Chapter Ten

Hari Ketiga Puluh

POV: Rania

Wortelnya dipotong bentuk bunga.

Itu yang pertama kulihat ketika menarik nampan ke dalam malam itu. Mangkuk putih, kuah bening keemasan, potongan ayam kampung, bawang goreng yang banyak sekali, dan di antaranya, irisan-irisan wortel berbentuk bunga. Kelopaknya tidak rata. Ada yang empat, ada yang enam. Tapi bunga.

Aku duduk di lantai dengan mangkuk itu di pangkuanku, dan mencicipinya satu sendok.

Lalu aku berhenti bernapas.

Pala sedikit. Bawang goreng banyak. Kaldunya bening tapi dalam, seperti dimasak dengan sabar. Rasa yang terakhir kucicipi waktu umurku dua belas tahun, demam tinggi di kamar lantai atas Rumah Matahari, dengan Mama duduk di tepi kasur meniup setiap sendok sebelum menyuapkannya ke mulutku.

Sup ayam Mama.

Tidak ada yang bisa membuatnya lagi sejak Mama pergi. Papa pernah mencoba dua kali, dan dua-duanya kami buang diam-diam. Hanya Tante yang tahu resepnya, dan Tante tidak pernah mau memasaknya lagi. Terlalu sakit, katanya dulu.

Tante pasti yang membuatnya. Tante pasti menitipkannya. Siapa lagi?

Aku menangis tanpa suara, dan menghabiskan setiap tetes. Bahkan bawang gorengnya. Bahkan kuahnya, yang kuminum langsung dari mangkuk seperti anak kecil, sampai daguku basah.


Empat hari berikutnya, sesuatu di dalam diriku bergeser. Tidak banyak. Seperti perabot berat yang didorong satu jengkal.

Aku mulai makan setengah piring. Aku mandi setiap hari. Aku mulai berjalan di dalam kamar, dari kasur ke jendela, dari jendela ke rak buku, seperti orang yang belajar berjalan lagi setelah sakit panjang. Kakiku gemetar di hari pertama.

Di rak buku aku menemukan buku tebal bersampul hijau: Fisiologi dan Teknologi Benih. Penulisnya Prof. Dr. Hartono Adiwijaya. Papa. Aku tidak tahu Papa pernah menulis buku setebal ini. Aku tidak pernah bertanya tentang pekerjaan Papa lebih jauh dari capek, Pa?

Halaman-halamannya penuh coretan pensil, tulisan tangan kecil dan rapi yang condong ke kanan, sama persis dengan tulisan di catatan-catatan pagiku. Di satu halaman, di samping paragraf tentang benih dorman, ada catatan kecil: Tanya Prof: apakah benih yang tidur terlalu lama masih ingat caranya tumbuh? Di bawahnya, dengan tinta biru, ada tulisan tangan Papa yang besar dan miring: Ingat. Dia cuma butuh diingatkan.

Aku menutup buku itu dan memeluknya lama. Aku membuka laci meja dan mengeluarkan semua catatan yang selama ini kuletakkan di sana tanpa berpikir.

Aku menyusunnya di kasur, berurutan dari yang pertama.

Buat campuran mandi, airnya dingin.

Nasinya agak keras. Maaf.

Kota ini tidak pernah ingkar janji.

Bunga matahari Papa sudah kusiram semua.

Hari ini tidak ada tebak-tebakan. Aku kehabisan.

Kemarin tehnya habis. Terima kasih.

Dua puluh sembilan lembar. Satu untuk setiap hari aku berada di balik pintu ini. Dua di antaranya tulisan tangan yang lain, besar-besar dan miring ke kiri, dengan tebak-tebakan tentang ikan lele yang lebih jelek dari semua tebak-tebakan lainnya. Tidak ada satu hari pun yang terlewat. Tidak ada satu lembar pun yang meminta apa-apa. Tidak ada keluarlah, tidak ada makanlah, tidak ada kamu harus. Hanya cuaca, nasi, dan tebak-tebakan jelek, setiap pagi, seperti seseorang yang terus menyalakan lampu di beranda untuk orang yang belum tentu pulang.

Di hari kedua puluh sembilan, malam-malam, aku membalik lembar terakhir. Bagian belakangnya kosong.

Aku mengambil pulpen dari tas kecil yang kubawa dari Rumah Matahari. Di dalam tas itu ternyata ada buku catatan siaranku yang bersampul biru. Aku tidak ingat pernah memasukkannya. Aku memandanginya sebentar, lalu menyisihkannya.

Di balik lembar kedua puluh sembilan, aku menulis satu kata.

Makasih.

Aku melipatnya, meletakkannya di atas nampan kosong, dan menaruh nampan itu di bangku depan pintu.


Hari ketiga puluh, aku bangun sebelum subuh.

Kamar masih gelap. Aku berbaring memandangi langit-langit, mendengarkan kokok ayam tetangga dan bunyi panci dari dapur, lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh hari, aku bangkit dan membuka gorden.

Jendela itu menghadap halaman samping. Langit di atas atap rumah-rumah di seberang masih biru tua, tapi di belakang rumah ini, di timur, cahaya sudah mulai naik.

Di tanah di bawah jendelaku, ada dua belas batang tanaman muda.

Tingginya kira-kira selututku. Batangnya hijau dan berbulu halus, daunnya lebar berbentuk hati. Aku tahu tanaman apa itu. Aku tumbuh di antara ratusan tanaman seperti itu. Bunga matahari muda, belum berbunga, kuncupnya masih tersembunyi di antara daun-daun teratas.

Dan semuanya, kedua belas batang itu, menoleh ke arah timur. Ke arah datangnya pagi.

Ke arahku.

Aku tidak tahu siapa yang menanamnya. Rumah ini memang penuh bibit; mungkin itu salah satu dagangannya. Mungkin kebetulan. Tapi berdiri di jendela itu, dengan tangan menempel di kaca yang dingin dan dua belas tanaman muda mendongak padaku seperti murid-murid kecil menunggu bel, aku merasakan sesuatu yang tidak kurasakan selama tiga puluh hari.

Aku merasa dilihat.

Aku berdiri di sana lama sekali, dan berpikir.

Papa minta aku tetap hidup. Bukan dengan kata-kata itu, tapi itu maksudnya, setiap kali ia bilang senyum dulu, Neng. Gilang minta aku tetap tertawa. Mama, dulu sekali, minta aku menjaga Papa, dan aku sudah gagal.

Hidup harus dijalani. Aku tahu itu. Aku akan bangun, mandi, makan, menyapu lantai, menyetrika kemeja. Aku akan menjadi istri yang baik untuk laki-laki itu, karena Papa memintanya, dan karena laki-laki itu sudah memberi makan seorang mayat selama tiga puluh hari tanpa sekali pun mengeluh.

Tapi cinta sudah selesai.

Gilang membawa separuhnya. Papa membawa sisanya. Yang tertinggal di dalam diriku hanya ruang kosong yang bentuknya persis seperti mereka, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke sana. Mencintai adalah cara paling pasti untuk kehilangan. Aku sudah belajar itu tiga kali.

Tidak akan ada yang keempat.


Tok. Tok. Tok.

Pukul enam kurang lima. Bunyi nampan diletakkan di bangku.

Aku berdiri di balik pintu. Tanganku terangkat. Aku memandanginya, tanganku sendiri, seperti memandangi tangan orang lain. Lalu aku mengetuk.

Tok. Tok. Tok.

Dari dalam. Untuk pertama kalinya.

Di luar, ada bunyi napas yang tertarik tajam. Lalu tidak ada bunyi apa-apa, lama sekali, seolah orang di balik pintu takut bergerak, takut kalau ia bergerak sedikit saja, semua ini akan hilang.

Aku memutar kunci. Klik. Aku membuka pintu.

Ia masih di sana, setengah membungkuk di atas bangku, kedua tangan masih memegang pinggir nampan. Ia membeku dalam posisi itu.

Kami saling memandang. Lama. Aku melihat jakunnya naik turun. Aku melihat jari-jarinya di pinggir nampan memutih karena mencengkeram terlalu keras.

“…Selamat pagi,” katanya akhirnya. Suaranya pecah di tengah, seperti suara orang yang lama tidak bicara, padahal akulah yang lama tidak bicara.

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya aku benar-benar melihatnya. Laki-laki kurus berkemeja kotak-kotak pudar, rambut berantakan, lingkaran hitam di bawah mata yang kelihatannya sudah lama tidak tidur dengan benar. Wajah biasa. Wajah yang tidak akan diingat siapa pun kalau berpapasan di pasar. Tapi matanya tidak berani menatapku lama, seolah aku terlalu terang untuk dipandang langsung.

Di belakangnya, lewat pintu depan yang terbuka, laki-laki gempal berkacamata sedang menyiram halaman. Selang di tangannya. Ia menoleh ke arahku, mulutnya terbuka, dan selang itu ikut menoleh, menyemprot tepat ke wajahnya sendiri.

“Astaghfirullah—“ Ia gelagapan, kacamatanya berembun. “Mbak… Mbak Rania… cantik—eh! Maksud saya, selamat pagi! Selamat pagi, Mbak!”

“Dod,” kata laki-laki di depanku pelan, tanpa menoleh. “Selangnya.”

Aku melihat bayanganku di kaca lemari di ruang tengah. Perempuan kurus berjaket abu-abu kebesaran, rambut panjang kusut yang belum disisir, pipi cekung, bibir pecah-pecah. Lesung pipiku masih di sana, kata kaca itu, walaupun sudah lama tidak dipakai. Aku tidak tahu siapa perempuan itu. Tapi Dodi masih memandanginya dengan wajah basah, seperti orang yang melihat sesuatu yang tidak ia sangka masih ada.


Di meja makan ada dua piring. Dua sendok, dua gelas. Piring kedua bersih mengilap, tertelungkup, menunggu.

Aku memandanginya.

“Dia nyiapin dua piring tiap pagi, Mbak.” Dodi muncul di ambang pintu, meneteskan air ke lantai. “Sebulan. Terus siangnya piring yang satu dicuci lagi, padahal bersih. Gue kira dia kena gangguan—“

“Dod.”

“Iya, iya. Gue nyiram lagi.”

Aku berbalik menghadap laki-laki itu. Ia masih berdiri di dekat bangku, nampan di tangannya sekarang, seperti tidak tahu harus meletakkannya di mana.

Aku sudah menyiapkan kalimat ini sejak subuh. Aku mengucapkannya dengan suara yang masih serak, tapi tidak bergetar.

“Aku akan jadi istri yang baik. Aku akan masak, beres-beres, apa saja yang harus dilakukan istri.” Aku menatap matanya, dan kali ini ia tidak memalingkan wajah. “Tapi jangan pernah berharap aku mencintaimu. Aku sudah tidak punya itu lagi.”

Hening. Dari halaman, bunyi air dari selang Dodi berhenti.

Lalu ia tersenyum.

Bukan senyum terluka. Bukan senyum terpaksa. Senyum pelan dan hangat, seperti matahari jam tujuh pagi yang masuk diam-diam lewat jendela, yang tidak menyilaukan, yang tidak meminta apa-apa.

“Iya,” katanya. “Pelan-pelan saja, Ra. Aku nggak ke mana-mana.”

Ia meletakkan nampan di meja, di depan piring kedua.

“Aku sudah makan. Kalau kamu mau makan sendiri, aku di halaman.”

Lalu ia keluar, mengambil selang dari tangan Dodi, dan mulai menyiram bibit-bibitnya, membelakangiku, seolah tidak ada yang luar biasa baru saja terjadi.

Dodi masuk dengan kaus basah kuyup, mengelap kacamata dengan ujung kaus yang juga basah, sehingga kacamatanya malah makin buram. Ia mengulurkan tangan dengan gaya resmi.

“Dodi, Mbak. Teman lab. Saksi nikah. Yang pakai batik lele.”

Aku ingat batik itu. Ikan-ikan lele yang berenang ke segala arah di ruangan berbau alkohol.

“Saya juga yang nganter nampan dua hari waktu dia ke Cianjur,” lanjutnya. “Yang ketuknya tujuh kali. Maaf. Kebablasan.”

“Yang nulis ikan lele-lagu,” kataku.

Dodi membeku. Lalu wajahnya berubah cerah seperti anak SD yang namanya disebut guru. “Mbak baca? Nilainya berapa?”

“Nol.”

Dodi memegangi dadanya seperti tertembak, lalu keluar lagi ke halaman sambil berteriak, “Jar! Nol, Jar! Tapi dia ngasih nilai!”

Itu bukan lelucon. Itu hanya kebiasaan lama yang keluar sendiri, seperti kaki yang masih hafal anak tangga di rumah yang sudah dijual. Tapi di halaman, aku melihat punggung berkemeja kotak-kotak itu berhenti bergerak, dan selang di tangannya menyiram satu polybag yang sama lama sekali.

Aku mengangkat tudung saji. Nasi hangat, telur dadar, dan tumis kangkung. Telur dadarnya tebal, digoreng dengan bawang daun, persis seperti yang dulu Papa buat setiap Minggu pagi. Aku makan setengah piring, pelan-pelan, sendirian di meja untuk dua orang.

Ra.

Tidak pernah ada yang memanggilku begitu. Papa memanggilku Neng. Gilang memanggilku Nia. Kiki memanggilku Ran. Satu kota memanggilku dengan nama lengkap di udara setiap pagi. Ra terdengar seperti seseorang yang menyimpan namaku baik-baik, hanya memakai sebagian kecil, supaya sisanya tidak cepat habis.

Di atas nampan ada catatan baru. Lembar ketiga puluh.

Cuaca: cerah. Untuk pertama kalinya sebulan ini.

Sama-sama.

Ia membaca catatanku. Ia membalasnya. Dua kata yang terlalu sederhana untuk membuat dadaku sesak seperti ini.

Aku duduk di depan piring kedua, memegang kertas itu, dan memandangi punggungnya lewat jendela. Kemeja kotak-kotak pudar. Selang yang bocor di tengah. Bunga-bunga matahari muda yang mendongak ke arah rumah.

Aku tidak tahu kenapa laki-laki yang baru saja kutolak bisa tersenyum seperti itu.