Chapter Thirty One
Semua yang Kucintai
POV: Rania
Badai datang pukul empat sore, persis seperti kata prakiraan cuaca.
Langit di atas Ciapus berubah dari kelabu menjadi hijau tua, warna yang tidak pernah kulihat sebelumnya, seperti memar. Angin datang lebih dulu dari hujan, menggoyang pohon rambutan di depan rumah sampai dahan-dahannya berderak, menerbangkan jemuran Bu Imas ke atap kami. Lalu hujan. Bukan hujan Bogor yang biasa. Hujan yang turun miring, keras, menghantam atap seng dapur seperti kerikil yang dilempar dari langit.
Pukul lima, ia belum pulang.
Biasanya ia pulang pukul setengah lima. Kadang pukul lima, kalau ada eksperimen yang harus ditunggu. Tidak pernah lebih dari itu tanpa mengirim pesan. Pulang telat, Ra. Makan duluan. Selalu. Sepuluh bulan, tidak pernah sekali pun lupa.
Pukul lima lewat lima belas, aku mengirim pesan. Mas, di mana? Lalu satu lagi. Mas? Lalu satu lagi, hanya tanda tanya.
Centang satu. Abu-abu.
Pukul setengah enam, aku meneleponnya. Nada sambung tidak terdengar. Yang terdengar suara perempuan rekaman: Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Aku berdiri di tengah ruang tengah dengan ponsel di tangan, dan seluruh tubuhku menjadi dingin.
Aku tahu ini bodoh. Aku tahu ada seribu alasan kenapa ponsel seseorang mati. Baterai habis. Sinyal hilang karena badai. Ponsel terjatuh ke ember di lab.
Tapi tubuhku tidak tahu itu. Tubuhku hanya tahu satu hal.
Hujan. Jalan licin. Laki-laki di dalam mobil yang tidak mengangkat telepon.
Dan pukul lima lewat dua belas, nomor tidak dikenal.
Aku menunggu nomor tidak dikenal itu. Aku duduk di kursi makan, ponsel di meja di depanku, layar menghadap ke atas, dan menunggu dering itu datang. Setiap detik terasa seperti satu jam. Setiap kilat di jendela membuat jantungku berhenti. Aku mencoba mengatur napas seperti yang dulu ia lakukan di bahu jalan sebelum Ciawi, diam dan pelan, tapi napasku tidak mau menurut.
Pukul enam, aku menelepon lab. Tidak ada yang mengangkat.
Pukul enam lewat sepuluh, aku menelepon Dodi.
“Mbak? Kenapa?”
“Dia sama kamu?”
“Nggak, Mbak. Gue di kos. Dia masih di kampus kayaknya. Tadi siang dia bilang mau ke rumah kaca, atapnya bocor—“
“Ponselnya mati, Dod. Nggak bisa dihubungi. Lab nggak ada yang angkat.”
Hening di seberang. Lalu suara Dodi berubah. “Gue ke kampus sekarang, Mbak.”
Pukul enam lewat dua puluh, aku menelepon Kiki. Aku tidak ingat apa yang kukatakan. Kiki bilang belakangan, aku hanya mengulang-ulang satu kalimat: dia nggak angkat telepon, Ki, dia nggak angkat.
Pukul enam lewat empat puluh, aku menelepon rumah sakit. Dua rumah sakit. Tiga. Aku bertanya apakah ada pasien kecelakaan atas nama Fajar Nugraha. Perawat di seberang memintaku menunggu, lalu kembali dan bilang tidak ada. Aku tidak merasa lega. Aku hanya menelepon rumah sakit berikutnya.
Di sela-sela telepon, aku membuka laci dan mengeluarkan buku biru. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena tanganku butuh sesuatu untuk dipegang. Aku membuka halaman-halamannya dan membaca nomor-nomor itu dengan bibir bergerak tanpa suara, seperti membaca doa.
Dia menyetir 30 km/jam kalau ada aku.
Dia nggak pernah lewat Jagorawi.
Dia tidur di tikar depan pintuku tiga puluh malam.
Tiga puluh lima nomor. Tiga puluh lima hal yang tidak pernah ia katakan. Dan malam ini aku tidak tahu apakah aku akan sempat mengatakan satu pun padanya.
Kiki dan Dodi tiba pukul tujuh, bersama, dengan motor Dodi.
Dodi memakai jas hujan plastik berwarna hijau terang dengan tudung yang di depannya ada dua mata besar dan mulut lebar. Jas hujan kodok. Jas hujan anak-anak, dibeli di minimarket dalam keadaan darurat karena itu satu-satunya yang tersisa dalam ukurannya.
Di keadaan lain, aku akan tertawa sampai jatuh. Malam itu aku hanya memandangnya dengan wajah kosong.
“Rumah kaca kosong, Mbak,” kata Dodi, terengah, air menetes dari mata kodok di dahinya. “Lampunya mati. Satpam bilang dia pulang setengah tujuh. Naik Si Siput.”
Setengah tujuh. Sekarang pukul tujuh. Perjalanan dari kampus ke Ciapus, tiga puluh kilometer per jam, empat puluh menit. Lewat Parung, lebih lama. Dalam badai, lebih lama lagi.
“Berarti dia di jalan,” kata Kiki, memelukku dari samping. “Ran. Dia di jalan. Dia lagi nyetir pulang.”
Di jalan. Dalam badai. Di dalam mobil.
Aku melepaskan diri dari pelukan Kiki dan berjalan ke teras.
“Ran! Hujan!”
Aku tidak peduli. Aku berjalan menembus teras, menuruni anak tangga, keluar ke halaman, ke depan pagar, ke mulut gang. Hujan langsung membasahiku sampai ke tulang dalam hitungan detik. Payung kuning masih bersandar di dinding di samping pintu. Aku tidak mengambilnya.
Aku berdiri di mulut gang, memandangi jalan yang gelap, menunggu sepasang lampu yang bergerak sangat pelan.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.
Kiki berdiri di belakangku dengan payung, memohon aku masuk. Dodi berdiri di sampingnya dengan jas hujan kodok, diam. Bu Imas keluar dari rumahnya, memandangku, lalu masuk lagi dan keluar membawa handuk yang tidak kupakai.
Lampu-lampu mobil lewat. Satu. Dua. Lima. Semuanya terlalu cepat. Semuanya bukan dia.
Lalu, pukul delapan kurang sepuluh, sepasang lampu kuning muncul di ujung jalan. Bergerak sangat pelan. Seperti siput.
Melodi lagu ulang tahun terdengar samar di balik hujan, ketika mobil itu membunyikan klakson pada seekor kucing yang menyeberang.
Aku tidak sadar aku berlari. Aku hanya tahu aku sudah berdiri di depan Si Siput sebelum mobil itu berhenti sepenuhnya, dan ia menginjak rem mendadak, dan pintu sopir terbuka, dan ia keluar dengan wajah panik.
“Ra?! Kamu ngapain di luar—“
Ia basah. Kemejanya kotor oleh tanah. Di jok belakang ada kardus-kardus yang dibungkus plastik, ditumpuk rapi. Ia baik-baik saja. Ia utuh. Ia berdiri di depanku di bawah hujan dengan wajah bingung dan khawatir, seperti biasa, seperti orang yang tidak tahu bahwa selama dua jam terakhir dunia sudah berakhir berkali-kali.
“Ponselmu,” kataku. Suaraku keluar aneh. Terlalu tinggi. “Ponselmu mati.”
Ia merogoh saku, mengeluarkan ponselnya, memandang layarnya yang hitam. “Baterainya habis. Aku lupa ngecas. Tadi atap rumah kaca bocor, airnya masuk ke rak, aku harus mindahin benih-benih Papa ke kardus satu-satu—“
“Kamu lupa ngecas.”
“Maaf, Ra. Aku—“
“KAMU LUPA NGECAS?”
Aku tidak mengenali suaraku sendiri.
“Ponselku nggak pernah mati!” Aku tidak bisa berhenti. Kata-kata keluar seperti air dari bendungan yang jebol. “Setahun! Setahun ponselku nggak pernah mati sekali pun! Aku tinggalin di meja tiga persen, paginya penuh! Aku tahu itu kamu! Aku tahu semuanya kamu! Kamu ngecas ponselku tiap malam, dan ponselmu sendiri kamu lupain!”
Ia berdiri membeku di bawah hujan.
“Berhenti!” Aku memukul dadanya. Tidak keras. Tanganku tidak punya tenaga. “Berhenti baik sama aku! Berhenti! Aku nggak bisa bayar semua ini, Mas! Air hangat, sup, sawah, payung, tikar, ponsel, semuanya! Aku nggak bisa bayar!”
“Ini bukan utang, Ra.” Suaranya pelan, tenang, seperti selalu. “Nggak ada yang perlu dibayar.”
“Mak bilang hidup itu gantian! Papa nolong kamu, kamu nolong aku! Udah, Mas! Udah lunas! Utangmu ke Papa udah lunas dari dulu! Kamu nggak perlu lagi—“
Aku berhenti. Napasku tersengal. Hujan masuk ke mulutku.
Ia membuka mulut, mungkin untuk mengatakan sesuatu yang menenangkan. Mungkin untuk mengatakan kalimat yang selalu ia ucapkan, kalimat yang ia ucapkan di pagi hari ketiga puluh, di ranjang rumah sakit ketika aku memanggil nama yang salah.
Aku tidak membiarkannya.
“Jangan,” kataku. “Jangan bilang kamu nggak ke mana-mana.”
Ia membeku.
“Gilang juga bilang gitu. Telat setengah jam, Nia. Sampai ketemu. Papa juga bilang gitu. Papa nggak apa-apa, Neng, cuma capek.“ Aku tertawa. Tawa yang jelek dan pecah, bukan tawa yang kambing keselek, tawa orang yang sedang hancur. “Mama juga. Semua bilang gitu. Semua bilang nggak ke mana-mana.”
Aku memandangnya. Air hujan mengalir di wajahku, bercampur dengan sesuatu yang lain.
“Semua yang kucintai mati, Mas,” bisikku. “Semuanya.”
Ia tidak menjawab.
Ia berdiri di sana di bawah hujan, di depan Si Siput yang lampunya masih menyala, dan memandangku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Bukan marah. Bukan terluka. Seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang sudah lama ia takutkan, dan sekarang, akhirnya, mendengarnya.
Aku tidak tahu apa yang ia dengar.
Aku tahu apa yang kumaksud. Aku bermaksud: aku mencintaimu, dan aku takut. Aku sangat takut. Kalau kamu pergi juga, aku tidak akan selamat. Aku bermaksud: dua jam tadi, aku sudah kehilanganmu berkali-kali di kepalaku, dan setiap kali rasanya lebih buruk dari kamar jenazah.
Tapi yang keluar dari mulutku hanya kalimat itu. Semua yang kucintai mati. Dan aku tidak sanggup menambahkan apa pun.
Di belakangku, Kiki menangis pelan. Dodi berdiri dengan tudung kodok yang meneteskan air, wajahnya serius untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.
Ia bergerak.
Ia berjalan ke teras, mengambil handuk dari tangan Bu Imas yang entah sejak kapan berdiri di sana, lalu kembali padaku. Ia tidak bicara. Ia mengangkat handuk itu dan meletakkannya di kepalaku, dan mulai mengeringkan rambutku. Pelan. Hati-hati. Seperti mengeringkan sesuatu yang bisa rusak kalau digosok terlalu keras.
Aku membiarkannya.
Aku berdiri di bawah hujan dengan handuk di kepala dan tangannya di atas handuk itu, dan tidak bergerak, dan tidak bicara, dan menangis tanpa suara sampai hujan dan air mataku tidak bisa dibedakan lagi.
Lalu aku berbalik dan masuk ke rumah. Ke kamarku. Aku menutup pintu.
Tidak kukunci.
Kiki dan Dodi pulang pukul sembilan, setelah memastikan semua orang sudah ganti baju kering dan minum teh hangat. Kiki memelukku lama di ambang pintu kamar. Dodi berdiri di lorong dengan jas hujan kodok tersampir di lengan, memandang ke arah ruang kerja.
“Mbak,” bisiknya sebelum pergi. “Dia tadi bawa pulang benih-benih Prof. Semuanya. Dibungkus plastik satu-satu. Tangannya luka kena seng atap.” Dodi diam sebentar. “Dia milih benih Prof daripada ngecas HP. Biar Mbak tahu aja.”
Aku menutup pintu kamarku, duduk di meja di bawah jendela, dan membuka buku biru.
Halaman terakhirnya sudah terisi. Aku membaliknya bolak-balik. Tidak ada lagi yang kosong.
Di samping buku itu, di samping foto Papa, ada buku biru yang lain. Baru. Sampulnya polos tanpa logo, ukurannya sama persis. Muncul di mejaku dua minggu lalu, tanpa kata, seperti karet rambut kuning.
Aku membuka buku baru itu di halaman pertama. Tanganku gemetar.
36. Dia ngecas ponselku tiap malam. Setahun. Ponselnya sendiri dia lupain.
37. Dia bawa pulang benih-benih Papa dari rumah kaca yang bocor. Satu-satu. Tangannya luka.
38. Dia ngeringin rambutku pakai handuk. Di bawah hujan. Setelah aku teriak-teriak.
39. Dia beliin aku buku ini. Dia pikir aku nulis naskah siaran.
Aku memandangi nomor tiga puluh sembilan lama sekali.
Ia membelikan buku untuk daftar tentang dirinya sendiri. Tanpa tahu.
Di luar pintu kamarku, aku mendengar langkah kaki tanpa alas. Pelan. Berhenti di depan pintu.
Aku menunggu ketukan. Tiga kali. Pelan. Seperti dulu, setiap pagi, selama tiga puluh hari.
Tidak ada ketukan. Hanya diam yang panjang. Lalu langkah itu menjauh lagi, sangat pelan, ke ruang kerja.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai reading
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh