak orang nyimpen rahasia.”

Dodi menjatuhkan obengnya. “Gue? Rahasia? Gue nggak pernah nyimpen rahasia. Gue orangnya transparan. Kayak plastik.”

Aku memicingkan mata. Tapi aku terlalu sibuk untuk mendesak.


Ia juga sibuk.

Sejak awal Mei, ia sering pulang terlambat. Membawa map-map tebal. Menelepon dengan suara pelan di teras. Pergi ke kampus di hari Sabtu. Ketika aku bertanya, ia bilang urusan berkas.

Aku tahu urusan berkas apa. Sidang S2-nya. Dodi bilang tesisnya hampir selesai, sidangnya awal Juni. Tentu saja ia sibuk. Tentu saja ia membawa map-map tebal dan pulang terlambat dan menelepon dosen pembimbing di teras.

Aku tersenyum setiap kali melihatnya membungkuk di meja makan di atas kertas-kertas itu. Sidang S2. Lalu, dua minggu kemudian, hari jadi. Lalu siaran. Lalu kebun.

Ada juga pemanas air baru di kamar mandi belakang. Muncul begitu saja minggu lalu. Putih, mengilap, dengan tombol merah kecil. Aku menekannya, dan air hangat mengalir dari pancuran.

“Akhirnya,” kataku padanya saat makan malam, tertawa. “Kamu nggak perlu masak air jam setengah lima lagi.”

Ia tersenyum. Senyum yang pelan, sedikit terlambat.

“Iya,” katanya. “Nggak perlu lagi.”

Aku senang. Aku sungguh senang. Ia akhirnya bisa tidur sampai subuh. Aku bahkan menulisnya di buku biru, dengan tanda seru.


Kiki melatih naskahku di studio setiap sore.

Masalahnya, naskah yang Kiki tulis untukku terlalu mengerikan untuk dibacakan siapa pun.

“Pak Tani,“ baca Kiki dengan suara penuh perasaan, memegang kertas di depan dadanya, “kau adalah padi yang menunduk di sawah hatiku, mencari sinyal cinta yang selama ini—“

“Ki. Stop.”

“Belum selesai! —yang selama ini tertutup awan duka, dan kini—“

“Ki, aku mau muntah.”

Pak Bonar mengintip dari balik kaca, menggeleng-geleng, lalu mengetuk. “Itu jelek kali, Kiki! Aku pun tak sanggup dengarnya!”

Akhirnya aku membuang naskah Kiki dan menulis sendiri. Bukan di kertas. Di kepalaku. Aku tahu apa yang mau kukatakan. Aku sudah menuliskannya, satu per satu, di dua buku biru, selama tujuh bulan.


Awal Juni, Sabtu sore, aku memotong rambutnya.

Rambutnya sudah terlalu panjang, berantakan di tengkuk, menutupi telinga. Ia bilang akan ke tukang cukur. Aku bilang tidak usah. Aku bisa.

Aku tidak bisa. Aku tidak pernah memotong rambut siapa pun. Tapi aku menyuruhnya duduk di kursi plastik di halaman, di bawah pohon rambutan, dengan handuk di bahunya, dan aku berdiri di belakangnya dengan gunting dapur.

Ia duduk sangat diam. Tidak bergerak sama sekali, bahkan ketika guntingku terlalu dekat dengan telinganya. Aku menyisir rambutnya dengan jari. Tebal. Kasar. Berbau sabun batang dan matahari.

Aku memotong pelan-pelan. Helai demi helai. Jatuh ke handuk di bahunya, ke tanah, ke kakiku. Aku bisa melihat tengkuknya dari dekat, kulit yang terbakar matahari, tahi lalat kecil di bawah telinga kanan yang tidak pernah kuperhatikan.

Aku bisa mendengar napasnya. Pelan. Tertahan.

“Mas,” kataku.

“Hm.”

“Kalau jelek, jangan marah.”

“Nggak akan.”

“Kalau jelek banget?”

“Nggak akan, Ra.”

Rambutnya jadi jelek. Miring di sebelah kiri, terlalu pendek di belakang. Dodi, yang datang sore itu, memandanginya dan tertawa sampai terjatuh dari kursi teras.

Ia memandang bayangannya di kaca jendela lama. Lalu memandangku.

“Terima kasih,” katanya. Lalu ia menyentuh tengkuknya yang miring, dan tersenyum seperti orang yang baru diberi hadiah.


Malam itu, ketika ia sedang mandi, aku melihat tas punggungnya tergeletak di kursi makan, ritsletingnya terbuka sedikit.

Dari celah itu menyembul ujung amplop putih. Amplop resmi, tebal, dengan kop yang sebagian terlihat. Huruf-huruf hitam. Kantor Notaris…

Tanganku berhenti di atas tas itu.

Setahun lalu, aku akan membukanya tanpa berpikir. Tiga bulan lalu, aku membuka lemarinya di tengah malam dan menemukan handuk pink dan ponsel jadul. Sebulan lalu, Tante membongkar rekening bank untuk menemukan siapa yang membayar rumah Papa.

Selama setahun ini, aku menemukan semua tentang dirinya dengan mencari. Dari laci. Dari lemari. Dari orang lain.

Aku menarik tanganku.

Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menemukan. Aku ingin ditunjukkan.

Aku menutup ritsleting tas itu pelan-pelan, sampai amplop putih itu tidak kelihatan lagi, dan pergi ke dapur untuk menyeduh teh. Dua gelas. Hangatnya pas.